Belum Benar-Benar Selesai



Kalau ada yang bertanya apa keputusan paling berani yang pernah kuambil, jawabanku bukan memilih jurusan kuliah atau kampus impian, melainkan tetap memilih jalan yang kuinginkan meskipun orang-orang terdekat memiliki harapan yang berbeda.

Setelah lulus SMA, aku berada di persimpangan yang membuatku tumbuh lebih cepat daripada usiaku. Di satu sisi, keluargaku berharap agar aku melanjutkan kuliah di Bali. Di sisi lain, aku memiliki alasan yang tidak bisa kutinggalkan begitu saja. Aku ingin tetap di Jawa, tinggal bersama nenek yang telah merawatku sejak kecil. Bagiku, memilih kuliah di Jawa bukan hanya tentang pendidikan, melainkan tentang membalas kasih sayang seseorang yang telah menjadi rumah ketika hidup terasa tidak sederhana.

Mempertahankan pilihan itu bukan perkara mudah. Aku sempat mendengar banyak keraguan, baik dari orang lain maupun dari diriku sendiri. Kadang-kadang aku bertanya, "Apa aku terlalu keras kepala? Apa aku sedang mengambil keputusan yang salah?" Namun, semakin kupikirkan, semakin aku sadar bahwa tidak semua keputusan hidup bisa membuat semua orang bahagia. Terkadang, menjadi dewasa berarti berani bertanggung jawab atas pilihan yang kita yakini.

Hari ketika aku dinyatakan diterima di kampus yang kuinginkan menjadi bukti bahwa keyakinan memang pantas diperjuangkan. Aku bahagia, tetapi kebahagiaan itu bukanlah garis akhir. Justru setelah itulah aku bertemu dengan tantangan yang tidak pernah kupersiapkan.

Ternyata, aku sangat kesulitan beradaptasi.

Semester pertama terasa begitu sunyi. Setiap hari, rutinitasku hampir sama: datang ke kampus, mengikuti kelas, lalu pulang. Ketika melihat teman-teman lain bercanda dan tertawa sebenarnya membuatku ingin bergabung. Namun, setiap kali ingin memulai percakapan, ketakutan selalu muncul lebih dulu.

Bagaimana kalau mereka tidak menyukaiku?

Bagaimana kalau kehadiranku justru mengganggu?

Belakangan aku sadar, tidak ada seorang pun yang benar-benar mengatakan hal itu kepadaku. Semua ketakutan itu lahir dari pikiranku sendiri. Aku terlalu sibuk menebak isi kepala orang lain hingga lupa memberi diriku kesempatan untuk benar-benar mengenal mereka.


Perlahan, aku mulai memahami bahwa rasa sepi tidak selalu hadir ketika tidak ada orang di sekitar kita. Terkadang, kesepian muncul karena kita sendiri yang menciptakan jarak.

Keadaan mulai berubah ketika UAS semester pertama tiba. Aku tidak mendapatkan kelompok karena jumlah mahasiswa perempuan di kelas kami ganjil. Dengan rasa gugup, aku memberanikan diri mengajak seorang teman laki-laki untuk menjadi pasangan kelompokku.

Siapa sangka, keputusan kecil itu mengubah banyak hal.

Dari tugas-tugas yang kami kerjakan bersama, obrolan yang awalnya hanya membahas seputar perkuliahan perlahan berubah menjadi cerita tentang kehidupan. Aku menemukan rasa nyaman yang selama ini tidak pernah kurasakan sejak menjadi mahasiswa.

Mungkin karena terlalu lama merasa sendiri, aku tanpa sadar menggantungkan banyak hal kepadanya. Ia bukan hanya menjadi seseorang yang kusayangi, tetapi juga tempatku bercerita, meminta bantuan, dan merasa bahwa keberadaanku berarti.

Saat itu, aku mengira itulah cinta.

