“Belajar dari sungai, untuk menerima dan merangkul perbedaan, seperti cinta yang tak mengenal batas.”
Puisi "Sungai yang Tidak Pernah," karya Walidha Tanjung Files yang dimuat dalam harian Sinar Indonesia Baru (SIB) edisi 1 Desember 2024, melampaui sekadar deskripsi alamiah. Ia merupakan alegori yang secara cermat membangun sebuah kritik sosial terhadap dinamika kehidupan manusia dan kecenderungannya untuk membatasi aliran kehidupan yang seharusnya harmonis dan egaliter.
Melalui penggunaan metafora sungai yang mengalir bebas dan tembok-tembok buatan manusia, puisi ini secara efektif mengungkap sifat eksklusif dan diskriminatif yang menghambat terwujudnya keadilan dan inklusivitas. Lebih jauh lagi, penggunaan mimpi tentang Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), tokoh yang dikenal luas akan komitmennya pada nilai-nilai pluralisme dan toleransi, memperkuat pesan utama puisi ini, yang mencapai puncaknya pada ungkapan penuh makna: “seperti cinta yang tidak mengenal perbedaan warna.”
Penggunaan metafora sungai sebagai representasi aliran kehidupan merupakan strategi puitis yang efektif. Bait pembuka, “Sungai mengalir, membawa serpihan daun, botol-botol kosong, dan doa-doa yang terjatuh dari bibir,” menunjukkan dinamika kehidupan yang terus bergerak, mengangkut berbagai elemen, baik yang bernilai maupun yang remeh. Doa-doa yang terjatuh merepresentasikan harapan dan aspirasi manusia yang seringkali terlupakan atau terabaikan dalam arus kehidupan yang deras. Ketidakpedulian sungai terhadap kualitas air mata.
“Sungai itu tidak pernah bertanya apakah air matamu lebih suci daripada air mata mereka.” menunjukkan sifatnya yang inklusif dan tidak diskriminatif. Sungai, dalam konteks ini, merupakan simbol kehidupan yang menerima semua tanpa menghakimi, menunjukkan idealnya keadilan dan kesetaraan. Namun, kontras yang tajam dan sengaja dibangun penyair muncul dengan perilaku manusia di tepi sungai. “Tapi di tepi sungai, kita mendirikan tembok-tembok. 'Kita butuh batas,' katamu,” menunjukkan bagaimana manusia, didorong oleh ego, ambisi, dan kepentingan sempit, membangun pembatas-pembatas yang secara sengaja menghalangi aliran kehidupan alami. Tembok-tembok ini, jauh melampaui arti literalnya sebagai konstruksi fisik, merepresentasikan berbagai bentuk diskriminasi, eksklusivitas, dan pembatasan sosial yang menciptakan ketidaksetaraan.
Mereka adalah simbol dari pembatasan akses terhadap sumber daya, peluang, dan partisipasi sosial yang adil. Konsekuensi dari tindakan ini digambarkan secara eksplisit: “Sekarang tembok-tembok itu memecah air menjadi genangan, dan genangan menjadi rawa-rawa.” Genangan dan rawa-rawa menjadi metafora yang kuat untuk menggambarkan stagnasi sosial, ketidakadilan sistemik, dan kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh pembatasan dan eksklusivitas.
Penggunaan mimpi tentang Gus Dur sebagai elemen naratif dalam puisi menambahkan lapisan makna yang mendalam. “Dalam mimpiku Gus Dur berkata: ‘Air tidak pernah bertanya, manusia tak punya hak membendung alirannya.’” Pesan Gus Dur, yang dikenal luas sebagai tokoh yang memperjuangkan toleransi dan keadilan sosial, menegaskan sifat alami kehidupan yang bebas mengalir dan menolak segala bentuk pembatasan buatan manusia. Air, sebagai simbol kehidupan, tidak pernah mempertanyakan kelayakan siapa pun untuk menerimanya. Manusia, dengan tindakannya membendung aliran sungai, menunjukkan ketidakadilan dan ketidakpedulian terhadap sesama. Penggunaan mimpi ini bukan hanya sebagai perangkat estetis, tetapi juga sebagai penguatan pesan moral puisi.
Pertanyaan retoris, “Siapa yang lebih layak untuk minum?”, mengungkap inti permasalahan yang diangkat. Pertanyaan ini mengungkap sifat diskriminatif dan egoisme manusia yang selalu ingin mengklaim hak eksklusif atas sumber daya dan kesempatan. Namun, sungai tetap mengalir, “airnya meluap, merobohkan dinding-dinding yang sombong,” menunjukkan kekuatan kehidupan yang tak terbendung dan kemampuannya untuk mengatasi hambatan buatan manusia. Air sungai yang “menyentuh ladang milik siapa pun” menunjukkan sifatnya yang inklusif dan universal, sebagaimana diungkapkan pada kalimat puncak puisi: “seperti cinta yang tidak mengenal perbedaan warna.”
