Lisanku makin menggelora namun tertahan bisu
Kala duniaku kalut, aku hanya termenung
berlidah kelu
kutanya siapa orang yang mau kuajak berbincang?
Riuhnya gemuruh mereka
tak jauh beda dengan duniaku kini
Aku yang tak terdengar ini
hanya ingin sesekali berteman dengan kepastian
Inginnya kudengar suara lembut
siapa pun kelak
menyetujui rilisnya perasaanku
Bilamana takdir menyuruhku diam saja
kutulis rentetan huruf dalam kertas baik yang
kuyakini
Ternyata tulisan tak sepalsu suara mereka
yang mengupas dalam padahal pura-pura paham
kubasuh lukaku dengan deret aksara indah nan
wangi
seolah ia bidadari dengan warna kulitnya yang
semu
kupandangi tulisanku itu
realitasku ada dalam secarik kertas
yang kuberi
nyawa sepuluh menit lalu
Aku yang tak terdengar ini
menyatakan kasih cinta dan tulusku
pada kertas terbalut luka yang pinggirannya
menandakan pijakan kakiku dalam langkah
penemuan hidup
Kau kupuja
sungguh kupuja
wahai deret aksara kesembuhanku
Penulis: Rin (@rinruber), seseorang yang tumbuh bersama cerita kecil yang lahir dari hal-hal sederhana di sekitarnya.
Editor: Via Diah Ayu Putri

0 Comments