Supersemar Menurut Keyakinan Saya


12 Maret 1966, rakyat Indonesia berkumpul dan memenuhi jalanan. Mereka berpawai seolah habis memenangkan perang. Mereka juga dikawal oleh Tentara. Wartawan Amerika bernama John-Hughes Wilson berkata dalam bukunya yang berjudul The End of Soekarno: A Coup That Misfired: A Purge That Ran Wild saat itu Radio Republik Indonesia mengumumkan akan surat perintah tertanggal 11 Maret 1966, yang berisi pemberian kekuasaan kepada Panglima Angkatan Darat (Pangad) Letnan Jenderal Soeharto untuk menertibkan keadaan. Secara tidak langsung ini memberi Soeharto amunisi untuk mendapatkan kursi nomor satu di Republik ini. Peristiwa ini akan dikenang sebagai Surat Perintah Sebelas Maret, atau Supersemar (Hughes, J. 2002).

11 Maret 2026 mendatang merupakan tahun ke-60 setelah peristiwa Supersemar terjadi. Masih banyak teori-teori liar yang bertebaran diluar sana tentang mengapa Soekarno mau menandatangani surat itu. Yang paling terkenal adalah teori dari anggota Detasmen Kawal Pribadi (DKP) Cakrabirawa, bernama Maulwi Saelan. Menurut Julius Pour dalam Gerakan 30 September: pelaku, pahlawan dan petualang Maulwi mengklaim bahwa Soekarno menandatangani karena diancam dengan pistol. Ia mengklaim bahwa ia sendiri melihat kejadian itu. Teori ini dibantah oleh rekannya sesama anggota DKP, yang bernama Mangil Martowidjojo. Mangil berkata bahwa Saelan tidak ada di tempat kejadian sehingga tidak mungkin dia bisa tau (Pour, J. 2010).

Berdasarkan proses membaca banyak literatur tentang Orde Lama dan Orde Baru, penulis memiliki teori sendiri tentang Supersemar. Penulis beranggapan bahwa kelihaian Soeharto dan kesalahan Soekarno sendiri lah yang menjadi penyebab peristiwa itu terjadi, dan ditandatangani oleh Soekarno. Yang terjadi adalah bahwa Soeharto menerapkan ajaran karakter mafia Michael Corleone, dari film The Godfather. Dalam film The Godfather: Part 2, Michael mengungkapkan kata-kata yang terkenal. Bahasa Inggrisnya keep your friend’s close, enemies closer (pastikan temanmu dekat, musuhmu lebih dekat lagi). Intinya menggambarkan bahwa jika engkau ingin mengalahkan musuhmu maka musuhmu harus merasa nyaman denganmu sehingga tidak akan menganggapmu ancaman. Lalu kemudian ketika dia lengah, kalahkan. Inilah yang dilakukan oleh Soeharto terhadap Soekarno.

Naiknya Soeharto 

Seperti yang diketahui bahwa pada tanggal 1 Oktober 1965, 6 perwira tinggi (Pati) dan 1 perwira menengah (Pamen) terbunuh dalam peristiwa yang dikenal sebagai Gerakan 30 September (G30s) atau Gerakan 1 Oktober (Gestok). Setelah peristiwa itu jabatan Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad) diisi oleh Soeharto, dengan dukungan dari Nasution. 

Nasution merupakan tokoh paling berpengaruh di Angkatan Darat. Beliau juga menjadi sasaran dalam peristiwa Gestok. Akibat rasa marah dan benci terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI), yang terlibat dalam peristiwa tersebut, Soeharto mampu menarik dukungan dari Nasution karena berjanji akan menumpas PKI. Bahkan Nasution lah yang mendesak Soekarno agar menjadikan Soeharto Menpangad. Dengan jabatan itu Soeharto langsung mengerahkan segala sumber daya Angkatan Darat untuk membasmi dan mendiskreditkan PKI. Ini membuat Soeharto mendapat dukungan rakyat dan beberapa Perwira Militer, seperti Nasution (Hughes, J. 2002).

