NU Tunisia dan Maqshaduna Hadirkan Webinar Internasional sebagai Wadah Menuntut Ilmu Bagi Anak Muda dan Kader NU Dunia

Tunis – Dunia modern bergerak dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kemajuan teknologi, perkembangan ilmu pengetahuan, dan transformasi sosial telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Namun di balik semua capaian itu, ada paradoks yang sulit diabaikan: manusia semakin maju secara material, tetapi di saat yang sama menghadapi berbagai krisis yang mengancam keberlangsungan kehidupan. Ketimpangan ekonomi, kerusakan lingkungan, kemerosotan moral, konflik kemanusiaan, hingga melemahnya nilai solidaritas.

Di tengah situasi tersebut, pertanyaan tentang arah perjalanan peradaban manusia kembali muncul. Apakah kemajuan hanya diukur dari perkembangan teknologi dan pertumbuhan ekonomi, ataukah ia juga harus mempertimbangkan nilai kemanusiaan, keadilan, dan keberlanjutan kehidupan?

Berangkat dari kegelisahan itulah, PCI Nahdlatul Ulama Tunisia melalui NU Book TN bersama Maqshaduna menyelenggarakan webinar internasional ilmiah bertajuk “Dunia Kita antara Masa Kini dan Masa Depan: Maqashid Syariah sebagai Strategi Merumuskan Solusi dan Menghadapi Krisis-Krisis Modern” pada 13 Juli 2026. 

Forum ini menghadirkan ruang dialog intelektual yang mempertemukan khazanah Islam Tunisia dengan tradisi keilmuan Islam Nusantara, sebagai refleksi bersama mengenai bagaimana nilai-nilai Islam, khususnya melalui pendekatan Maqashid Syariah, dapat berkontribusi dalam menjawab persoalan global yang semakin rumit.

Berlangsung pukul 19.30 WIB, webinar ini menghadirkan dua akademisi terkemuka dari Tunisia dan Indonesia, yaitu Prof. Dr. Hichem Grissa, pakar Maqashid Syariah sekaligus mantan Rektor Universitas Ez-Zitouna Tunisia, serta Prof. Dr. KH. Abdul Mustaqim, M.Ag., guru besar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Diskusi dipandu oleh M. Farhan Quratta Yasir, Lc. sebagai pembawa acara dan Muhammad Tegar Syaikhuddin, M.A., sebagai moderator.

Dalam forum tersebut, kedua narasumber sepakat bahwa akar dari berbagai krisis modern tidak hanya bersumber dari persoalan ekonomi, politik, atau teknologi, tetapi juga dari cara pandang manusia terhadap kehidupan itu sendiri .Dunia modern membutuhkan cara berpikir yang mampu menghubungkan kemajuan dengan nilai, inovasi dengan tanggung jawab, serta perkembangan peradaban dengan kemaslahatan manusia.

Dalam paparannya, Prof. Dr. Hichem Grissa menjelaskan bahwa Maqashid Syariah memiliki karakter yang dinamis dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Menurutnya, syariat Islam tidak dapat dipahami hanya sebagai kumpulan aturan tekstual, tetapi harus dilihat sebagai sistem nilai yang memiliki tujuan besar dalam menjaga kehidupan manusia.

Ia menegaskan bahwa rahasia utama Maqashid Syariah terletak pada kemampuannya mengungkap hikmah ilahi yang berada di balik setiap ketentuan hukum Islam. Syariat hadir bukan sekadar untuk mengatur perilaku manusia melalui perintah dan larangan, tetapi untuk menjaga martabat manusia, mewujudkan keadilan, serta menghadirkan kemaslahatan dalam kehidupan.

Menurut Prof. Hichem, memahami Maqashid Syariah berarti berusaha menemukan ruh di balik teks, memahami tujuan di balik hukum, serta melihat bagaimana setiap ajaran Islam diarahkan untuk menciptakan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.

“Rahasia Maqashid Syariah bukan terletak pada teks hukumnya semata, tetapi juga pada hikmah yang melandasinya. Ketika seseorang memahami tujuan syariat, ia tidak hanya melihat apa yang diperintahkan dan dilarang, tetapi juga memahami mengapa Allah menetapkannya demi kemaslahatan manusia dan keteraturan kehidupan,” ujarnya.

