Kegelapan

 


Tempat parkir di samping minimarket tampak sepi malam itu. Hanya ada sebuah motor bebek jadul terparkir menyerong di sudut. Cat yang menyelimuti motor itu terlihat sudah terkelupas di beberapa bagian. Kaca spionnya pun hanya tersisa yang sebelah kanan. Tak hanya itu, lampu belakangnya terlihat sudah retak dan joknya sudah sobek. 

Tak jauh dari sana, beberapa orang sedang duduk di kursi minimarket. Dua di antara mereka duduk berhadapan dan mengobrol sambil merokok. Tidak ada makanan di meja mereka, hanya dua botol minuman ringan yang isinya sisa setengah. Seorang lagi hanya duduk sendiri menghadap ke jalan raya. Ia tidak merokok, hanya ditemani beberapa keping biskuit dan air mineral di mejanya.

Malam itu, tepat pukul 22.05 di hari Sabtu, aku sedang menunggu taksi di dekat minimarket. Tak setetes pun keringat mengalir di dahiku karena semilir angin menyapu wajahku sesekali. Pucuk bunga bugenvil pun sesekali meliuk. Angin menerpanya tanpa membuat bunganya jatuh. 

Taksi yang kutunggu akhirnya tiba. Taksi itu berwarna biru dengan pelat kuning yang warnanya masih cerah. Pengemudi membuka jendela mobilnya yang menghadap ke arahku.

“Dengan Mas Wira? Tujuan ke stasiun?”

“Betul, Pak.”

Aku masuk dan duduk di kursi belakang. Aku simpan ransel hitamku di sisi kanan. Aroma sitrus samar-samar memasuki hidungku. Sebuah pengharum mobil tergantung di pegangan tangan bagian kiri depan mobil. Aku melepas jaketku. Aku suka dingin.

Mobil itu melaju dengan cukup cepat tanpa suara. Tak ada suara mesin maupun angin yang berhembus. Pada kenyataannya, tidak ada suara yang terdengar selain suara nafasku dan decitan jok yang aku duduki. Tak ada suara apa pun yang kudengar dari pengemudi.

Setelah sampai di stasiun, pengemudi tidak berhenti di tempat menurunkan penumpang. Ia tetap melaju sampai ke tempat parkir stasiun.

“Mas Wira, apakah sudah pernah melihat kegelapan?”

“Belum pernah, Pak.”

“Tahu gak sebenarnya manusia selalu diikuti kegelapan? Hanya ada beberapa orang yang tidak bisa diikuti kegelapan. Mas Wira adalah salah satunya.”

“Saya gak ngerti.”

Pengemudi tersebut perlahan memasukkan tangannya ke saku bajunya. Sesaat, terdengar suara kunci dan logam lain saling beradu. Ketika akhirnya ia mengeluarkan tangannya dari saku, ia menunjukkan sebuah pisau perak kecil. Gagang pisau tersebut terbuat dari kayu dan terdapat ukiran yang sekilas terlihat seperti tanaman rambat. Bilah pisaunya mengilap, memantulkan cahaya kecil dari lampu kabin yang baru saja dinyalakan oleh pengemudi itu.

“Tolong julurkan telapak tangan Mas Wira.”

Aku julurkan telapak tanganku melewati celah di antara dua kursi depan mobil. Angin dingin dari AC mobil menerpa halus telapak tanganku. Ujung kemeja lengan panjangku berkibar tipis saat terkena anginnya. Pengemudi itu mengangkat pisaunya di atas telapak tanganku dengan ujung pisau mengarah ke bawah. Secara perlahan, ia turunkan pisaunya sampai menyentuh telapak tanganku, menusuk semakin dalam, hingga akhirnya menembus bagian bawah telapak tanganku. Pisau perak itu sekarang terlihat sedikit berwarna merah. 

Tak lama kemudian, pengemudi itu mengeluarkan sebuah botol kecil dari kantong penyimpanan di pintu mobil. Ia buka tutupnya yang berupa kayu kecil berwarna cokelat tua, lalu ia letakkan botol itu di bawah telapak tanganku. Botol itu tidak berdenting ketika diletakkan di sisi tuas rem. Tetesan darah pertama mengalir perlahan menyusuri pisau perak yang mengilap sampai akhirnya darah itu menetes tepat ke dalam botol. Tetesan selanjutnya mengalir mengikuti jejak alir tetesan darah pertama. Tiap tetesnya tidak menimbulkan suara apa pun. Setelah tiga tetes darah masuk ke dalam botol, ia mencabut dengan cepat pisau yang sejak tadi menancap di telapak tanganku. 

Ia mengelap sisa darah yang menempel di pisau ke bajunya sendiri. Meninggalkan bercak merah gelap pada baju bagian atas dekat saku. Setelah pisau peraknya kembali mengilap tanpa sisa merah darah, ia simpan pisau itu ke saku bajunya seperti semula. Setelah itu, ia ambil botol kecil yang tadi disimpannya di bawah telapak tanganku. Ia menambahkan beberapa tetes minyak atsiri ke dalam botol itu dan mengguncangnya beberapa kali. Kedua cairan tersebut tercampur menjadi sebuah cairan berwarna hitam gelap. 

Ia mendekatkan botol tersebut ke mulutnya. Secara perlahan, ia menempelkan ujung botol tersebut di bibirnya. Dengan sekali teguk, cairan dalam botol itu habis diminumnya. Terdengar suara tegukan dari tenggorokannya. Untuk pertama kalinya pada malam itu, aku mendengar sebuah suara darinya selain dalam bentuk kalimat.

“Sekarang, Mas Wira sudah tidak akan diikuti kegelapan lagi. Silakan, Mas, sudah sampai tujuan.”

Aku keluar dari mobil tersebut. Angin di parkiran stasiun cukup kencang pada malam itu. Aku pakai kembali jaket yang kulepas saat di dalam taksi. Jam di tanganku menunjukkan pukul 23.30. Saat itu, bulan purnama bersinar terang. Aku tidak ingat ada bulan purnama sejak tadi. Aku berjalan perlahan sepanjang parkiran stasiun menuju pintu masuk. Malam itu, akhirnya aku berjalan tanpa bayangan yang menyertaiku.


Penulis: Rama Padliwinta

Post a Comment

Previous Post Next Post