Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama atas tragedi banjir bandang di Sumatra yang tidak dapat lagi dipandang semata sebagai bencana alam, melainkan sebagai bagian dari krisis ekologis yang sistemik.
Diskusi menghadirkan Fadhilah dari Biro Kajian Lingkungan Ekologis dan Dimas dari Biro Kajian Sosial-Politik sebagai pemantik. Acara dimoderatori oleh Naufal dari Biro Kajian Lingkungan Ekologis Rantai Indonesia.
Kegiatan ditutup dengan pernyataan sikap dan doa bersama sebagai bentuk solidaritas terhadap para korban.
Dalam pemaparannya, Fadhilah menekankan bahwa deforestasi, alih fungsi lahan, serta eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali telah mempercepat degradasi lingkungan di berbagai wilayah Sumatra.
Kondisi ini memperbesar risiko bencana hidrometeorologis seperti banjir bandang dan longsor. Ia juga menyoroti pentingnya membaca bencana secara ekologis dan struktural, bukan sekadar sebagai peristiwa alam yang terlepas dari aktivitas manusia.
Sementara itu, Dimas mengulas dimensi politik dan hukum di balik krisis ekologis. Ia menjelaskan bahwa lemahnya pengawasan, konflik kepentingan, serta minimnya penegakan hukum terhadap pelanggaran lingkungan bisa memperparah situasi.
Menurut Dimas, hal ini bisa menyebabkan ancaman keamanan, seperti potensi akan adanya konflik vertikal.
Dimas menambahkan, wacana ekosida perlu terus dikaji sebagai perspektif kritis dalam melihat tanggung jawab negara dan korporasi terhadap kerusakan lingkungan yang berdampak pada hilangnya nyawa.
Moderator Naufal menggarisbawahi pentingnya ruang diskusi alternatif yang berbasis kajian. Ia menegaskan bahwa forum seperti ini menjadi wadah untuk menghubungkan bacaan, data, dan keresahan warga dalam satu ruang dialog yang reflektif dan solutif.
Dalam pernyataannya, Fadhilah menyampaikan harapan agar semakin banyak pihak yang terlibat dalam setiap sesi diskusi Rantai Indonesia.
“Kami menganggap ini sebagai ruang alternatif yang aman untuk menyelenggarakan forum diskusi, kembali pada sumber-sumber bacaan maupun suara warga di tengah berbagai tekanan terhadap ruang alternatif hari ini,” ujarnya.
Dimas juga menambahkan bahwa di tengah derasnya arus informasi yang kerap sulit diverifikasi, kehadiran forum kajian strategis seperti Rantai menjadi penting.
“Informasi hari ini sangat beragam dan hampir banyak yang sulit dipercaya. Kehadiran Rantai bersama tim kajian strategis yang dengan melakukan pengkajian terlebih dahulu terhadap informasi yang beredar, menjadikan forum ini sebagai media untuk menyatukan informasi dan pemikiran yang didapat, dengan tetap mengedepankan objektivitas,” jelasnya.
Publikasi kegiatan oleh Divisi Publikasi dan Propaganda Rantai dilakukan juga dengan mempertimbangkan aspek keamanan dan kenyamanan seluruh pihak yang terlibat, tanpa mengurangi substansi pesan yang ingin disampaikan kepada publik.
Publikasi kegiatan di laman media sosial Instagram: @rantaiindonesia menggunakan kata-kata pemantik yang dapat memancing rasa penasaran pembaca, di mana harapannya akan lebih banyak lagi orang yang berminat dengan Rantai dan agenda-agenda diskusinya.
Melalui diskusi ini, Rantai Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang dialog kritis, memperkuat literasi ekologis dan politik, serta mendorong kesadaran kolektif bahwa krisis lingkungan adalah persoalan kemanusiaan yang menuntut tanggung jawab bersama.
Penulis: Fadhilah Ayu, tim Rantai Indonesia
Editor: Hilmi Baskoro
0 Comments