Identitas Turki di Tengah Konflik Ayah-anak

Tatkala revolusi di Indonesia meletus pada 1945, masih ada satu kegelisahan yang menggelayuti hampir seluruh tokoh nasional: dengan kebudayaan apa bangsa baru ini dibangun? Lokalitas yang sudah jadi tuan rumah selama ratusan tahun atau modernitas warisan sang tamu Belanda yang Barat?

Di Turki sana, adanya pilihan menjadi Timur atau Barat bukan hanya disebabkan bergesernya imperium Islam dunia terakhir oleh sekulerisme, tetapi juga kenyataan sisi Eropa dan Asia mereka yang hanya dipisahkan selat sekecil Bosphorus. Dua benua, dua kebudayaan, dua peradaban besar yang berjarak hanya sepanjang jembatan empat menit.

Jakarta dan Ankara sama-sama mencari makna “kesatuan” dalam bayang gengsi global. Entitas di Indonesia memang lebih banyak, tetapi Turki jauh lebih rumit, hingga saat ini. Kita barangkali mudah puas dengan Bhinneka Tunggal Ika, tapi Turki terus bergejolak bahkan dengan semboyan heroik “kedaulatan tanpa syarat”. Dan itu lah kegelisahan utama penulis mereka yang paling masyhur, Orhan Pamuk.

Pada 2006, Nobel pun sampai menganggapnya telah “menemukan simbol-simbol baru untuk benturan dan jalinan budaya” setelah panjangnya “pencarian jiwa melankolis” Pamuk “atas tanah kelahirannya.” Dalam pidatonya, dia mengaku berusaha “menemukan keberadaan kedua di dalam dirinya, dan menemukan dunia yang membuat dia menjadi siapa dirinya saat ini”. Termasuk dalam salah satu novelnya berjudul The Red-Haired Women.

Cem, sang tokoh utama disusupi berbagai kegelisahan oleh Pamuk: mendalami konflik dengan ayahnya; gejolak politik Turki; kegagalan menjadi penulis akibat terhalang bisnis real estate yang terpaksa dipilihnya dan petualangan cinta dengan wanita berambut merah. Seolah dia lah sosok Pamuk itu sendiri.

Novel ini menjadi sangat gagah juga karena kelihaian Pamuk menyatukan gejolak-gejolak itu dalam gairah Cem. Gairah mendalami kisah Oedipus dan Shahnameh untuk membongkar konflik batinnya dengan sang ayah, yang lagi-lagi bermuara pada pencarian jati diri Turki: Barat atau Timur (?). Pamuk mengaitkannya dengan yang digelisahkan oleh bangsa itu sendiri: identitas.

Saya selalu suka dengan cara Pamuk membangun cerita. Gampangnya, Cem pada Oedipus di Eropa, dan Shahnameh di Iran. Pencarian itu dibungkus dalam intrik hubungan yang mengecewakan dengan ayah Cem yang kiri.

Pamuk tak suka berterus-terang. Dia selalu mengubah cerita dalam bentuk yang berlapis-lapis. Selain di novel ini, hal itu juga dia lakukan di cerpen yang membuat saya jatuh cinta kepada Pamuk, “Memandang ke Luar Jendela”.

Sesuai dengan judulnya, Wanita Berambut Merah mengambil banyak porsi. Dapat dikatakan wanita ini menjadi alat gerak jalannya cerita. Wanita ini lah yang membawa Cem pada petualangan seksual pertama, konflik dengan ayahnya, konflik dengan gurunya sang penggali sumur, bahkan konflik dengan anaknya bersama wanita itu, yang dihasilkan dari satu-satunya persenggamaan mereka.

Awalnya saya mengira Pamuk sepenuhnya membangun novel ini dari pandangan laki-laki, yakni Cem. Namun, di akhir cerita, saya senang Pamuk menghadirkan sudut pandang Wanita Berambut Merah. Sebab rasa suka Cem terhadap wanita itu terasa cenderung objektifikasi belaka. Kehadiran sudut pandang wanita di akhir novel memberikan pengertian bahwa keputusan wanita itu tidur dengan Cem bukan sepenuhnya kekalahannya, justru pilihannya atas tubuh sendiri.

Saya sangat terbawa perasaan dengan terbunuhnya Cem di akhir cerita di tangan anaknya dengan si wanita itu, Enver (orang-orang menganggap novel ini adalah Oedipus). Memang tak bisa sepenuhnya menyalahkan Enver. Anak itu hanya membela diri, sementara maksud Cem membawa pistol pun sebatas jaga-jaga. Namun ayah dan anak itu mengira mereka akan saling bunuh. Dan secara hukum, harta kekayaan Cem dan perusahaannya sepenuhnya menjadi hak Enver, satu hal yang dituduhkan publik atas terbunuhnya Cem oleh Enver. Hanya sedikit yang menjadi hak istri sah Cem.

Pamuk membawa diskursus modern yang kuat. Dan pilihannya meninggalkan kuliah arsitektur untuk menulis novel bukan pilihan yang salah. Dia menulis dengan sangat baik. Saya rasa Pamuk adalah simbol kegelisahan identitas Turki yang tak kunjung jelas. Golongan konservatif dan liberal di sana masih “berperang.” Novel-novelnya akan selalu mencari-cari sampai kapan pun apa itu Turki.

Identitas Buku

Judul Buku: The Red-Haired Woman
Penulis: Orhan Pamuk
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: 2018
Tebal: 352 Halaman
ISBN: 9786022914495

Penulis: Hilmi Baskoro, pembaca cerita pendek dan novel.

Editor: Tata.


Post a Comment

0 Comments