Pendidikan adalah ruang di mana pertanyaan dan jawaban berkelindan. Setiap hari, anak-anak dan remaja menapaki bangku sekolah dan mengikuti rutinitas yang tampak jelas. Tapi apakah rutinitas itu benar-benar membuat mereka bebas, kreatif, dan berdaya? Saya sering membayangkan bagaimana jika pendidikan tidak hanya soal gedung, seragam, dan jadwal pelajaran. Bagaimana jika belajar bisa menyatu dengan kehidupan sehari-hari, alam, dan interaksi nyata dengan orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mendorong saya membayangkan pendidikan yang ideal: pendidikan yang membiarkan rasa ingin tahu berkembang, yang menghargai pengalaman dan keterampilan hidup, serta memberi kebebasan setiap orang untuk belajar sesuai kebutuhan dan minatnya. Pendidikan seperti ini tidak diukur dari nilai ujian atau ijazah semata, tapi dari kemampuan seseorang untuk berpikir, bertindak, dan hidup dengan baik di dunia nyata. Dari sinilah refleksi saya tentang pendidikan informal dan alternatif belajar dimulai, sebuah imajinasi tentang dunia di mana belajar adalah hak dan kesempatan yang setara bagi semua orang, sekaligus sebuah visi di mana belajar menjadi sarana untuk menumbuhkan manusia yang beradab dan bermakna.
Pupus Harapan pada Sekolah Formal yang Ada
Menurut saya, sistem pendidikan formal yang ada di Indonesia sudah tidak dapat ditolong lagi. Masalahnya sudah terlalu akut. Kalaupun ingin diperbaiki, harus melalui perombakan menyeluruh. Berikut beberapa alasan sekolah formal besutan pemerintah tidak tertolong lagi:
Terlalu banyak materi yang tidak diperlukan. Siswa wajib belajar selama 12 tahun. Terlalu banyak materi yang harus dipelajari dan dihafal, misalnya, matematika, fisika, kimia, biologi, sosiologi, geografi, ekonomi, kewarganegaraan, bahasa indonesia, bahasa asing, bahasa daerah, dll. Materi tersebut sebenarnya dapat dikurangi dan dipadatkan menjadi belajar pengetahuan dasar selama enam tahun saja.
Selebihnya bisa diisi dengan praktik dan observasi langsung di lingkungan sekitar. Belajar dari alam dan kehidupan sosial masyarakat. Melakukan kegiatan yang berdampak langsung dalam lingkungan bermasyarakat. Dalam pembelajaran seperti ini sangat memungkinkan untuk disisipkan pembiasaan karakter dan komparasi teori dengan realitas yang benar-benar terjadi di sekitar murid.
Tidak menjawab realitas sehari-hari manusia
Manusia hidup butuh makan, pakaian, rumah, dan pendukung kehidupan lainnya. Yang menjadi pertanyaan, kenapa keterampilan dasar kehidupan ini tidak diajarkan di sekolah? Padahal keterampilan inilah yang diperlukan untuk bertahan hidup. Selain itu, di sekolah formal pengendalian emosi dan ketahanan mental juga tidak diajarkan sebagaimana dibutuhkan untuk berhubungan dengan sesama makhluk hidup lain dan alam.
Kenapa murid “dipaksa” untuk mengikuti satu jalur klise, yaitu sekolah, dapat ijazah, kerja menjadi buruh perusahaan, berkeluarga, kemudian beranak-pinak lalu mati? Kenapa murid tidak diberi kebebasan untuk terhubung dengan alam, sesama manusia, dan memiliki sendiri faktor produksinya?
Sekolah sebagai produsen tenaga kerja untuk kebutuhan industri
Sulit berprasangka baik dengan sistem pendidikan formal yang ada sekarang. Potensi, minat, dan bakat anak didik tidak diwadahi dan dikembangkan oleh sekolah. Semua siswa harus tunduk patuh pada kurikulum yang disediakan sebagai produk propaganda pemerintah pusat. Standarisasi dilakukan demi memenuhi kebutuhan pasar (dalam hal ini pengusaha). Murid disiapkan menjadi tenaga kerja untuk memutar industri-industri milik elit kapitalis. Sekolah mungkin berdalih bahwa mereka mewadahi minat bakat murid melalui kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan tambahan di luar kelas lainnya. Sayang sekali, proporsinya tidak berimbang dibanding pelajaran di kelas yang menentukan kelulusan.
Formalitas itu mahal
Penting untuk dicatat bahwa formalitas sekolah itu sudah sangat akut. Bangunan gedung, administrasi, birokrasi, sarana dan prasarana sekolah fisik dan digital, seragam, dll. Tanpa semua itu, murid masih bisa belajar, kok. Dengan demikian, biaya sekolah menjadi sangat ringan.
Pihak sekolah dan pemerintah mungkin berdalih bahwa sekolah negeri itu gratis. Oh, kenyataannya tidak! Masyarakat masih harus membayar pajak. Dengan kata lain, pendidikan yang diklaim gratis itu tidak pernah benar-benar gratis.
