Aku berlutut tepat di tengah guillotine. Balok kayu gergasi ini mengintimidasiku dengan kekokohannya. Pisau sebesar tubuh yang menggantung di atas leherku siap melintas kapan saja dan memutus hubungan antara kepala dengan badanku. Mereka, para masyarakat bodoh itu, meneriakiku dengan caci-maki yang tak kreatif. Kata makian yang tidak berpendidikan, tidak berkelas sama sekali. Anjing, babi, bangsat, anjing, babi, bangsat, anjing, babi, bangsat, hanya itu saja. Kulihat algojo yang berdiri di samping itu terlihat sangat bersemangat, menahan senyum kebahagiaan demi menjaga muruahnya di depan sang Raja. Sedang sang Raja, berdiri di panggung sebelah menantikan diriku mampus tertimpa pisau raksasa ini. Sudah tidak ada waktu lagi. Mari kuceritakan bagaimana aku sampai pada situasi ini.
Aku seorang jester termasyhur di negara ini. Rekanku pernah berkata, “Hanya orang mati yang tak bisa tertawa, Bung!” Namun aku tahu, itu hanyalah pepatah para amatir. Bagiku, orang mati pun bisa kubuat tertawa. Tahukah kau bahwa otak baru akan berhenti bekerja sepuluh menit setelah kita mati? Sepuluh menit! Bahkan makanan saja masih bisa dimakan selama belum lima menit jatuh ke tanah! Sepuluh! Sepuluh menit cukup untuk mencerna empat puluh lawakan! Satu menit empat, sepuluh menit empat puluh. Sungguh jiwanya akan tenang setelah terhibur sedemikian rupa.
Mari kita sudahi kecongkakan ini, terlebih lagi aku tidak punya banyak waktu. Sesungguhnya semua ini hanyalah sebuah kilas balik kehidupan sebelum mati. Orang bilang, kita akan diperlihatkan semua cerita kehidupan kita sesaat sebelum mati. Mana? Tak ada padaku. Justru aku meracau sendiri di sini menjelaskan semuanya padamu.
Sesungguhnya semua ini tiada bedanya dengan pekerjaanku sehari-hari. Menghibur Raja dan keluarganya, mendapat apresiasi, lalu dibiarkan tidur dengan bidadari mana pun dari kerajaan tersebut—tentu tidak termasuk Ratu dan Putri Kerajaan—walau terkadang selir Raja sempat ditawarkan. Semua ini tak ada bedanya, kecuali bahwa kerajaan satu ini memiliki Raja yang tak pernah tertawa seumur hidupnya. Dialah manusia paling serius sepanjang sejarah. Tak pernah sekali pun ada lawakan yang bisa menghiburnya! Tak satu pun! Jumlah jester yang mati dipenggal akibat Raja satu ini tak terhibur jauh lebih banyak daripada jumlah korban perang yang disebabkan oleh tentaranya. Memang ialah sang Raja yang cinta damai!
Memasuki ruangan takhta, aku seperti seorang anak kecil yang ditinggalkan ibunya di pasar malam. Kecil dan sendirian, ditatap dengan mata yang menunjukkan iba. Bedanya tak ada yang berusaha membantuku menemukan kembali rasa aman. Mereka seperti melihat mayat! Mayat yang belum tiba ajalnya. Seakan-akan kematianku adalah sebuah keniscayaan. Dalam hati kusampaikan, Akan kutunjukkan pada kalian! Jester yang kalian lihat ini bukan mayat berjalan yang bisa kalian pandang rendah.
Aku berjalan di atas karpet merah yang langsung tertuju pada singgasana yang begitu megah. Di atasnya, duduklah seorang pria dengan janggut berwarna kelabu yang panjang hingga menyentuh dada. Terdapat mahkota yang menyilaukan di atas kepalanya. Mahkota itu gagah berpijak pada kepalanya yang botak dan tak kalah menyilaukan! Wajahnya masih terlihat gagah kendati umurnya sudah melewati harapan hidup negara ini. Tubuhnya sudah sedikit bongkok, namun sisa kekekaran masa lalu masih dapat terlihat. Di samping Raja itu, ada dua kursi yang lebih kecil. Di sanalah duduk sang Putri dan sang Ratu.
Sang Putri duduk dengan gaun satin yang begitu indah. Rambutnya bergelombang panjang berkilau. Dari mana genetik rambut indah itu? Pasalnya sang Ratu berambut lurus, benar-benar lurus! Oh, barangkali sang ayah yang botak juga berambut indah dulu. Sang Putri duduk dengan anggunnya, melihatku juga dengan rasa iba. Sedang sang Ratu, sama bergaun satin, namun matanya menyorotkan harapan. Barangkali sang Raja bisa tertawa kali ini. Aku berterima kasih akan tatapan itu. Di samping karpet merah, berjajar para prajurit penjaga. Berjejer mengikuti arah karpet. Di belakangnya, terdapat para petinggi kerajaan lain. Patih, keluarga kerajaan, adik sang Raja, para selir, dan banyak orang lagi yang tak aku ketahui secara pasti.