Keblunderan Soekarno

Sementara itu, situasi pasca 1 Oktober 1965, mengutip dari Zaman Peralihan-nya Soe Hok Gie sangat mendekati Anarki. Menurut Soe banyak pembasmian kelompok kiri oleh Tentara tetapi tanpa restu atau dukungan dari Soekarno, yang sejak 1959 harusnya merupakan penguasa tunggal. Kondisi politik Indonesia seperti lumpuh dan tidak mampu menertibkan keadaan. 

Seharusnya jika itu melawan kehendak Soekarno, dia harusnya turun tangan mencegah atau menertibkan. Tetapi faktanya tidak. Menurut Harold Crouch dalam buku The Army and Politics in Indonesia, Soekarno berkali-kali menolak mengecam PKI. Ini membuat masyarakat dan beberapa orang di pemerintahan dan militer menjadi sinis terhadap Soekarno. 

Pada tanggal 21 Desember 1965, Soekarno melakukan blunder terbesar. Soekarno yang saat itu sedang mendapat kritikan dan demonstrasi malah memberikan pidato yang isinya mengingatkan Indonesia akan jasa kaum komunis dalam membentuk negara Indonesia. Ini menurunkan kepercayaan publik terhadap-nya (Soe Hok Gie, 1995; Crouch, H. 2007).

Tritura dan Dipecatnya Nasution

Pada tanggal 10 Januari 1966 rakyat Indonesia turun ke jalan dan mengeluarkan tiga maklumat bernama Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura). Hal ini menyebabkan Jakarta penuh dengan aksi demonstrasi. Nasution yang saat itu sangat populer di kalangan aktivis dan masyarakat, diundang oleh kelompok aktivis Koalisi Aksi Mahasiswa Indonesia (Kami) ke Universitas Indonesia (UI). 

Di UI, Nasution berorasi tentang keadaan ekonomi dan mengkritik Soekarno. Hal ini membuat Nasution dipecat dari jabatannya sebagai Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan/ Kepala Staf Angkatan Bersenjata(Menko Hankam/KASAB) pada 8 Februari 1966. Hal itu justru membuat sentimen anti-Soekarno di Militer dan masyarakat semakin besar (Crouch, H. 2007).

Semua Bukti Mengarah ke Soeharto

Peristiwa 1965 dan dipecatnya Nasution memunculkan figur-figur Militer yang menurut sejarawan Salim Said dalam bukunya Dari Gestapu Ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian, sebagai the kingmaker dalam proses naiknya Soeharto ke kursi kepresidenan. Semuanya adalah orang yang masuk lingkaran kekuasaan Soeharto, setelah menjadi presiden. Ada Komandan Resimen Para-Komando Angkatan Darat (RPKAD) Sarwo Edhie Wibowo. Sejak Oktober 1965 dia sudah bergerak untuk membasmi PKI. 

Hal ini membuatnya dekat dengan kalangan aktivis dan tokoh politik anti-Soekarno dan PKI. Sarwo Edhie adalah teman dekat Ahmad Yani. Ini membuat Sarwo marah saat Yani dibunuh. Soeharto, menurut Harold Crouch dengan sigap langsung menarik Sarwo Edhi ke kelompoknya. Malahan Soeharto lah, menurut Julius Pour yang memerintahkan Sarwo Edhie untuk membasmi PKI. Setelah itu Anak buahnya akan menjadi pasukan liar yang menekan Soekarno untuk menandatangani surat perintah itu, atas perintah dari Kepala Staf Kostrad Kemal Idris (Said, S. 2013; Crouch, H. 2007).

Ada juga Kemal Idris. Sebagai anak buahnya Nasution, saat peristiwa 17 Juli 1952, Kemal tertendang dari Militer. Nanti akan dikembalikan oleh Ahmad Yani ke Angkatan Darat. Setelah Berbeda pendapat dengan Yani, Kemal dibuang ke Kostrad, yang pada saat itu dipimpin oleh Soeharto. Menurut Salim Said Soeharto lah yang mengangkat Kemal menjadi Pangkostrad, saat Soeharto naik menjadi Menpangad. 

