Terus terang saya muak mendengar konflik Banyuwangi dengan ketiga tetangganya itu. Sudah saatnya empat kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini melenyapkan ego sektoral.
Percayalah, mereka harus memandang kawasan ini sebagai kesatuan yang bisa maju bersama bermodalkan potensi masing-masing.
Meskipun, ya, harus diakui, terkadang konflik semacam itu mampu memotivasi berlomba-lomba untuk lebih maju. Namun, saya percaya bahwa melangkah bersama jauh lebih baik.
Sebagai kelahiran Banyuwangi, yang pernah menetap tujuh tahun di Situbondo, dua tahun di Jember, dan 15 bulan di Bondowoso, sedikit banyak saya mengikuti konflik-konflik itu. Coba kita ingat-ingat beberapa darinya.
Pertama, kembali ke beberapa tahun lalu, saat Banyuwangi berkonflik dengan Bondowoso. Keduanya rebutan “aset” penting tempat api biru yang langka berkobar: Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen.
Akibat konflik itu, Kota Tapai, julukan Bondowoso, sampai mengubah nama salah satu kecamatannya, dari Sempol menjadi Kecamatan Ijen, demi mengidentikkan Ijen sebagai milik Bondowoso.
Kasus itu sampai diseret ke bawah palu hakim, dan pada 2022, Pemkab Bondowoso dinyatakan menang atas sengketa tersebut, dengan pembagian 1/3 masuk wilayah Bondowoso dan 2/3 masuk wilayah Banyuwangi.
Dan benar saja, Banyuwangi yang lebih banyak merasakan dampak dari Kawah Ijen, terutama di sektor pariwisata.
Wisatawan yang ke Kawah Ijen lebih banyak lewat Banyuwangi, menginap di hotel-hotel berbintang Banyuwangi, dan menyantap kuliner khas Banyuwangi.
Mereka juga membelanjakan uangnya di Banyuwangi, sehingga yang terpatri di benak wisatawan, Kawah Ijen sepenuhnya masuk wilayah Banyuwangi.
Selanjutnya, kita kembali ke bulan April lalu. Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo (Mas Rio), berencana memecah kecamatan Banyuputih menjadi kecamatan baru, yakni Kecamatan Baluran.
Tujuannya untuk menegaskan Taman Nasional Baluran sebagai bagian dari Situbondo. Menurut Mas Rio, selama ini nama Baluran lebih melekat dengan Banyuwangi.
Pernyataan itu menuai respon negatif dari netizen Banyuwangi. Mereka menyalahkan pemerintah Kota Santri (julukan Situbondo) yang selama ini setengah hati dalam mempromosikan Baluran.
Sementara di saat Baluran lebih melekat dengan Banyuwangi, Situbondo berlagak layaknya korban pencaplokan teritorial.
Hal semacam itu tidak seharusnya terjadi. Alih-alih menyindir, lebih baik Mas Rio menemui Bupati Banyuwangi Ipuk Festiandani (Bu Ipuk), bicara baik-baik.
Memikirkan bersama bagaimana caranya agar konsentrasi wisatawan Baluran tidak hanya menumpuk di Banyuwangi, tapi juga di Situbondo.
Mas Rio bisa menawarkan satu atau dua hal, entah itu paket wisata, kuliner, atau buah tangan yang dimiliki Situbondo, tapi tidak dimiliki Banyuwangi. Hal itu akan memberikan tambahan pengalaman bagi yang melancong ke Baluran.
Apalagi satu-satunya jalur darat menuju Baluran dari ibu kota Jawa Timur, Surabaya, harus melewati Situbondo. Itu menjadi peluang besar agar wisatawan mampir ke Situbondo.
Dan yang lumayan hangat banget, Banyuwangi senggol-senggolan dengan Jember soal bandara. Hal itu dimulai dengan kabar Bandara Notohadinegoro Jember yang diaktifkan kembali.
Dalam pidatonya, Bupati Jember Muhammad Fawait (Gus Fawait) membanggakan harga tiket pesawat Jember-Jakarta yang lebih terjangkau dibanding di bandara daerah lain.
Tanpa menyebut nama daerahnya, netizen tahu yang dimaksud Gus Fawait adalah satu-satunya tetangganya yang punya bandara, Banyuwangi.
Ternyata, perbedaan harga itu dikarenakan pesawat yang dipakai Jember merupakan jenis ATR, yang kualitasnya di bawah Boeing atau Airbus yang dipakai Banyuwangi.
Selain itu, fasilitas Bandara Banyuwangi yang lebih lengkap dan memadai bisa menjadi salah satu alasan lainnya. Sebenarnya, daripada saling membandingkan, lebih baik saling mendukung.
Selain konflik-konflik itu, ada satu hal lain yang menurut saya lucu. Baru-baru ini Pemkab Bondowoso berencana menggandeng Situbondo dan Jember dalam kolaborasi bertajuk selingkar Ijen.
Yang saya sayangkan, tajuk itu jargon belaka. Kerja samanya tidak selingkar. Kerja sama itu tanpa Banyuwangi, yang otomatis lingkarannya tidak tersambung. Saran saya, ganti saja namanya jadi segitiga Ijen.