Imajinasi Pendidikan yang Ideal
Karena sudah tidak ada harapan lagi dengan sekolah formal, saya punya solusi alternatif. Sebagai disclaimer, solusi ini mungkin tidak dapat diterapkan untuk semua tipe kelompok masyarakat di Indonesia. Setiap kelompok masyarakat memiliki preferensi dan kebutuhan masing-masing. Mereka bebas memilihnya.
Saya terinspirasi dengan konsep sekolah informal, seperti sekolah alam dan homeschooling. Murid dibebaskan untuk memilih apapun yang hendak dia pelajari. Terutama pengetahuan dan keterampilan hidup dasar. Supaya terarah dan efektif, tentu saja seorang fasilitator dibutuhkan dalam proses belajar-mengajarnya.
Sekolah informal dapat diselenggarakan dalam kelompok kecil masyarakat dengan biaya murah. Tidak perlu formalitas ini dan itu. Ruang kelas mungkin diperlukan untuk belajar dari buku dan refleksi pembelajaran di luar kelas, tetapi proporsi praktik dan observasi lingkungan harus jauh lebih besar sehingga murid dapat terhubung langsung dengan lingkungan sekitarnya.
Salah satu tujuan pendidikan adalah mencetak manusia beradab dan mampu membawa perubahan sosial yang lebih baik. Tentu saja, semua tujuan itu tidak bisa dibebankan sepenuhnya pada murid. Kesuksesan tujuan mulia itu harus ditopang oleh pendidikan holistik yang meliputi: guru, murid, orang tua dan masyarakat sekitar.
Pendidikan harus tidak terikat dengan usia. Semua kalangan dari segala usia harus memiliki kerendahan hati untuk terus belajar. Nah, ini adalah tantangan sesungguhnya: menciptakan masyarakat yang haus ilmu, rendah hati, memiliki semangat belajar dan rasa ingin tahu yang tinggi.
Sekolah informal dapat diselenggarakan dalam jangkauan RT/RW. Murid tidak perlu menempuh jarak yang jauh untuk pergi belajar. Cukup di area masing-masing. Jadi, bisa hemat ongkos transportasi.
Untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak, pendidikan informal bisa dikombinasikan dengan pendidikan nonformal, seperti kursus keahlian dan pondok pesantren keagamaan. Jika butuh bukti penguasaan kompetensi tertentu, sertifikat bisa didapatkan di sini dan dapat dikombinasikan dengan ikut Ujian Kejar Paket yang diselenggarakan oleh pemerintah.
Biaya pendidikan informal ini bisa sangat murah. Pertama, karena banyak formalitas yang sudah dipangkas, seperti: bangunan, seragam, alat belajar, sarana dan prasarana sekolah, alat peraga dan laboratorium. Kedua, ongkos transportasi sudah sangat murah karena setiap RT/RW memiliki pusat belajar seperti ini. Ketiga, transaksi murid dan guru bukan seperti transaksi sekolah berbasis kapitalisme.
Guru atau fasilitator tidak menggantungkan hidupnya dari gajinya sebagai pengajar. Guru memiliki pekerjaan lain untuk mendukung kedaulatan hidupnya dan pencukupan atas kebutuhan hidupnya. Sehingga kerja-kerja pengajaran adalah kerja sukarela dan sedekah. Di sisi lain, murid yang telah dibantu oleh guru dalam memperoleh ilmu tidak mungkin tinggal diam tanpa memberikan hadiah pada guru. Jadi, kedua belah pihak terhubung melalui transaksi sukarela penuh rasa terima kasih. Mereka saling memberikan sesuatu yang terbaik satu dengan yang lainnya.
Orang yang terbiasa dengan spesialisasi dan profesionalisme ala kapitalisme mungkin akan menyangkal bahwa sistem sukarela seperti ini akan menurunkan kualitas pendidikan kita. Tidak efisien dan tidak fokus. Tidak akan mampu menghasilkan karya dan inovasi yang gemilang. Sanggahan topik ini akan kita bahas pada kesempatan lain.
Terakhir, dalam kaitannya menekan biaya pendidikan, skema magang dapat dijalankan. Magang adalah salah satu opsi pembelajaran bagi murid yang minim ilmu dan pengalaman. Murid menukarkan tenaga, pikiran dan waktunya dengan ilmu yang didapatkan selama praktek langsung di bisnis orang lain. Baik murid atau pengusaha sama-sama mendapatkan keuntungan.
Tak jarang, karena nilai kerja magang yang tinggi di mata pengusaha, murid mendapatkan benefit ekonomi berupa upah, ruang kantor yang nyaman dan fasilitas makan siang. Namun, perlu dicatat memang skema magang ini tidak boleh dijadikan kedok untuk eksploitasi tenaga kerja murah.
Skema ini tidak hanya dapat dijalankan oleh murid kepada pelaku usaha saja. Murid bisa magang di masjid, penyedia fasilitas umum, puskesmas, hingga pemerintahan. Terserah bidang apa yang dia cintai dan ingin dia pelajari.
Biaya pendidikan ini memang harus murah karena menyangkut kesetaraan akses dan kesempatan bagi setiap orang untuk mendapatkan pendidikan yang baik. Hal ini menjawab realitas bahwa kualitas sekolah swasta yang mahal itu sangat timpang bila dibandingkan dengan sekolah negeri gratis ala pemerintah.
Penulis: Hafidh Frian
Editor: Ahmad Galang
0 Comments