Menurut keyakinan saya…..
Pada masa kuliah, pasti ada masanya program Kuliah Kerja Nyata atau secara umum lebih dikenal dengan sebutan KKN. Pastinya di media sosial kita sudah pada bermunculan oleh perkenalan pelajar dari berbagai perguruan tinggi. Namun, jika kita telaah yang muncul di laman media sosial kita, dalam beberapa tahun belakang ada pergeseran makna yang jauh dari tujuan utama program KKN ini. Alih-alih menampilkan proses pemberdayaan pengabdian kepada masyarakat, pemecahan masalah yang ada di desa, malah menampilkan panggung hiburan personal. Memang ada beberapa liputan pengabdian, akan tetapi hal itu tidak ditonjolkan dan menjadi konsen utama dalam program mereka. Kita melihat mahasiswa yang berjoger mengikuti tren music, pamer posko, siarang langsung (live), hingga video komedi satire tentang drama kelompok KKN.
KKN pada hakikatnya Adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Tridharma Perguruan Tinggi, yakni pengabdian kepada Masyarakat. Landasannya sudah jelas yakni mengaplikasikan teori yang dipelajari di kelas, melatih kepekaan mahasiswa terhadap realita di akar rumput, serta mencoba untuk menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan yang kuat. Sayangnya, pergeseran makna budaya konten yang ada, mengubah arah tujuan semula. Divisi dokumentasi yang sejatinya mengabadikan perjalanan dan perubahan sosial di desa, kini terdegradasi menjadi tim produksi konten hiburan. Meskipun tidak semua tim menjadi seperti itu, ada beberapa juga yang masih menjalankan fungsi Tridharma Perguruan Tinggi. Masalahnya adalah siapa yang sebenarnya dibantu dan diangkat dalam proses ini? Apakah Masyarakat desa yang membutuhkan Solusi nyata, atau sekedar mencari kepuasan validasi sosial media mahasiswa?
Secara fungsinya, peran divisi dokumentasi ialah mencatat dan mengabadikan program kerja serta menyusun laporan pertanggungjawaban (LPJ). Karena dengan hal tersebut, pengabdian mereka selama 1-3 bulan terekam dan menjadi model pemberdayaan yang mungkin bisa ditiru untuk daerah lainnya. Dalam dokumentasi, mahasiswa juga harus kritis dalam mengambil perspektif yang membangun narasi di media sosial, ingat tujuan utama mereka adalah pemberdayaan. Ketika perspektif itu tidak bisa ditangkap dengan baik, maka kita sebagai pemirsa di media sosial mungkin tidak bisa menangkap maksud dan tujuan yang diharapkan kelompok tersebut. Contohnya ketika mereka lebih menyorot kesalahan masyarakat dan menyudutkan mereka sebagai agen di lingkungannya, maka yang dirugikan ialah masyarakat itu sendiri. Mahasiswa mencoba untuk membuat framing yang buruk di lingkungan tempat mereka KKN. Sesungguhnya hal itu tak patut dipertontonkan, meskipun kita yakin diluarsana pasti ada seperti itu, maka sesuatu itu tak patut disebarluaskan. Karena kita memiliki tanggung jawab moral di tempat tersebut.
Lebih berbahaya jika proses dokumenasi mengarah pada praktik poverty porn dan milking konten kemiskinan secara titdak sadar. Tentunya pandangan tersebut akan diterima berbeda oleh pengguna sosial media. Mungkin akan menimbulkan kecaman karena warga, anak kecil, hingga lansia diposisikan sebagai asset agar konten terasa menyentuh atau terkesan menggiring ke arah “kasihan”. Perspektif mahasiswa yang berinteraksi dengan warga yang di dokumentasikan tersebut hanyalah manis di layer kaca, mungkin di balik layer mereka lebih sering berada di posko dan hanya bercengkrama dengan warga hanya untuk kebutuhan dokumentasi belaka. Proses ini mengejar narasi kehangatan palsu dan pujian “mahasiswa ramah” di media sosial, tujuan utama dari Tridharma Perguruan Tinggi kurang ditonjolkan.
Fenomena pergeseran makna ini tentu tidak terjadi begitu saja. Ini Adalah hasil dari generasi yang tumbuh di dunia digital. Adanya dorongan kuat akan tren dan FOMO (Fear of Missing Out) kerap terjadi di pergulatan kelompok KKN. Mereka sering dikejar untuk selalu menjadi atensi publik di media sosial, akan tetapi tempatnya salah. KKN seharusnya menjadi tempat yang sakral semasa kuliah. Prinsip pengabdian dan pemberdayaan jangan sampai hilang dan luntur untuk generasi kedepannya. Tidak ada yang melarang mereka bersenang-senang selama masa KKN, akan tetapi konstruksi digital di media sosial akan pengabdian mahasiswa tentunya menjadi proses penting dalam masa KKN. Fokus dan tujuan mahasiswa menjadi terpecah ketika mereka masih ingin mengejar FYP (For Yout Page) dengan niche yang tidak sesuai dengan program pengabdian. Yang tidak perlu ditampilkan seharusnya tidak ditampilkan, biarkan itu menjadi ranah privat masing-masing kelompok.
Jika komoditas seperti ini dibiarkan tanpa adanya koreksi dan evaluasi moral dan kelembagaan, dampaknya akan ditanggung oleh masing-masing pihak dalam jangka Panjang. Bagi masyarakat desa tempat mereka KKN, kehadiran mahasiswa tidak akan meninggalkan jejak perubahan structural yang berkelanjutan, melainkan meninggalkan ingatan tentang pemuda yang sibuk menumpang konten di desa mereka lalu pergi begitu saja saat selesai. Bagi perguruan tinggi, citra KKN sebagai pembentuk karakter sosial dan kepekaan mahasiswa akan terus terdegradasi, berubah menjadi agenda “liburan berkedok pengabdian demi memasok konten di media sosial”.
Oleh karena itu, sudah saatnya mahasiswa melakukan refleksi modern, mengembalikan peran dokumentasi di KKN sebagai asset digital perubahan sosial dan penambung Bahasa aspirasi warga. Bukan sebagai produsen konten hiburan yang mengedepankan ego personal. Etika dan aturan dokumentasi lapangan harus diingatkan secara berkala, Dimana momen yang diabadikan haruslah menghormati struktur sosial yang ada di masyarakat tempat mereka mengabdi, katanya. Lensa kamera harus ditarik mundur dari wajah mahasiswa dan dikembalikan untuk memotret bagaimana struktur sosial di mayarakat bekerja, bertumbuh dan berdaya secara mandiri karena kehadiran mahasiswa. Bukan malah mahasiswa yang dijadikan highlight dokumentasi KKN.
Pada akhirnya kita sendiri akan sadar jika proses pengabdian ini, yaitu konten media sosial akan tenggelam dan dilupakan begitu saja ditelan algoritma beberapa hari kemudian. Akan tetapi, program yang dirancang dengan matang yang memperhatikan gejala sosial yang ada disana akan berorientasi pada berkelanjutan akan terus membekas serta akan dikenang oleh Masyarakat setempat.
Ini menurut keyakinan saya…