Menurut Sekretaris Daerah Bondowoso, kerja sama ini dilakukan “untuk mengejar ketertinggalan” (dari Banyuwangi). Sebagai orang yang pernah tinggal di Bondowoso, saya kecewa dengan pernyataan itu.
Padahal, Banyuwangi dan Bondowoso terikat garapan bareng: Ijen UNESCO Global Geopark. Status prestisius level dunia yang tak sembarang kabupaten menyandangnya.
Harusnya mereka berdua dianggap satu kesatuan jika menyangkut Ijen, baru kemudian merangkul Jember dan Situbondo.
Saya sungguh bertanya-tanya, apakah ini adalah sisa remah-remah dendam konflik di pengadilan beberapa tahun yang lalu itu? Meski disatukan geopark, Bondowoso dan Banyuwangi seperti tak sepenuhnya bisa berjalan bersama.
Bicara kembali soal keempat kabupaten ini, mereka sangat mungkin untuk membentuk identitas kawasan bersama. Entah dengan nama Wonderfull Besuki Raya, atau semacamnya. Dengan itu, promosi akan lebih kuat dibanding jalan sendiri-sendiri.
Banyuwangi dengan festival budaya, Situbondo dengan Taman Nasional Baluran dan wisata bahari, Bondowoso dengan kopi arabika Ijen-Raung dan megalitikum, serta Jember dengan Jember Fashion Carnaval dan kampusnya, adalah sepaket wisata lintas-kabupaten yang epik.
Wisatawan bisa menikmati keanekaragaman dalam satu perjalanan. Tinggal infrastruktur transportasi antardaerah saja harus dibangun agar akses terhubung dengan mudah.
Saya membayangkan, Tour de Banyuwangi Ijen diperluas. Pikiran ini pernah diwacanakan pada 2016 oleh bupati Banyuwangi kala itu, Abdullah Azwar Anas, yang berupaya menaikkan level International Tour de Banyuwangi Ijen (ItdBI) dari Union Cycliste Internationale (UCI) kategori 2.2 menjadi kategori 2.1.
Salah satu syaratnya adalah memperpanjang rute dengan merambah kabupaten lain. Saat itu yang dilirik adalah kabupaten di Bali.
Ambisi itu bisa kembali dicanangkan pada gelaran ItdBI (telah berubah nama menjadi Tour de Banyuwangi Ijen, TdBI), tahun berikutnya. Bukan menggandeng kabupaten di Bali, melainkan ketiga kabupaten itu.
Jalur panjang Ijen via Bondowoso, eksotisme alas Baluran, dan menantangnya jalanan Gumitir bisa menjadi pilihan menarik untuk memperpanjang rute.
Tentunya, perlu didukung oleh penguatan ekonomi lokal. Produk unggulan masing-masing (kopi Bondowoso, batik Banyuwangi, tembakau Jember, garam Situbondo), perlu diintegrasikan.
Kolaborasi pendidikan dan riset. Perguruan-perguruan tinggi besar di Jember bisa menjadi pusatnya. Yang lain bisa menjadi satelit-satelit laboratorium lokal.
Termasuk dalam riset pariwisata, agrikultur, ekonomi kreatif, dan lingkungan. Dengan begitu, pembangunan berbasis ilmu pengetahuan bisa lebih terarah.
Semua itu tentu saja harus ditopang dengan Pengembangan jalur jalan, kereta, hingga bandara dalam konteks konektivitas kawasan. Hal ini akan memudahkan mobilitas wisatawan dan perdagangan.
Penutupan Gumitir dan macetnya jalur Banyuwangi-Situbondo yang barusan menjadi pelajaran penting bagi empat kabupaten ini.
Adanya tol Trans Jawa melintasi Situbondo hingga Banyuwangi juga akan memberikan keuntungan besar. Situbondo yang membentang di sepanjang pantai utara Jawa memegang peran sentral sebagai pintu gerbang jalur darat dari Surabaya.
Bondowoso akan kecipratan adanya exit tol di Kecamatan Besuki, Situbondo. Jalan raya Jember-Bondowoso dan sebaliknya akan semakin padat.
Warga Jember bagian kota, utara, dan timur, yang sebelumnya mengakses tol melalui Lumajang kemudian ke Probolinggo, saya yakin akan beralih ke exit tol Besuki. Ekonomi di jalur ini akan makin menggeliat.
Ini kesempatan besar bagi Bondowoso untuk turut mengembangkan potensinya. Salah satu yang menonjol yakni sebagai pusat warisan situs megalitikum terbesar.
Memang, mimpi-mimpi itu tak mudah untuk diwujudkan, namun, selama keempat kabupaten ini bisa dan mau menyamakan visi, semuanya sangat mungkin untuk tercapai.
Cita-cita bersamanya adalah menjadikan ujung timur Pulau Jawa ini sebagai penopang kuat Bali dan Nusa Tenggara (atau bahkan Bali baru, Jabodetabek baru?).
Meminjam istilah Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, keempat kabupaten ini akan menjadi urat nadi Jatim sebagai gerbang Ibu Kota Nusantara.
Penulis: Hilmi Baskoro
Editor: Ahmad Galang