Apa kalian mendengarnya?
Apa kalian merasakannya?
Dia sedang memanggil nama kita
Dia sedang berlutut, menjerit dan memohon kepada kita
Apa kalian bisa melihatnya?
Apa kalian bisa merasakannya?
Ia menangis bagai mengais harapan
Ia menjerit hanya hening yang menjawab
Ketakutan, itu yang ia rasakan
Kesadaran, itu yang ia inginkan
Senjakala Hati
Kuning angsana bertabur di jalanan
Disapu angin dihempas waktu
Melambat menari, meruang, dan membeku
Remang gelap riangmu melintasi dinding masa lalu
Menggores hati yang telah lama kedinginan
Senjakala hati, biarkan aku disini
Merapal mantra tuk sejenak menyatu dalam nisanmu
Doa
Doa kita tercabik sengatan matahari siang
Tak sempat mengudara ke langit ke tujuh
Tak sempat menulis bait-bait tuan yang maha esa
Bertaburan menjadi seonggok bintang dalam kemarau panjang
Kereta malam kembali menyapu hujan
Menghantar pesanan dalam beribu sujud
Lalu Lalang menuju stasiun harapan
Namun kembali dengan tatapan kosong
Siang engkau puja, malam engkau abaikan
Terik engkau terjang, hujan kau tangisi
Tidurlah dalam malam yang Panjang,
Tak ada yang perlu kau sesali
Gelas Teh
Gelas teh kemasan jumbo
Tampak segar dikala siang
Rintik embun mulai mengepung
Setetes air tergelincir membelah matahari
Hatiku yang teduh sesaat telah pergi
Bersama air menggenang hati besanding karma
Memecah embun dalam waktu yang terhenti
Menangkap cinta yang berlarian tanpa permisi
Oleh Dimas Baskoro
