Sepanjang jalan raya ini kata-kata berhamburan
lalu kita masih sabar memungutnya
disertai gonggongan anjing lapar
dan selokan yang tersedak sunyi.
Bulan adalah bunga yang terlepas dari tangkai
ketika kita menyiramnya setiap pagi dengan sangat hati-hati
sambil berharap suatu saat mekar abadi.
Kerlap-kerlip lampu kota bersikeras menerangi kita yang duduk berhimpitan
dan bercakap tentang perselisihan antara dengung jangkrik
di rerumputan mungil itu yang tak kunjung kita tangkap
dengan bunyi lembut gesekan sepasang daun
setelah seharian begitu penat menopang waktu.
Tiang listrik itu mengetap setelah mencium semerbak embun
yang juga berkelebat membilas pagar-pagar rumah
dan kemudian menjalar ke celah-celah batu
lalu menembus kaca jendela
sehingga matahari adalah satu-satunya yang dinanti meski membembam kulit kita.
Langit dengan tabah mengingat riuh dengkur
sambil menampung gelembung-gelembung mimpi
yang berserakan sampai awan-awan itu membusuk
sebab kita sudah jarang memetiknya untuk dipersembahkan
kepada siapa saja yang hampir menyayat urat leher.
Tetes air keran yang konstan seperti gerak jarum arloji
yang melepaskan isyarat agar setiap mata mengawasi ajal yang mengekor
dimana pun napas berembus
sehingga kita tidak pernah benar-benar terlambat untuk bertanya:
Mengapa manusia selalu lalai memeluk dirinya sendiri?
(2025)
Penulis: Brian Agata (brian_agata), penikmat musik metal progresif, rock progresif, nu metal, hard rock era 60 hingga 90-an yang juga pernah dengan sadar terobsesi menjadi rockstar, tapi gagal.
Editor: Tata.
0 Comments