Senjata “Balas Dendam” Jerman Pada Era Perang Dunia II dan Upaya Sekutu Menangkalnya


Juli 1940, masa di mana Inggris Raya satu-satunya menghadapi Blok Poros di Eropa, yang merupakan gabungan antara Jerman dan Italia. Kedua belah pihak saling beradu di langit Inggris. Berkat kemampuan Inggris dalam mengatur pertahanannya, dalam bentuk jaringan alat pendeteksi dini musuh yang tersentralisasi menjadikan Jerman mengurungkan niat untuk menginvasi Inggris karena belum berhasil mengalahkan kekuatan udaranya.

Maka pada tanggal 7 September 1940 Jerman beralih menggunakan taktik perang psikologis, yakni dengan menargetkan sasaran sipil. Kota-kota besar seperti London dibom habis-habisan. Tetapi hingga tahun 1942 Inggris masih belum mampu dilumpuhkan. Pemimpin Jerman, Adolf Hitler memutuskan untuk menyerang Inggris menggunakan senjata jarak jauh yang kelak menghasilkan misil darat-ke-darat pertama di dunia (Ojong, 2018).

Proyek roket Jerman merupakan jawaban atas kekalahan negara tersebut dalam Perang Dunia Pertama. Kekalahan dalam perang tersebut memaksa Jerman menandatangani Perjanjian Versailles 1919. Salah satu isi perjanjian itu bahwa Jerman wajib mengurangi produksi dan kepemilikan senjata artileri. Pengurangan ini membuat militer Jerman tidak memiliki kemampuan menembak jarak jauh yang cukup.

Oleh karena itu di tahun 1920-an seorang ilmuan astrofisika Jerman Hermann Oberth mengajukan rencana kepada partai Nasional-Sosialis Jerman (Nazi), yang kelak menjadi penguasa tunggal Jerman untuk membuat program roket. Saat Nazi berkuasa di tahun 30-an Hermann Oberth dan kelompok ilmuan yang ia pimpin akan direkrut oleh Wehrmacht atau Angkatan Bersenjata Jerman untuk merancang teknologi ini (Hunt, 2019). 

Di saat Perang Dunia Kedua pecah, Jerman banyak bereksperimen dengan senjata baru. Namun, secara khusus proyek roket ini baru mulai berbuah dan difokuskan pada tahun 1942. Lebih tepatnya setelah peristiwa perang udara di langit Inggris. Saat itu Jerman memilih untuk mengubah taktik.

Tidak lagi menggunakan pesawat melainkan menggunakan roket atau misil darat-ke-darat. Proyek ini dinamakan operasi Eisbar atau Operasi Beruang Kutub. Sedangkan untuk nama senjatanya dinamai Vergeltungswaffe 1 dan 2 atau dalam bahasa Indonesia senjata balas dendam kesatu dan kedua (Hunt, 2019; Williams, 2013).

Vergeltungswaffe 1 merupakan model misil yang menyerupai pesawat jenis mono. Misil ini berbentuk cekung dan bersayap konvensional. Benda ini juga bertenaga jet propoulsi atau ramjet, atau mesin bertenaga jet konvensional.

Cara meluncurkannya adalah dengan meletakkan benda ini di mesin-ketapel dan diluncurkan sehingga memantik bagian propulsinya aktif dan mesin jet di belakangnya. Saat mendekati sasaran, objek akan menurun berkat bantuan alat pemberat yang terletak di bawah sayap. Lalu hulu ledak akan aktif saat objek menabrak sasaran (Kearse, 2025).

Sedangkan Vergeltungswaffe 2 bisa dibilang merupakan berbentuk mirip seperti rudal atau misil yang biasa dipakai di peperangan modern, dengan bertenaga jet propelan-cair. Cara meluncurkannya adalah dengan menyalakan mesin jet. Roket baru akan dikendalikan saat sudah lepas landas dengan menggunakan dua gyroscope.

Satu gyroscope bertugas untuk mengendalikan roket agar sesuai jalur yang diinginkan. Satunya lagi bertugas membidikkan hingga menjatuhkan tepat mengenai sasaran. Barulah hulu ledaknya akan aktif (Campbell, 2021). 

Senjata-senjata ini pada awalnya direncanakan untuk beroperasi pada bulan Desember 1943. Namun Inggris berhasil memundurkan tenggat waktu jadi beberapa bulan. Tanpa diketahui oleh Jerman, informasi akan upaya Jerman membuat teknologi roket sudah bocor ke pihak Inggris.