Menurut Crouch, melalui loyalisnya Soeharto, Ali Murtopo, Kemal juga melaporkan segala perkembangan pergerakannya kepada Soeharto. Semuanya sampai saat Soeharto mendapat mandat dari Soekarno. Ini menunjukan dekatnya hubungan antara Kemal dan Soeharto. Dia juga orang yang memerintahkan agar dikirimnya pasukan RPKAD ke istana negara. Saat itu Kemal menjabat sebagai Kepala Staf Kostrad dan berhasil mendapat legitimasi dari Panglima Daerah Militer Jakarta Raya (Pangdam Jaya) Umar Wirahadikusumah, untuk mengambil alih komando wilayah Jakarta. Umar juga merupakan loyalisnya Soeharto (Said, S. 2013; Crouch, H. 2007).

Mungkin pembaca akan bertanya. Di mana Soeharto dari Tritura hingga 11 Maret 1966. Crouch berkata bahwa Soeharto justru tidak mengambil sikap secara terbuka menentang Soekarno. Malahan menurut Soekarno Soeharto lebih bisa dipercaya dari semua perwira Angkatan Darat yang lain. Crouch berkata bahwa Soekarno tidak tau siapa di Angkatan Darat yang bisa dipercayai. Ini dibuktikan bahwa saat rencana Sarwo dan Kemal untuk mengirim pasukan ke istana, menggunakan RPKAD berhasil diketahui oleh Soekarno, Soekarno memilih agar supaya Soeharto saja yang bisa dipercayai. Ini dikarenakan Soeharto bukan dari RPKAD (Crouch, H. 2007).

Berdasarkan bukti yang sudah dipaparkan di paragraf 7 dan 8, semua yang bergerak pada tanggal 11 Maret 1966 ke istana negara memang digerakan oleh Kemal dan Sarwo. Tetapi Sarwo dan Kemal itu sendiri merupakan loyalisnya Soeharto. Tidak hanya mereka. Saat pergerakan pasukan RPKAD pimpinan Sarwo dan Kemal diketahui oleh pihak Soekarno, salah satu loyalis Soeharto di dalam kelompok loyalisnya Soekarno, Amir Machmud justru mencoba memberitahukan anggota Tjakrabirawa yang mengawal istana pada hari itu bahwa itu bukan apa-apa. 

Entah dengan tujuan apa tapi setelah dipikir-pikir hal itu akan memudahkan pasukan tersebut masuk ke istana. Soekarno yang akhirnya tahu akan adanya pasukan tersebut akhirnya memutuskan mengungsi ke Bogor. Amir Machmud yang mengetahui Soekarno pindah ke Bogor langsung melaporkannya kepada Soeharto. Barulah dia, Muhammad Jusuf dan Basuki Rachmat mengantar Supersemar ke Bogor untuk ditandatangani oleh Soekarno. Setelah itu sejarah terjadi (Crouch, H. 2007).

Soeharto sendiri pernah bermain dua kaki. Menurut Soebandrio dalam Yang Saya Alami: Peristiwa G30s: Sebelum, saat meletus dan sesudahnya saat peristiwa Kudeta 3 Juli 1946 terhadap Sutan Sjahrir, Soeharto awalnya juga mendukung. Begitu terlihat akan gagal Soeharto menjadi orang pertama yang meringkus semua komplotan pelaku kudeta (Soebandrio, 2006). 

Kesimpulan

Dengan adanya hubungan erat antara para pelaku sejarah dari saat tritura hingga supersemar dengan Soeharto, ditambah dengan peristiwa sebelumnya yang dimana Soeharto pernah bermain dua kaki, dan kenaifan Soekarno dalam menilai Soeharto menyebabkan Supersemar terjadi. 


Referensi

Crouch, H. (2007). The army and politics in Indonesia. Equinox Publishing.
Hughes, J. (2002). The end of Sukarno: A coup that misfired: A purge that ran wild. Editions Didier Millet. 

Pour, J. (2010). Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan dan Petualang. Kompas. ISBN 978-979-709-524-6.

Soe Hok Gie. (1995). Zaman peralihan. LP3ES.

Said, S. (2013). Dari Gestapu ke reformasi: Serangkaian kesaksian. Mizan. ISBN 9789794338162.

Soebandrio. (2006). Yang saya alami peristiwa G30S: Sebelum, saat meletus dan sesudahnya. Jakarta: Bumi Intitama Sejahtera. ISBN 9799555396.



 Oleh Dimas Rasyid Aliansyah 

Post a Comment

Previous Post Next Post