Jangan mengharapkan penjelasan rinci! Kau lupa di atas leherku ada pisau yang beratnya hampir sama dengan badanku?
Aku berjalan di karpet itu diiringi seorang prajurit. Sesampainya di hadapan Raja, dia mempersilakan dan menyingkir dari hadapanku, lalu masuk ke barisan para prajurit lainnya. Baik, inilah momen penentuan!
Kukeluarkan lawakan pembuka. Tasss.. beberapa orang tersenyum. Garis bibirnya dipaksa datar, tak memperlihatkan gigi. Raja tak tertawa, itulah sebabnya. Pimpinanmu, junjunganmu, sang Kuasa tak tertawa, bagaimana bisa kau tertawa? Mereka menahannya. Aku tak habis pikir.
Kukeluarkan lawakan kedua, lebih pekat, lebih intens! Tass tassss.. garis bibir mereka semakin lebar, namun brengsek, tarikan itu semakin kuat juga. Beberapa mata mulai menyipit. Patih mencubit perutnya sendiri, mengalihkan rasa geli kepada rasa sakit. Ratu menggigit lidah, sedangkan Tuan Putri menutup telinga. Raja tak memberi respon barang sedikit pun.
Tubuhku mulai gemetar, aku mulai panik. Lawakan ketiga, pemungkas. Jurus terakhirku, pekat, dan bertubi-tubi. Beberapa orang hampir mati mendengar jurus terakhirku ini. Jarang kukeluarkan karena berbahaya. Di suatu tempat, jongos yang ikut mendengarkan hampir menghentikan jantungnya sendiri, tak kuasa menahan tawa. Kukeluarkan sebagai serangan pemungkas, kartu As! Aku tak peduli orang akan mati atau muntah darah di sini. Makan atau dimakan!
Tass tass tassss.. seorang prajurit tumbang. Dia menggigit lidahnya sendiri, menahan tawa yang tak kunjung disepakati oleh sang Raja. Pemandangan itu mendistraksi para hadirin. Pemandangan yang begitu getir. Darah menggenang di lantai. Tak seorang pun berani menolongnya. Tak seorang pun bergerak. Pertunjukan belum juga selesai! Sang Raja masih haus akan hiburan. Janggutnya tak bergoyang sedikit pun!
Matilah aku!
Yang tadi adalah pemungkasku. Jurus terakhirku. Tak dapat kukeluarkan apa-apa lagi. Bulir-bulir keringat mulai muncul dari dahi sampai punggungku. Pikiranku kalut! Sial kau Pak Tua! Tak bisakah kau tertawa hanya demi perasaan iba? Semudah itukah nyawa melayang akibat lelucon yang tak sampai? Aku pasrah. Tak ada lagi yang bisa kulakukan. Matilah mati. Mereka akan memenggalku. Selamat datang mati!
Dengan napas terakhirku, tanpa beban, tanpa rasa takut—karena pada akhirnya aku juga akan mati—kulayangkan protesku di tengah-tengah hadirin. Kutunjukkan pada pria paling berkuasa di ruangan itu. Kuacungkan jari telunjuk ke arah kepalaku sendiri, lalu kuucapkan, “Barangkali kotak tertawa Baginda telah habis bersama helai-helai rambut yang tak tersisa! Hahahahahahaha!” Aku tertawa begitu lepasnya. Sebuah tawa pelepas nyawa. Biarkanlah aku menikmati momen terakhir ini dengan senang.
Ruangan itu hening. Hanya suara tawaku yang menggelegar memenuhi ruangan sampai aku lelah sendiri. Tawaku berhenti, aku menunduk. Ruangan itu kini benar-benar hening. Zing..
Beberapa detik kemudian.
HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!
Suara tawa yang berat dan keras!
Aku menegakkan kepalaku. Kulihat keadaan sekitar. Siapa yang berani tertawa dengan lelucon pasrah itu? Dia seorang. Seorang paling berkuasa di ruangan ini. Hanya dia yang tertawa. Suara tawanya berat dan begitu keras, sampai-sampai memekakkan telingaku yang telah penuh dengan kotoran akibat kegugupanku. Dan di saat tawa itu mulai redup, gemuruh tawa dari orang-orang di sekitar mulai terdengar. Satu menjadi dua menjadi empat menjadi delapan menjadi dua puluh satu menjadi lima puluh tiga dan sampai pada angka yang tak bisa kuhitung lagi. Semua. Semua tertawa. Dengan tepuk tangan yang menyertai, para hadirin tertawa. “Tuhan tak membiarkan seorang prodigy mati hari ini!” ucapku pelan, tak terdengar oleh siapa pun karena riuhnya tawa dan apresiasi.