Pada November 1939, saat perang dunia kedua masih berlangsung selama tiga bulan sebuah laporan rahasia yang sampai di atase pertahanan Inggris di kedutaan besar di Oslo, Norwegia. Di tahun 1980 fisikawan Jerman bernama Hans Ferdinand Mayer akhirnya mengakui bahwa dia yang mengirim laporan rahasia tersebut. Namun, asisten direktur intelijen Kementerian Udara Inggris, Reginald Victor Jones menganggap bahwa informasi itu kurang berharga.

Ini dikarenakan laporan tersebut tidak menyebutkan secara spesifik senjata jenis apa yang dibuat. Bahwa Jerman pada waktu itu sedang membuat senjata yang canggih (Williams, 2013).

Beberapa tahun kemudian, pada Maret 1942 pesawat pengintai Inggris berjenis Spitfire PR XI berhasil mengabadikan gambar pangkalan Jerman di Peenemunde. Setelah diteliti oleh divisi Intelijen-Gambar di Mendheim, ditemukan bangunan atau objek yang mirip dengan bentuk peluncuran objek atau proyektil berpropolsi, atau lebih gampangnya fasilitas peluncur benda terbang.

Setelah banyak foto-foto yang terus bermunculan dari pangkalan itu, banyak hal baru terungkap seperti sebuah proyektil berbentuk lengkung. Ditambah lagi dengan hasil penyadapan oleh intelijen Inggris di Trent Park, yang ditinggali oleh perwira tinggi militer Jerman yang ditawan Inggris, yang mengonfirmasi bahwa Jerman memang menjalankan program roket atau misil berdasarkan pembicaraan salah satu perwira yang tahu akan keberadaan proyek tersebut.

Sejak saat itu Inggris menyusun rencana untuk mengebom tempat peluncuran dan pembuatan roket dalam bentuk Operasi Busur Silang atau Crossbow dan Operasi Hydra (Williams, 2013; Hunt,  2019).

Operasi Hydra dan Crossbow berhasil menunda peluncuran roket hingga seminggu setelah sekutu barat mendarat di Perancis, pada bulan Juni tahun 1944. Ini dikarenakan produksi roket harus tertunda sebab beberapa fasilitas pembuatan hancur terkena serangan bom Inggris dan Amerika Serikat (AS).

Beberapa tempat peluncuran pun juga hancur oleh bom Sekutu. Seperti di Bois Carre, Perancis yang menjadi tempat peluncuran karena langsung menghadap daratan Inggris. Roket V1 menjadi yang pertama diluncurkan dan menyasar London. Sedangkan V2 baru diluncurkan bulan September 1944 dan menyasar Portsmouth dan London.

Tetapi dikarenakan senjata ini baru meluncur saat sekutu barat sudah memasuki Eropa Barat, menjadikan Jerman tidak dapat memaksimalkan potensi senjata-senjata ini sebab tempat peluncuran dan pembuatan berada dalam jangkauan sekutu, yang memudahkan mereka menghancurkan dan menguasainya.

Sebuah potensi yang seandainya dimanfaatkan Jerman akan mengubah hasil dari perang dunia kedua yang kita ketahui bersama (Zaloga, 2018; Williams, 2013). 


Rujukan

Campbell, E. (2021, June 11). The V2 rocket – how it worked and how we acquired it. Australian War Memorial. https://www.awm.gov.au/articles/blog/v2rocket

Ojong, P. K. (2018). Perang Eropa Jilid 1 (Edisi Revisi). Kompas. ISBN 978-602-412-598-1.

Kearse, A. (2025). The Royal Aircraft Establishment and The V1 (Paper 2025/01). Journal of Aeronautical History. Journal of Aeronautical History; Royal Aeronautical Society.

Williams, A. (2013). Operation Crossbow: The Untold Story of Photographic Intelligence and the Search for Hitler’s Secret Weapons. Random House UK. ISBN 9781848093072.

Zaloga, S. J. (2018). Operation Crossbow 1944: Hunting Hitler’s V-weapons (Air Campaign). Osprey Publishing. ISBN 9781472826145.

Grehan, J. (2020). Hitler’s V-Weapons: The Battle Against the V-1 and V-2 in WWII, an Official History. Frontline Books. ISBN 9781526770059.

Hunt, B. (2019). Lost in Space: The Defeat of The V‑2 and Post‑War British exploitation of German Long‑Range Rocket Technology (Air and Space Power Review, Vol. 22, No. 2). Royal Air Force Centre for Air and Space Power Studies. https://www.raf.mod.uk/what-we-do/centre-for-air-and-space-power-studies/aspr/aspr-vol22-iss2-8-pdf/

Marshall, T. (2021). The Power of Geography: Ten Maps That Reveal the Future of Our World. Scribner. ISBN 9781982178628.


Oleh Dimas Rasyid Aliansyah


Post a Comment

Previous Post Next Post