Pelukis Senja

Gedung yang menantang awan inilah tempatku menggambar wajahmu di seberang. Kutarik awan yang kabur ke tengah laut, kutekan keras hingga ia seperti tanah liat yang bisa dibentuk dengan satu jari. Di situlah aku melukis senyum, mata dingin, dan alis yang melengkung ke atas kala kita saling tatap. Semua itu terlalu sempurna hingga kurasa awan itu berkedip dan mengeluarkan air hujan dari pelipisnya. Kurelakan ia terbang bersama senja yang akan tamat mengakhiri hari demi esok. Beberapa turis di pantai menyorotkan lampu berbunyi ceklik untuk menyimpan kuning senja bersama awannya.

Mereka memanggilku pelukis senja.

Dari jauh, hanya kulihat awan berbentuk titik berdampingan. Terkadang disertai garis bawah yang membentuk wajah rindu dan aku mengerti. Aku tidak akan membalas awan-awan titik yang warnanya menghitam karena terlalu basah itu. Cukup kulempar batu ke garis bawahnya hingga melengkung membentuk senyuman.

Beberapa bagian wajah dan corak bibirmu tak bisa kulukis dengan sederhana karena selalu berakhir sama dengan lukisan sebelumnya. Harus kuingat sekilas momen-momen kita di bawah kolong jembatan. Di situlah kulukis wajahmu dengan bibir bawah tergigit sebelah. Kutambahkan pula mata yang setengah terbuka.

Hari ini lapisan pelindung bumi masih biru, membuat kuning laut yang melelehkan senja belum juga muncul. Meski begitu, di sana bersenang-senang lumba-lumba yang kabur dari nelayan buruh. Maka, kurakit senja buatan dengan menggeser matahari dan awan tepat di atas sisa ombak. Matahari yang marah enggan mengeluarkan kuningnya, ia langsung merah, lalu diredam awan yang membuatnya sedikit gelap. Walau merahnya serupa darah, awan yang meredam membuatnya sedikit pudar.

Belum juga kuambil awan, muncul burung sembari menyeret huruf-huruf dengan paruhnya yang perlahan berbaris membentuk frasa terlalu cepat. Langsung kusiapkan jawaban dengan mengambil kuas dan mencelupkannya ke senja yang merah padam itu. Kuasku menari dan membentuk frasa karena sayang. Tulisan itu melesat membelai senja dan menuju seberang. Lagi-lagi suara ceklik berulang kali memenuhi pantai. Beberapa turis menyebutku dengan nama-nama hewan karena merubah biru langit menjadi senja yang meleleh ke laut saat punggung telanjang mereka belum sepenuhnya cokelat.

Burung yang saling bincang itu kurengkuh satu, lalu kutarik sehelai bulunya yang tiba-tiba saja membuatnya mati. Daripada menguburnya seperti manusia, kulempar burung itu ke matahari yang tepat di atasku. Sekilas ada setitik api menyembur, lalu turun sehelai bulu hitam keabuan. Kupikir matahari butuh makan sebelum memproduksi senja.

Aku ingin membuat surat senja dengan kata-kata sekecil mungkin. Kala senja ingin kugeser agar merahnya membara, ia enggan bergerak. Awalnya kugunakan kedua tanganku hingga aku berayun dan berputar layaknya atlet olimpiade, namun matahari itu malah semakin meronta. Kupikir pasti ada orang yang menahannya dari bumi yang lain. Siapa si berengsek ini? Maka, kutunggu hingga nanti ia menjadi senja itu sendiri. Terkadang, ada saatnya setiap orang berkiblat pada senja, berpaling dari siang yang mampu mengubah warna punggungnya.

Setelah jarum jam tanganku berputar 360 derajat, langit masih setia dengan birunya, namun panasnya mulai reda. Pikiranku beradu antara siapa yang memegang senja begitu kejamnya dan wanita yang mati menunggu senja. Sekilas, arah pandangku tertuju pada pantai. Setiap kali pengunjung datang dan telanjang, mereka pasti menunggu punggung mereka dipanggang matang oleh matahari. Tiada yang mencurigakan atau mengganggu pikiran. Pesisir tetap saja berisik dengan anak-anak yang mengubur dirinya sendiri.

Ada tangan yang terangkat di atas bukit karang. Tangan itu bergerak membentuk bundar dan urat-uratnya terlihat menonjol. Kini pikiranku yang tiada terganggu itu panas. Ternyata dia, wanita yang telanjang bulat di atas bukit karang, sendirian mencegah tapak matahari.

Bulu burung yang kucabut tadi kuarahkan ke matahari, kutusuk hingga dalam. Sekilas muncul suara sesss bersamaan dengan asap putih mengudara. Bulu itu menghitam, panasnya naik terlalu cepat. Sebelum ia sepenuhnya menjadi residu, kuoles ke punggung wanita itu dari jauh. Tak lama, terlihat gelagatnya berubah. Dari yang awalnya tengkurap, berpaling dari matahari, ia berlarian di atas bukit karang yang condong tajam ke atas. Kulitnya yang tadi mulai gelap, kini sudah gelap sempurna. Lelehan matahari terus tersebar ke segala arah hingga satu tetesnya terlempar ke laut, membuatnya berbuih mendidih.

Kaki wanita itu perlahan berlubang-lubang. Bukit karang berubah warna menjadi merah darah mendidih. Aku berpaling untuk menulis surat senja. Kuintip sekilas, bukit karang itu menyisakan tengkorak. Tulang kaki yang pecah dan matang terpencar di setiap sudut, kadang dimakan ombak.