Sekarang aku memahami bahwa sebagian dari rasa itu sebenarnya adalah ketakutanku sendiri. Aku takut kembali menjadi seseorang yang tidak memiliki siapa-siapa.

Ada satu kejadian yang membuatku kecewa. Ketika aku berharap ia membantuku, keadaan justru membuatnya membantu teman yang lain. Saat itu, aku merasa tidak dipilih. Aku merasa tidak sepenting itu.

Butuh waktu cukup lama hingga aku mengetahui bahwa keadaan saat itu tidak sesederhana yang kulihat. Ia tidak sedang mengabaikanku. Ia hanya berada dalam situasi yang mengharuskannya mengambil keputusan berbeda.

Dari situ aku belajar satu hal yang sampai hari ini masih kuingat: tidak semua kekecewaan lahir karena seseorang berhenti peduli. Terkadang, kita hanya melihat hidup dari sudut pandang kita sendiri.

Pengalaman itu memaksaku bercermin.

Mengapa aku begitu takut ditinggalkan?

Mengapa aku begitu bergantung kepada satu orang?

Jawabannya ternyata sederhana. Karena selama ini aku terlalu ingin menemukan tempat yang membuatku merasa diterima.

Sejak saat itu aku mulai memaksa diriku keluar dari zona nyaman. Aku belajar menyapa lebih dulu, berani bertanya ketika tidak paham, ikut mengobrol, dan menerima bahwa membangun hubungan dengan orang lain memang membutuhkan waktu.

Awalnya terasa canggung. Bahkan, beberapa kali aku ingin kembali menjadi diriku yang lama. Namun, perlahan aku mulai melihat perubahan dalam diriku.

Aku memiliki teman-teman yang baik. Aku mulai merasa diterima. Kampus yang dulu terasa asing perlahan berubah menjadi tempat yang nyaman untuk pulang setiap pagi. Di titik itulah aku menyadari bahwa selama ini yang paling sering membatasi diriku bukanlah orang lain, melainkan ketakutanku sendiri.

Lucunya, ketika aku mulai memiliki duniaku sendiri, hubunganku dengannya justru menjadi lebih sehat. Kami masih saling mendukung, saling membantu ketika salah satu kesulitan memahami mata kuliah, dan saling menyemangati ketika lelah. Bedanya, kini aku tidak lagi menjadikannya satu-satunya tempat untuk bergantung.

Aku belajar bahwa hubungan yang baik bukan tentang saling memiliki, tetapi saling memberi ruang untuk bertumbuh.

Kalau hari ini aku diminta mengucapkan terima kasih, bukan hanya kepada orang-orang yang pernah hadir dalam hidupku, tetapi juga kepada semua pengalaman yang pernah membuatku menangis. Tanpa semua itu, mungkin aku tidak akan pernah belajar memperjuangkan pilihanku, berani membuka diri, atau memahami arti sebuah kepercayaan.

Sampai hari ini, sebenarnya masih ada bagian dalam diriku yang belum benar-benar selesai.

Sesekali aku masih bertemu dengan diriku yang dulu. Diriku yang takut ditolak. Diriku yang takut tidak dianggap. Diriku yang khawatir kehilangan orang-orang yang kusayangi.

Bedanya, sekarang aku tidak lagi memusuhinya. Aku memilih mendengarkannya.

Karena aku tahu, luka tidak selalu harus dilupakan agar bisa sembuh. Terkadang, luka hanya perlu diterima sebagai bagian dari perjalanan yang membentuk kita menjadi manusia yang lebih utuh.

Mungkin inilah "gamon" versiku.

Bukan tentang seseorang yang belum bisa kulepaskan.

Melainkan tentang diriku yang dulu, yang hingga hari ini masih terus belajar bahwa aku pantas diterima, pantas dicintai, dan pantas mempercayai diriku sendiri.

Penulis: Wahyu Setia Ningrum Kurator: Oca Editor: Khopipah Fauziah

Post a Comment

Previous Post Next Post