Jeritan Tanahku dan Puisi-puisi Dimas Baskoro Lainnya


Jeritan Tanahku

Apa kalian mendengarnya?

Apa kalian merasakannya?

Dia sedang memanggil nama kita 

Dia sedang berlutut, menjerit dan memohon kepada kita


Apa kalian bisa melihatnya?

Apa kalian bisa merasakannya?

Ia menangis bagai mengais harapan

Ia menjerit hanya hening yang menjawab


Ketakutan, itu yang ia rasakan

Kesadaran, itu yang ia inginkan



Senjakala Hati


Kuning angsana bertabur di jalanan

Disapu angin dihempas waktu

Melambat menari, meruang, dan membeku


Remang gelap riangmu melintasi dinding masa lalu

Menggores hati yang telah lama kedinginan

Senjakala hati, biarkan aku disini

Merapal mantra tuk sejenak menyatu dalam nisanmu



Doa

Doa kita tercabik sengatan matahari siang

Tak sempat mengudara ke langit ke tujuh

Tak sempat menulis bait-bait tuan yang maha esa

Bertaburan menjadi seonggok bintang dalam kemarau panjang 


Kereta malam kembali menyapu hujan

Menghantar pesanan dalam beribu sujud

Lalu Lalang menuju stasiun harapan 

Namun kembali dengan tatapan kosong


Siang engkau puja, malam engkau abaikan

Terik engkau terjang, hujan kau tangisi


Tidurlah dalam malam yang Panjang,

Tak ada yang perlu kau sesali



Gelas Teh


Gelas teh kemasan jumbo

Tampak segar dikala siang

Rintik embun mulai mengepung 

Setetes air tergelincir membelah matahari 


Hatiku yang teduh sesaat telah pergi

Bersama air menggenang hati besanding karma

Memecah embun dalam waktu yang terhenti

Menangkap cinta yang berlarian tanpa permisi



Oleh Dimas Baskoro



Post a Comment

Previous Post Next Post