Dunia Perlendiran Mahasiswa

Politik itu tidak hanya jadi makanan orang-orang di Jakarta. Di kampus juga banyak kegiatan politis. Dari yang kelasnya remah rempeyek, sampai kelas ikan kakap siap bakar. Malahan, semua kegiatan politik yang terjadi di Jakarta itu, mulanya berakar dari kampus.

Jember adalah salah satu kota yang bisa dijuluki sebagai kota pendidikan. Meskipun, saya pribadi termasuk golongan orang yang sangsi dengan predikat tersebut. Namun, tanpa kehadiran kampus-kampus itu, bisa dipastikan Jember jadi kota mati. Jumlah kampus di kota ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan kota berpredikat sama. Poin minusnya lagi, tidak ada toko buku yang menyandang title “ngeri”. Hanya ada Gramedia dan Togamas yang menyediakan buku-buku mainstream. Jadi, kalau saudara sekalian ingin mencari Das Kapital atau DBR, harus siap-siap menginstal aplikasi toko online atau titip pada teman yang kuliah di Malang atau Jogja. Namun, kali ini kita tidak akan mem-bully Jember sebagai kota Pendidikan jadi-jadian. Mari kita menyelami dunia perlendiran mahasiswa di kota ini.

Politik adalah Lendir

Sebagian orang menganggap politik sebagai ilmu yang kotor, licik, dan sarat akan nafsu dan kekuasaan. Tidak sedikit orang yang membencinya. Seperti lendir, politik itu licin. Coba perhatikan cara bicara para calon pemimpinmu itu. Janji-janjinya mana ada yang bisa dipegang? Meminjam istilah orang jaman dulu, mereka itu “isuk dele, sore tempe” atau “mencla-mencle omongane”. Selain licin, mereka juga transparan. Membuat setiap perilaku mereka selalu lolos dari penglihatan orang awam. Hinggap di hidung jadi ingus, hinggap di tenggorokan jadi liur, bahkan bunglon saja sampai kalah.

Tidak seperti air yang cepat larut, lendir memiliki kemampuan khusus. Ia lebih slow release dan anehnya bila menemui hambatan mereka cepat menghilang. Menyisakan sedikit jejak tanpa tau lendirnya kemana. Makanya, saya punya love-hate relationship dengan dunia perlendiran itu. Apalagi lendir-lendir kampus.

Antropologi Kampus

Singkat cerita, kampus itu ibarat miniatur negara. Ekskutif diwakili oleh BEM, Legislatif diwakili oleh BPM, dan Yudikatif adalah pihak rektorat itu sendiri. Namun, karena ini miniatur negara, tentu juga ada partai politik, koruptor, maling, sampai ahli nujum, dan kyai-kyainya. Lalu, siapa masyarakatnya? Ya mahasiswa-mahasiswi yang ha-ho ha-ho itu. Mahasiswa yang minim literasi dan buta politik.

Setiap orang di kampus itu memiliki peran. Seperti negara, seluruh pergerakan kampus selalu dikendalikan oleh invisible hand yang bernama partai. Partai-partai ini tentu sudah memiliki akar yang kuat, serta telah memiliki cerita epik dan kepahlawanan masing-masing. Kisah-kisah mereka telah diabadikan menjadi mitos serta dikultuskan oleh para pengikutnya yang loyal.

Medan Laga

Pertarungan antar partai di kampus, bisa disaksikan pada setiap sendi-sendi kehidupan. Setiap senyum yang hadir dari anggota partai bisa jadi adalah bujuk rayu yang bermuara pada tujuan partai. Pertarungan itu juga bisa kita lihat pada tembok-tembok, kursi-kursi, kata-kata, dan yang paling keras tentu pada kontestasi politik kampus.