Hampir satu menit mereka tertawa. Sampai perlahan memudar dan keadaan semakin lama, semakin tenang. Mereka lelah. Keringat dinginku mulai kering. Senyumku begitu lebar dengan tarikan napas yang panjang-panjang. Semua terlihat tenang dan puas. Hiburan, hiburan, hiburan!
Dan di tengah ketenangan yang memuaskan itu, terdengar teriakan yang menggema ke seluruh ruangan.
“Maksud Anda sang Raja akan mati?!” Seseorang berteriak, entah dari tengah, belakang, atau samping. Tak dapat aku cari lokasinya.
“Anda tidak tahu bahwa kebotakan Yang Mulia diakibatkan oleh penyakit akut yang dideritanya?!” Suara itu semakin keras dan semakin memenuhi ruangan.
“ANDA TIDAK TAHU BAGINDA DIPERKIRAKAN AKAN MENINGGAL DALAM SATU MINGGU?!”
Ketegangan menyerbu entah dari mana. Pada hadirin terlihat canggung. Mereka tidak bersuara. Membantahlah, bajingan! Beberapa detik lalu, aku baru memberikan momen paling menghibur sepanjang hidup kalian! Aku menengok dari satu orang ke orang lainnya. Setiap kutatap, mereka membuang pandangan ke langit-langit. Dan Raja? Aku menatapnya. Dia diam saja. Tidak memberikan protes apa pun! Hei, Orang Mulia, kau baru saja tertawa setelah lebih dari tujuh puluh tahun! Bukannya kau hanya pernah tertawa oleh cilukba ibumu semasa kau masih berumur tiga tahun? Setelahnya kau tak pernah terhibur! Baginda Ratu dan Tuan Putri tertunduk tak tahu malu. Tadinya kalian menunjukkan kerongkongan kalian di hadapan para hadirin, yang mana hal tersebut dianggap tabu bagi perempuan-perempuan setingkat kalian. Kalian yang membuat standar dan kalian sendirilah yang melanggarnya. Mana pembelaanmu?!
Perlahan mulai terdengar suara lain, “Benar-benar tak tahu adab!”
“Bajingan tengik!”
“Tak punya empati!”
“Menghalalkan segala cara hanya demi terdengar lucu!”
“Menertawakan penyakit itu tidak lucu!”
Dan masih banyak teriakan yang tak bisa kutangkap dengan sepasang telingaku. Keadaan semakin riuh. Berbagai sumpah serapah dan ludah dilemparkan padaku. Seseorang melempar selopnya tepat mengenai pipi kiriku. Dan benda-benda lain juga berterbangan dengan bebas, ditujukan tepat ke arah di mana aku berpijak.
Di tengah keriuhan itu, sang Raja melambaikan tangan sekali. Dan berpuluh-puluh prajurit mulai mengacungkan tombaknya padaku. Tiga orang menangkapku, membuatku berlutut, dan membawaku ke suatu ruangan yang begitu kotor dan sepi.
Keesokan harinya, aku sudah terduduk di bawah pisau raksasa ini. Tanpa penawaran makanan terakhir, apalagi kesempatan membela harkat dan martabatku.
Di sinilah aku, berhadapan dengan masyarakat yang menyumpah serapahiku dan meludah seenak jidat mereka. Waktuku tinggal beberapa detik lagi. Sang Raja telah memberi isyarat bahwa aku boleh dieksekusi kapan pun.
Tiga.
Dua.
Kuteriakkan satu kalimat terakhir tanpa kupikirkan karena toh aku akan mati. Kepasrahan. Komedi dari kepasrahan yang sebenar-benarnya. Teriakan yang begitu kuat untuk melawan bisingnya sumpah serapah mereka! Kupastikan kalian semua mendengarnya. Kupertaruhkan urat leherku yang sebentar lagi akan terpotong ini. Tak peduli aku jika mereka meledak! Kuteriakkan kalimatku sebelum pisau itu membelah leherku. Lalu kujulurkan lidahku sembari menjulingkan mataku.
Satu.
Kurasakan dunia berputar. Aku melihat mereka dari kemiringan. Tujuh menit terakhir kerja otakku. Dan aku merasakannya. Aku merasakan bahwa mereka semua terhibur!
Sleman, 17 Mei 2026.