Sementara itu, Prof. Dr. KH. Abdul Mustaqim, M.Ag., menekankan bahwa Maqashid Syariah merupakan ruh yang menghidupkan pemikiran Islam dan menjaga agar hukum tetap relevan dengan perkembangan zaman. Menurutnya, memahami agama tidak boleh berhenti pada aspek formalnya saja, tetapi harus mampu menangkap nilai dan tujuan besar yang ingin diwujudkan oleh syariat.

Ia menjelaskan bahwa salah satu tantangan umat Islam hari ini adalah bagaimana keluar dari cara berpikir  yang terlalu kaku tanpa harus kehilangan akar tradisi keislaman. Di sinilah Maqashid Syariah hadir sebagai jembatan yang mampu menghubungkan antara teks dan konteks, antara warisan ulama masa lalu dan kebutuhan manusia masa kini.

Pandangan tersebut berkaitan erat dengan semangat Islam moderat yang selama ini dikembangkan Nahdlatul Ulama, yaitu Islam yang menjaga tradisi keilmuan, terbuka terhadap perkembangan zaman, serta menempatkan kemaslahatan umat manusia sebagai orientasi utama.

“Ketika hukum kehilangan tujuannya, ia berubah menjadi beban. Maqashid Syariah hadir untuk mengembalikan hukum kepada ruhnya: menghadirkan kemaslahatan, mencegah kerusakan, dan menjaga martabat manusia,” tegasnya.

Diskusi kemudian berkembang ke persoalan-persoalan yang lebih kontemporer, seperti krisis lingkungan, perkembangan kecerdasan buatan, ketimpangan ekonomi global, hingga tantangan etika di era digital. Kedua narasumber memandang bahwa persoalan-persoalan tersebut tidak akan terjawab hanya dengan solusi teknis, tetapi juga membutuhkan fondasi moral dan nilai kemanusiaan.

Dalam perspektif Maqashid Syariah, pembangunan manusia tidak dapat hanya diukur dari aspek material, tetapi juga harus mempertimbangkan keberlanjutan, keadilan, dan keseimbangan kehidupan. Karena itu, pendekatan ini tidak hanya relevan dalam ruang kajian hukum Islam, tetapi juga dapat menjadi paradigma universal dalam membangun peradaban yang lebih manusiawi.

Webinar ini menjadi ruang refleksi bahwa dunia membutuhkan arah baru yang mampu mempertemukan kemajuan dengan nilai-nilai luhur kehidupan. Maqashid Syariah hadir sebagai jembatan yang menghubungkan tradisi dengan masa depan, wahyu dengan realitas, serta perkembangan ilmu pengetahuan dengan tanggung jawab moral manusia.

Suksesnya penyelenggaraan webinar ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, khususnya media partner yang turut memperluas jangkauan informasi dan publikasi acara. PCI NU Tunisia melalui NU Book TN dan Maqshaduna menyampaikan apresiasi serta terima kasih kepada seluruh media partner, baik media cetak maupun online, yang telah menjadi bagian penting dalam menyebarkan pesan keilmuan dan nilai kemaslahatan kepada masyarakat luas.

Melalui kegiatan ini, PCI Nahdlatul Ulama Tunisia dan Maqshaduna menegaskan bahwa tradisi Islam memiliki kemampuan untuk terus berdialog dengan perubahan zaman. Tantangan terbesar manusia hari ini bukan hanya bagaimana membuat dunia bergerak lebih cepat, tetapi bagaimana memastikan bahwa setiap kemajuan membawa manusia menuju kehidupan yang lebih bermakna, berkeadilan, dan berkeadaban. Di tengah dunia yang terus berubah, Maqashid Syariah menawarkan sebuah harapan bahwa masa depan peradaban dapat dibangun di atas fondasi kemaslahatan, moderasi, keadilan, dan keberlanjutan.


Penulis: Muttaqin Hidayatullah

Post a Comment

Previous Post Next Post