Beberapa tahun yang lalu, ketika pandemi COVID-19 melanda Indonesia dan mulai menyebar, hidupku berubah begitu saja. Sekolah yang biasanya ramai dengan suara teman-teman tiba-tiba diliburkan. Semua kegiatan belajar dilakukan dari rumah melalui daring. Awalnya aku mengira belajar dari rumah akan terasa menyenangkan karena tidak perlu berangkat pagi-pagi ke sekolah. Namun, ternyata yang kurasakan justru sebaliknya.
Aku mulai merasa sepi. Hal-hal yang dulu terlihat biasa, seperti bercanda dengan teman saat jam istirahat, mengobrol sebelum pelajaran dimulai, atau sekadar menyapa guru di sekolah, tiba-tiba menghilang. Semua komunikasi hanya dilakukan melalui layar handphone. Kami mengerjakan tugas, mengirim jawaban, dan bertanya kepada guru lewat media sosial atau aplikasi belajar. Rasanya berbeda. Kami memang tetap bisa saling berkomunikasi, tetapi kehangatan saat bertemu langsung tidak bisa digantikan oleh layar.
Di rumah, suasananya juga berubah. Ibuku yang biasanya bekerja di kantor mulai bekerja dari rumah. Hampir setiap hari beliau berada di depan laptop untuk mengikuti rapat atau menyelesaikan pekerjaannya. Rumah yang biasanya hanya menjadi tempat beristirahat berubah menjadi sekolah sekaligus kantor. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing, tetapi tetap berada di tempat yang sama.
Di sisi lain setiap sore setelah belajar daring selesai, televisi di ruang tamu hampir selalu menampilkan berita tentang pandemi. Rasanya setiap hari yang kulihat hanyalah angka pasien yang terus bertambah. Hampir setiap hari ada berita tentang seseorang yang kehilangan anggota keluarganya. Sebagai anak Sekolah, aku memang belum benar-benar memahami seberapa besar pandemi itu. Namun, melihat orang-orang memakai pakaian pelindung, ambulans yang hilir mudik, dan berita duka yang terus bermunculan membuatku sadar bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja.
Kebiasaan yang selama ini terasa sederhana pun berubah. Setiap kali keluar Rumah kami harus memakai masker. Kami tidak lagi bebas berjabat tangan, duduk berdekatan, atau berkumpul seperti biasanya. Rasanya aneh karena hal-hal yang dulu dianggap wajar tiba-tiba menjadi sesuatu yang harus dihindari. Aku masih ingat bagaimana kami selalu membawa hand sanitizer ke mana pun pergi dan merasa sedikit khawatir setiap kali harus bertemu orang lain. Dunia terasa begitu asing.
Namun, di balik semua rasa takut itu, aku juga melihat sisi lain dari manusia. Di media sosial banyak orang menggalang donasi untuk membeli alat pelindung diri bagi tenaga kesehatan. Ada yang membagikan makanan untuk Warga yang sedang menjalani isolasi mandiri. Tetangga saling membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa diminta. Bahkan dari berita yang kutonton, banyak negara saling mengirim bantuan berupa masker, alat kesehatan, dan kebutuhan medis lainnya. Saat itu aku merasa bahwa meskipun semua orang harus menjaga jarak secara fisik, hati mereka justru terasa lebih dekat.
Pandemi seolah mengingatkan bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri. Di tengah keadaan yang sulit, banyak orang rela meluangkan waktu, tenaga, bahkan hartanya untuk membantu orang lain yang belum pernah mereka kenal. Aku menyadari bahwa gotong royong bukan hanya tentang bekerja bersama di satu tempat, tetapi juga tentang hadir ketika orang lain sedang membutuhkan.
Sekarang semuanya sudah berubah. Jalanan kembali ramai, sekolah kembali dipenuhi suara para siswa, dan kantor kembali berjalan seperti biasa. Masker sudah tidak lagi menjadi kewajiban di banyak tempat. Kehidupan perlahan kembali normal. Namun, ada satu pertanyaan yang sering muncul di pikiranku: apakah rasa peduli yang pernah tumbuh saat pandemi juga ikut menghilang?
Hari ini kita memang lebih bebas bertemu siapa saja. Akan tetapi, terkadang aku merasa kita justru semakin sibuk dengan dunia masing-masing. Di ruang tunggu, di kendaraan umum, bahkan ketika berkumpul bersama teman, tidak sedikit orang yang lebih banyak menatap layar handphone daripada saling menyapa. Kita bisa mengetahui kabar seseorang hanya lewat unggahan media sosial, tetapi lupa menanyakan secara langsung apakah mereka benar-benar baik-baik saja.
Hal itu membuatku teringat pada masa pandemi. Saat itu orang-orang tidak bisa saling mendekat, tetapi mereka berusaha saling menjaga. Sekarang kita bisa bertemu tanpa rasa takut, tetapi perhatian kecil seperti menanyakan kabar atau menawarkan bantuan justru terasa semakin jarang. Padahal, di tengah banyaknya pembahasan tentang kesehatan mental saat ini, mungkin yang dibutuhkan seseorang bukan hanya nasihat, melainkan perasaan bahwa masih ada orang yang peduli dan bersedia mendengarkan.
Pandemi mengajarkanku bahwa kepedulian tidak selalu harus diwujudkan melalui hal-hal besar. Menanyakan kabar, menemani teman yang sedang kesulitan, atau sekadar menjadi pendengar yang baik juga merupakan bentuk gotong royong. Nilai itu pernah terasa begitu hidup ketika dunia sedang berada di masa yang sulit. Karena itulah, sampai hari ini aku merasa belum benar-benar bisa melepaskannya.
Kalau ada yang masih membuatku "gamon", ternyata bukan pandemi, bukan masker, dan bukan kebiasaan belajar dari rumah. Aku hanya belum bisa melupakan bagaimana rasa peduli pernah menjadi sesuatu yang begitu nyata. Rasanya sayang jika pelajaran berharga itu ikut hilang bersamaan dengan berakhirnya pandemi. Bagiku, mungkin itulah hal yang seharusnya tetap kita bawa hingga hari ini.

Keren sih kak tia
ReplyDelete