Kalimat “seperti cinta yang tidak mengenal perbedaan warna” bukan sekadar penutup, melainkan inti sari dari keseluruhan pesan puisi. Ia merupakan sintesis dari seluruh metafora dan tema yang diangkat. Cinta, dalam konteks ini, mewakili kekuatan universal yang mampu menghancurkan tembok-tembok pembatas yang dibangun manusia. Ia mewakili ideal inklusivitas dan penerimaan perbedaan, sejalan dengan sifat egaliter sungai yang menerima semua tanpa menghakimi. Kalimat ini menawarkan harapan dan optimisme; meskipun kehidupan penuh dengan hambatan, cinta memiliki kekuatan untuk menuntun kita menuju dunia yang lebih baik, lebih adil, dan lebih harmonis. Dengan demikian, puisi ini tidak hanya mengkritik, tetapi juga menawarkan solusi: cinta sebagai kekuatan transformatif yang mampu meruntuhkan batasan-batasan buatan manusia.
Puisi “Sungai yang Tidak Pernah” merupakan karya sastra yang kaya akan simbolisme dan pesan moral yang mendalam. Melalui penggunaan metafora yang cermat, penggunaan mimpi sebagai perangkat naratif, dan penempatan kalimat puncak yang penuh makna, puisi ini secara efektif mengkritik sifat eksklusif dan diskriminatif manusia, serta menawarkan cinta sebagai solusi untuk menciptakan kehidupan yang lebih inklusif dan harmonis.
Pesan puisi ini, berpuncak pada ungkapan “seperti cinta yang tidak mengenal perbedaan warna,” tetap relevan dan penting dalam konteks kehidupan sosial yang masih diwarnai oleh berbagai bentuk ketidakadilan dan diskriminasi. Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan peran mereka dalam menciptakan dunia yang lebih adil dan penuh kasih sayang.
Jakarta, 12 Desember 2024
Penulis: Erna Wiyono lahir di Bogor pada 16 Oktober, adalah visual artist, writer, journalist, visual arts educator, creative director, dan Indonesia dancer. Karya-karya tulisnya pernah dimuat di The Asianparent Community, potretmaluku.id, Sinar Indonesia Baru, Jawa Pos Radar Jember, Halo Jember, Radar Utara, Jawa Pos, Jawa Pos Radar Kediri, sastramedia.com, korea.net, hallo.id, negerikertas.com, sastranews, Elipsis, Fokusmetrosulbar, fimela.com, dll. Erna aktif berpameran lukisan di antaranya; Pameran Postcards From Indonesia Series 1 “Kartu Pos dari Indonesia untuk Swiss” 10-16 Maret @Siggenthal Pastoralraum, Baden-Switzerland. Bogor Beauty N’Bizarre Art Exhibition 4 – 11 Juni 2023 @Botani Square Mall Bogor, Pameran Seni Rupa dan NFT Re Identify #1 & #2 Bentara Budaya Jakarta & Galeri Astra lt.5, Jakarta, “Kunst in der Kapelle”, BadenART exhibition, 18-27 Agustus 2023, Baden, Switzerland, dll. Hubungi dia di nomor telepon 08118860280, atau di Facebook Erna Winarsih Wiyono, Instagram @erna_w_wiyono_nana, dan email ernawinarsihwiyonomeetup@gmail.com
Editor: Hilmi Baskoro
Lampiran:
Teks puisi “Sungai yang Tak Pernah”
Sungai yang Tidak Pernah
Sungai mengalir, membawa serpihan daun,
Botol-botol kosong, dan doa-doa yang terjatuh dari bibir.
Sungai itu tidak pernah bertanya
Apakah air matamu lebih suci
Dari air mata mereka.
Tapi di tepi sungai, kita mendirikan tembok-tembok.
“Kita butuh batas,” katamu.
Sekarang tembok-tembok itu
Memecah air menjadi genangan,
Dan genangan menjadi rawa-rawa
Dalam mimpiku Gus Dur berkata:
“Air tidak pernah bertanya,
Manusia tak punya hak membendung alirnya.”
Tapi kita tetap memaksa bertanya:
Siapa yang lebih layak untuk minum?
Sungai itu masih terus mengalir, airnya meluap
Merobohkan dinding-dinding yang sombong
Menyentuh ladang milik siapa pun,
Seperti doa yang melampaui agama-agama,
Seperti cinta yang tidak mengenal perbedaan warna.
Madiun, 2024
Walidha Tanjung Files
*)Dimuat Koran Harian SIB (Sinar Indonesia Baru) 1 Desember 2024
“Dalam mimpiku Gus Dur berkata”, Satu dari Lima puisi yang akan dibacakan pada peringatan Haul Gus Dur ke-15.