Jiwa-Jiwa yang Terabaikan: Ketika Media Sosial Jadi Ruang Penghakiman bagi Penyandang Disabilitas

 

30,38 Juta Orang yang Diabaikan 

Tercatat 30,38 juta jumlah penyandang disabilitas di Indonesia. 14,2% populasi. Satu dari tujuh orang di negeri ini. Bukan minoritas kecil yang bisa disepelekan, tapi bagaimana wajah media hari ini? Cobalah gulir lini masa kalian. Kini disabilitas mempunyai dua wajah: objek kasihan atau bahan tawa.

Media sosial sering kali mengemas mereka sebagai sosok yang lemah dan perlu dikasihani. Media mencerminkan apa yang sudah lama tertanam di kepala kolektif kita: bahwa disabilitas itu kekurangan, bukan sekadar keberagaman cara tubuh dan pikiran bekerja.

Media sosial yang katanya panggung terbuka untuk semua orang justru menyerang mereka yang rentan, mereka yang hanya ingin dimanusiakan. Kenapa banyak orang tidak tega dan menentang bullying, tapi masih biasa menertawakan kelompok yang mereka anggap anomali?

Ruang eksekusi tidak hanya berbentuk ruangan. Kini ia merambat ke dalam media sosial. Ruang publik yang seharusnya jadi tempat mereka mendapat dukungan justru jadi tempat mereka mendapat penghakiman. Kini mereka tidak hanya melawan hambatan yang mereka hadapi, tapi juga harus melawan stigma negatif masyarakat yang masih melekat.


Lelucon dan Luka yang Berputar di Lini Masa Kamu

1. Media Sosial yang Menjadi Eksekusi Penghakiman

Kini kolom komentar rasanya seperti tempat penghakiman bagi mereka. Semua orang rela menjual rasa kemanusiaan hanya demi humor. Meme yang mengejek cara mereka bergerak atau berbicara dibuat, ditertawakan, lalu disebarluaskan tanpa sedikit pun terbesit pertanyaan siapa yang sedang mereka tertawakan. Apakah kemanusiaan sudah hilang demi 15 detik di For You Page?

2. Istilah Disabilitas yang Menjadi Bahan Candaan

Penggunaan kata autis sebagai ejekan, seperti pada kalimat woy autis lu yang kerap dilontarkan beberapa orang, mulai menjadi candaan yang dinormalisasikan. Perkataan itu bahkan keluar dari mulut orang yang tidak tahu apa itu autisme. Mereka hanya tahu itu merupakan kalimat hinaan. Mengapa umpatan yang menggunakan istilah kelompok disabilitas seolah-olah dianggap wajar, sedangkan umpatan yang menggunakan istilah kelompok lainnya tidak?

3. Platform yang Mengusir Penggunanya 

Pengusiran ini tidak terang-terangan. Bukan dari konten atau komentar. Ini soal siapa yang sengaja dilupakan sejak awal. Gambar diunggah tanpa alt text seolah-olah mata yang dibantu screen reader tidak pernah diajak bicara. Video diputar tanpa teks seolah-olah telinga yang tidak bisa mendengar, tidak pernah dianggap ada di ruangan. Ini bukan detail teknis yang bisa ditunda. Ini soal siapa yang dianomalikan sejak awal.


Kenapa Banyak Orang Susah Sadar ketika Mereka Berperilaku Ableist?

Banyak orang susah sadar karena bias ini sudah ditanam sejak kecil melalui bahasa, lelucon, dan media yang jarang memberikan ruang bagi penyandang disabilitas untuk berbicara atas nama diri sendiri. Makanya, tidak jarang hal ini terjadi tanpa kita sadari. Kita seperti dilatih untuk mendiskriminasi. Kita hanya sibuk menghakimi tanpa pernah melihat siapa yang terluka di baliknya.

Sekolah hanya mengajarkan kita mengenali diskriminasi dalam bentuk yang paling kasar. Tanpa kita sadari, alasan “cuma bercanda” juga menyimpan luka yang sama. Kita hanya tahu diskriminasi jika bentuknya teriakan tanpa pernah tahu yang diam juga sama sakitnya.


Jadi, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Kita bisa mulai dari yang paling dekat: stop menggunakan istilah disabilitas sebagai umpatan. Sebelum share atau membuat konten, coba tanyakan pada dirimu, apakah ini memang lucu atau ada orang yang menjadi korban bullying? Ketika kita melihat meme atau komentar yang merendahkan, tegurlah mereka, jangan hanya diam. Layaknya sebuah penyakit, ketika dibiarkan, ia akan berkembang biak.

Bagi kreator konten: caption, subtitle, dan alt text seharusnya menjadi standar wajib, bukan pelengkap yang bisa kamu lewati. Jika kamu membuat konten tentang disabilitas, coba tanyakan pada dirimu, apakah orang atau kelompok yang dilibatkan memberikan izin? Jangan sampai kita hanya mengeksploitasi disabilitas demi validasi diri sendiri.

Bagi platform: ini bukan hanya hal sepele yang bisa ditunda. Ini soal kebijakan moderasi yang harus ditegakkan secara serius. Platform terlalu sibuk menyaring rasisme, seksisme, atau homofobia, sementara ableisme dibiarkan lolos begitu saja.


Kesimpulan

Media sosial seharusnya menjadi wadah untuk saling mendukung, bukan menjadi luka bagi mereka yang dianggap berbeda. Kita sering kali lupa bahwa di balik setiap kata yang kita lontarkan di kolom komentar, ada manusia yang bisa saja terluka. Tiga menit yang kamu habiskan untuk menulis komentar itu bisa saja menjadi beban yang ditanggung orang lain selama bertahun-tahun.

Pada dasarnya, perbedaan bukanlah anomali. Ini adalah bentuk keberagaman yang seharusnya diterima. Mereka tidak membutuhkan pujian berlebihan. Mereka hanya membutuhkan rasa dihargai dan diperlakukan dengan manusiawi. Keberagaman adalah keindahan. Jangan biarkan keindahan itu hancur oleh jari-jari yang mengetik tanpa berpikir. Berikan mereka ruang yang aman, penuh perhatian, dan dukungan agar ketika mereka mempertanyakan tempatnya di dunia ini, mereka tahu satu hal yang pasti: dunia memang punya tempat untuk mereka.


“Jiwa-jiwa yang terabaikan, rusak dan ditinggalkan, terundang terbang bersama”

Dari lagu “Tanah Indah untuk Para Terabaikan Rusak dan Ditinggalkan” oleh FSTVLST.


Referensi: 

Badan Pusat Statistik. (2018). Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS).


Penulis  : Pandu

Kurator  : Oca

Editor    : Zanneta Rahma Aulia


Post a Comment

Previous Post Next Post