***

Beberapa penjual koran memamerkan dagangannya. Salah satu judul tulisan di koran itu terpampang, “Surat Misterius dari Segara”. Ternyata beberapa pelaut dan jurnalis kota berhasil mengabadikan beberapa surat yang melintas sekilas meskipun terkadang surat itu tertutup tirai embun atau awan yang tersesat. Beberapa surat itu pun kadang berbalik arah ke Pasifik dan membuat konspirasi baru.

Aku tidak perlu tahu siapa yang menulis surat itu. Hanya saja untuk hal sedemikian kecil, semua orang bisa membuatnya. Semua orang bisa menikmatinya. Terkadang itulah manusia, menginginkan hal besar dari hal yang sebenarnya tiada gunanya.

Koran itu tidak laku di pesisir ini karena mereka sudah tahu siapa pelukisnya. Sejak saat itu, semua orang berusaha melukis senja dan terkadang menjadi kurang ajar dengan mengikat senja menggunakan tali tambang milik nelayan. Senja akhirnya menjadi titik terakhir waktu berjalan di Bumi. Tiada lagi langit berbintik bintang. Tiada lagi rotasi bulan yang menari di sela-sela malam. Tiada lagi jarum jam yang berputar maju di waktu Bumi. Semua demi senja dan surat yang perlahan menjadi sampah di bawah kuningnya.

Hari ini ada beberapa surat yang salah alamat hingga burung meninggalkan awan bertuliskan kata-kata terakhir Thomas Edison. Bahkan, baru saja ada surat cinta, namun di samping tanda tangan abstrak itu terpampang nama Albert Einstein. Aku menunggu saat yang tepat sambil memandang manusia-manusia pantai itu melukis senja dengan berbagai jenis kuas. Dan juga menertawakan orang yang mengatasnamakan Albert Einstein.

***

Setelah semua kata-kata yang berkeliaran aku curi dan simpan untuk surat senja terakhirku, kuambil sehelai bulu dari seekor camar di sebuah puncak gedung. Saat itu, kalau dihitung mungkin sudah dua bulan sejak senja masih terikat dan belum lepas. Aku melanjutkan sebuah surat yang sangat panjang hingga panjangnya melebihi gedung ini. Tak lupa juga nama wanita senja yang kutuju itu.

Beberapa kata yang telah kusimpan, kini kutambahkan ke beberapa bagian. Panjangnya surat itu melebihi gedung ini dan bukit karang jika ditumpuk bersama. Sayangnya, beberapa surat yang tersesat menabrak ujung awan yang terbentuk sedemikian rupa. Aku hanya menyisakan senyum sebelum kembali membetulkan surat itu. Sebuah tanda tangan abstrak mengisi kaki surat itu.

Bulu camar yang masih saja putih, perlahan kucelupkan sedikit dalam ke senja hingga terasa panas yang tiada membara, namun cukup membuat seseorang yang menyentuhnya terpanggang. Kulempar bulu itu ke seseorang yang tengah menghitung awan untuk suratnya. Orang itu berteriak hingga pita suara terlempar dari mulutnya. Ia mengira teman di sampingnya yang melempar. Ia bergerak mengambil kuas untuk menusuk senja lebih dalam, lalu dilempar ke temannya. Temannya berlari lebih semangat mengelilingi pantai dan menabrak semua orang hingga tercipratlah bara senja itu ke tali tambang pengekang senja.

Perlahan, laut meninggalkan kuningnya. Kini, segala jenis bintang membuat senja terakhir itu terasa benar-benar yang terakhir dalam sejarah peradaban manusia. Dengan ini, kulemparkan surat panjang itu ke kawanan camar yang mengikuti arah tenggelamnya senja. Pantai semakin gemerlap dengan asap putih hingga hitam yang berbau menyengat. Segala bentuk bara melompat-lompat dan berpencar. Aku seperti melihat kawanan tengkorak dengan bola mata hitam pekat sedang berperang, seperti mitos bajak laut. Laut mendidih dipenuhi tengkorak yang masih membara dan mengambang menjadi riuh terakhir di pesisir.

***

Koran hari ini sudah beredar luas. Kopiku yang masih membara itu membuat lembar pertama koran terasa spesial. Beberapa polisi tampak membawa tengkorak hitam dari sudut-sudut pantai. Ada pula polisi dengan seragam renang dan cadik milik nelayan yang juga menjadi tengkorak.

Karena semua menjadi tengkorak, maka tiada yang pulang ke rumah masing-masing.

Dari jauh, tiba-tiba muncul barisan camar yang sama ketika membawa surat senjaku. Namun, barisan camar itu seperti membawa bulu yang berbintik merah. Mereka berhenti di puncak gedung ini, tepat di pagar yang ada di depanku. Mereka bukan membawa surat balasan, tapi sebuah awan berbentuk kotak. Aku dengan sigap mengambil kotak awan itu.

Aku mendengar sebuah degup.

Kotak itu terbuka dan aku melihat sebuah jantung yang berdegup lemah, sepasang bola mata yang kukenal karena berwarna seperti senja, dan potongan koran yang sama seperti yang kupegang sekarang. Di belakang koran tertulis kau pembunuh.


Penulis: Muhammad Tahsin Taufik Sulistyo

2 Comments

Previous Post Next Post