Di tembok-tembok kita bisa melihat warna partai yang menang, merah berarti dia, kuning berarti dia, dan hijau juga berarti dia. Makanya, tak jarang, setiap pergantian rektor di kampus, turut dilakukan penggantian warna tembok. Bahkan tidak hanya tembok, kemarin, warna tong sampah yang awalnya kuning, sekarang menjadi hijau karena warna adalah simbol. Seperti kurma untuk Islam dan cemara untuk Kristen.

Pertarungan juga bisa kita lihat pada kursi-kursi baru. Tidak hanya kursi, setiap fasilitas gedung, perabot, jasa catering, semua proyek itu pasti melalui restu orang partai. Kalau kata-kata, coba perhatikan gaya bicara dan pidato mereka, setiap partai punya ciri khas. Salam penutup misalnya, atau jargon, bahkan referensi bacaan mereka. Coba kita melek sedikit.

Dan yang paling kentara, tentu saat digelarnya kontestasi politik. Baik itu di tataran mahasiswa maupun civitas akademik, semuanya sama, gelut. Kemarin saja Badan Ekskutif dan Badan Perwakilan bisa bubar gara-gara kepentingan salah satu partai tidak terakomodasi. Bayangkan, sekeras itu sampai-sampai konflik antar partai mengakibatkan sebuah lembaga bubar. Inikan kalau ibarat negara sama dengan membubarkan kabinet beserta DPR-nya sekaligus. Gobloknya lagi yang membubarkan adalah mereka sendiri.

Restu Partai

Seperti omongan bapak Bambang Pacul soal DPR yang manut juragan, di kampus itu sekarang apa-apa harus restu juragan. Makanya, banyak sekali ahli nujum berseliweran di Jember. Tugas mereka jelas untuk memastikan agar adik-adik tidak mengambil jalan yang salah. Para ahli nujum ini tentu bersertifikat. Gelar mereka adalah senior. Oleh karena itu, hari-hari ini kita jarang melihat mahasiswa demo. Pergerakan mahasiswa di Indonesia semenjak 1998 cenderung tidak memiliki narasi besar dalam konteks mengawal kebijakan pemerintah. Wong yang berkuasa seniornya sendiri. Kalau bukan mahasiswa yang punya nyali, tidak bakal ada yang berani.

Hubungan Junior-Senior

Jangan sampai salah memilih senior di perkuliahan, apalagi di partai-partai itu. Bisa modar kalian. Pertama, perkuliahan itu bukan cuman tempat belajar, tetapi juga tempat menjalin relasi. Masa-masa menjadi mahasiswa adalah masa dimana dirimu dihujani oleh berbagai pemahaman baru dengan kebebasan dalam bertindak. Itupun kalau kebetulan memperoleh kesadaran, kalau tidak, ya cukup jadi domba-domba yang secara sewenang-wenang dapat dipanen suaranya ketika pemilu kampus.

Kedua, ketahuilah saudara, di kampus itu ada tangan-tangan besi yang mengendalikanmu. Berbeda dengan masa ketika masih dikerangkeng oleh sekolah, di kampus, Tuhan menjelma jadi banyak agama, banyak aliran, banyak mazhab dengan banyak kyai. Secara tradisional, kyai dipahami sebagai sosok manusia yang mampu memberikan jalan bagi santrinya dalam beragama. Di kampus, banyak kyai dengan Tuhan yang berbeda-beda. Ada yang menyembah ilmu pengetahuan, kemanusiaan, kehormatan, jabatan, sampai duniawi semacam uang.

Mahasiswa sendiri mempunyai peran sosial yang sangat strategis. Ia dianggap sebagai penyambung lidah rakyat yang bebas nilai dan sukarela membela kaum tertindas. Makanya, banyak kekuatan politik yang kemudian ingin mengakomodasi kekuatan mahasiswa. Jadi, berhati-hatilah kalau jadi mahasiswa. Jadilah pribadi yang merdeka. Sekian.

Penulis: Dimas Baskoro, sedang mencari jalan keluar terbaik dari dunia yang terlanjur saya masuki.
Editor: Via Diah Ayu Putri .


Post a Comment

1 Comments