Panggil Aku Pulang
oleh S. A. Awalia Ramadhani
Panggil aku,
sebelum jiwaku letih menjadi manusia,
sebelum warasku menipis digerus duka,
sebelum gelapnya akalku memutus napas
lebih dulu dari takdir-Mu.
Aku ingin pulang,
sebab Engkau memanggilku,
bukan sebab aku kalah
oleh bayang diriku.
Biarkan aku pulang
melalui panggilan-Mu,
bukan melalui jari-jemariku.
Makassar, 2026.
Kebebasan pada Putih
oleh S. A. Awalia Ramadhani
Aku terbang bebas
bagai burung yang lepas dari sangkar.
Aku tertawa kencang
bagai kuda yang lepas dari kandang.
Pagi ini,
aku merangkai kebebasan.
Aku tak lagi merangkai kematian,
aku hanya melukis kematian,
pada putihku, pada kulitku.
Matiku hanya berbeda
dengan pagi itu.
Aku sudah lama tamat.
Hanya jiwaku yang tersesat,
mencari nisannya sendiri.
Pantas saja,
pagi ini, beda dengan pagi itu.
Makassar, 2026.
Hidup dalam Mati
oleh S. A. Awalia Ramadhani
Aku bangun untuk mati.
Aku bernapas untuk merasa sesak.
Aku ada untuk tak ada.
Pagi ini, seperti pagi itu.
Tangan yang tahu itu memilih lupa.
Air yang membasuh itu melukai.
Tubuh milikku pun asing.
Pagi ini, seperti pagi itu.
Abad adalah hari
yang diulang dengan setia.
Satu luka sembuh untuk terbuka,
satu titik tertunda untuk dituliskan.
Pagi ini, seperti pagi itu.
Tak ada tanya tentang pagiku.
Kau hanya tahu bahwa aku masih ada.
Kosongku kau isi.
Hampaku kau buat ramai.
Kecilku kau besarkan.
Tenangku tak pernah kau berikan.
Kau tak tahu,
ada bukan berarti utuh,
napas bukan berarti hidup.
Kau tahu cukup,
tapi tak pernah cukup
untuk tahu arti hidup.
Kau membuka baka.
Titik yang kutunda, tak lagi akan tertunda.
Pertanyaan yang tak pernah ada,
tak akan pernah sempat ada.
Makassar, 2026.
