Efek Samping Jadi Anak Farmasi: Dianggap Idaman Mertua, Realitanya?



Pernah gak sih kalian mendengar ocehan di masyarakat kalau anak farmasi entah itu apoteker atau asisten apoteker jadi salah satu kandidat menantu idaman? Bayangan para orang tua di luar sana pasti manis sekali. Kami dianggap sebagai figur yang teliti, penyabar, pintar, dan kalau mertua mendadak pusing, menantunya bisa langsung meracik obat terbaik di rumah. Predikat "menantu idaman" ini rasanya keren sekali, ya?

               Tapi jujur aja ya, coba deh kita buka-bukaan soal realita di balik meja obat klinik dan apotek. Di dalam aroma khas ruang peracikan ada kemampuan kami membaca tulisan dokter yang ruwet itu, belum lagi dihubungkan dengan kehidupan asmara kami yang bisa dibilang sebenarnya sedang berada dalam status HTS (High-Throughput Screening) alias ngetes ribuan kecocokan, tapi statusnya tetap belum ada penemuan baru.

              Iya, termasuk saya. Seorang farmasis klinik yang hari-harinya sibuk memastikan ketepatan dosis demi kesembuhan orang lain, tapi sering kali gagal total kalau disuruh meracik obat untuk hati sendiri. Efek samping dari profesi ini ternyata membuat predikat menantu idaman itu mendadak rasanya seperti mitos belaka. Gimana mau jadi menantu idaman orang tua, kalau calonnya aja sampai sekarang belum ada?

              Belum lagi kalau kita bicara soal realitas di lapangan yang gak sesuai dan jauh dari kata indah. Banyak orang berprasangka gaji nakes dengan gelar profesi itu selalu besar. Kenyataannya? Tidak jarang pendapatan kami di klinik-klinik daerah masih mepet upah minimum. Kami juga harus mengelus dada melihat slip gaji bulanan yang gak sebanding dengan beban tanggung jawab hukumnya.

               Di tempat kerja, realitasnya juga penuh tekanan. Bekerja di klinik menuntut kami untuk serbabisa dan bergerak cepat. Setiap hari kami harus menghadapi ratusan pasien umum maupun asuransi yang antreannya langsung berhadapan dengan meja kami setelah keluar dari ruang periksa dokter. Belum lagi ketika kami menjadi sasaran kemarahan pasien yang mengomel karena obat racikannya lama, padahal kami sedang memvalidasi resep dengan sangat hati-hati demi keselamatan mereka sendiri. Salah satu miligram saja, taruhannya bisa nyawa.

           Pulang kerja, jangankan bisa bersantai atau mencari gebetan, kami masih harus dikejar-kejar urusan birokrasi profesi. Kepala sering kali mau pecah memikirkan cara mengumpulkan SKP (Satuan Kredit Partisipasi) dari seminar-seminar demi memperpanjang Surat Tanda Registrasi (STR) dan Surat Izin Praktik (SIP) agar tetap legal bekerja di klinik.

               Ada satu cerita ketika saya lagi menyerahkan obat di tengah situasi klinik yang ramai, ada pasien yang suka bercanda. "Mbak/Mas, pintar banget sih menjelaskan aturan pakai obat. Pacarnya pasti hidupnya teratur dan bahagia banget ya?" Pas digituin, saya hanya bisa melemparkan senyum formalitas standar pelayanan klinik. Padahal di dalam hati, rasanya ingin sekali saya menjawab jujur: "Duh, Boro-boro bikin pacar bahagia. Saya aja sudah lupa kapan terakhir kali ngedate."

              Akar masalah utamanya selain lelah mental, tentu saja masalah shift kerja yang kadang berantakan. Saat orang lain dan yang bekerja di kantor bisa malam mingguan, menonton bioskop, atau sekadar nongkrong di kafe estetik, saya mungkin sedang berjaga dengan shift malam atau lembur menghitung stok opname obat klinik yang selisih. Di saat gebetan baru bangun tidur dan mengirim pesan "Selamat pagi," saya justru baru saja selesai berjaga dengan mata panda dan setengah mengantujk.

         Mau diajak jalan-jalan? Boro-boro. Begitu menyentuh kasur, saya langsung tidur pulas sampai sore. Siklus monoton seperti ini jelas menguji nyali siapa pun yang mencoba mendekat. Baru PDKT satu minggu, mereka biasanya sudah mundur perlahan karena merasa dicuekin. Padahal kami tidak cuek, kami hanya sedang kehabisan energi sosial Kami menjadi terlalu lelah untuk memikirkan obrolan basa-basi di aplikasi kencan.

              Ironis sekali, bukan? Kami tahu persis interaksi antar-obat yang berbahaya. Kami paham cara merawat luka dan menurunkan demam pasien. Tapi pas dihadapkan pada luka hati akibat ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, kami mendadak mati kutu. Tidak ada parasetamol yang bisa meredakan rasa sepi karena kelamaan jomblo.

               Ingin rasanya saya melabeli keresahan ini sebagai bagian dari risiko profesi. Walaupun hati sendiri masih sering gagal disembuhkan dan realitas kesejahteraan nakes belum seindah bayangan orang, ada rasa puas yang tidak bisa dibayar pakai apa pun saat melihat pasien yang tadinya mengeluh sakit, bisa pulang sambil tersenyum karena terbantu oleh pelayanan kami.

           Mungkin saja untuk urusan asmara, saya memang harus bersabar dulu dan membuat penantian yang agak panjang. ya, mungkin gak apa-apa gagal menyembuhkan hati sendiri sekarang, yang penting tugas kemanusiaan tetap jalan. Lagian, siapa tahu suatu hari nanti jodoh saya adalah salah satu pasien klinik yang pernah saya jelaskan aturan pakai obatnya, atau sesama rekan nakes yang juga lagi mumet menyusun stok obat di gudang. Kalaupun belum ketemu, minimal saya tetap bisa bangga menjadi jomblo yang tangguh di dunia nyata, sembari tetap menyandang gelar "menantu idaman" di dunia maya.


Penulis: Desy Rizki Amalia 

Kurator: Afiyah Nur Kamilah 

Editor: Fathur Rosi 



Post a Comment

Previous Post Next Post