Tak, Sadar Aku Jatuh

 


BiruGabriella Fernaldi

Semoga bahagia selalu hidupmu

Doaku untukmu, bentuk cinta yang tulus

Semoga indah cerah selalu jalanmu

Laguku untukmu, bentuk cinta yang biru


Aku duduk, di sebuah kursi yang sudah disediakan di ruangan itu. Tak jauh dari pandanganku, ada sosok laki-laki dengan posisi yang sama. Kami berhadapan, meskipun posisi nya cukup berjarak. 

Pagi ini, aku diberikan kesempatan untuk menghadiri pentas seni di sebuah gedung megah. Entah siapa yang memiliki ide untuk ku menjadi pembicara di acara itu. 

Aku memandangi dia, meskipun sambil bercanda dengan rekan disampingku. Aku tidak bisa menggambar bagaimana perasaan ku saat ini. Hanya sekedar memandang, untuk hari ini. Tidak tahu untuk kedepannya. 

Ketika acara selesai, dia menghampiriku. “Kak, boleh minta tambahan gantungan kunci nya?” Rasanya aneh. Kita seangkatan tapi dia memanggilku dengan sebutan “Kak”. Aku mengangguk, dan memberikan satu gantungan kunci kepada dia. Setelah menerima barang yang diminta tadi, dia mengucapkan terima kasih. Aku hanya menjawab dengan senyuman. 

Acara itu selesai. Tandanya aku tidak bisa lagi berinteraksi dengan dia. Hari ini aku biasa saja atas selesai nya acara ini.

Delapan bulan setelah acara pentas seni itu, tiba-tiba pikiran ku selalu diisi dengan sosok laki-laki yang waktu itu meminta gantungan kunci padaku. Aku juga bingung, bagaimana bisa aku selalu memikirkan orang yang hanya berinteraksi dua menit denganku? Berkali-kali aku mencoba menepis isi pikiran ku, namun entah mengapa justru semakin teringat. Aneh? Mungkin ini sangat konyol jika di dengar. 

Aku dan dia sudah tidak ada interaksi setelah acara itu. Hanya ketika itu kami berdua berinteraksi. Setiap malam aku selalu memikirkan dia. Hingga akhirnya, aku mulai sadar. Sadar jika aku memiliki rasa kagum pada orang itu. Meskipun awalnya tidak yakin, tapi semakin hari, perasaan ku memberikan reaksi bahagia jika melihat nama dia ada di tayangan orang yang melihat catatan yang aku upload di WhatsApp.

Meskipun aku dan dia saling menyimpan nomor telepon, tetap saja interaksi itu tidak pernah terjadi. Memang, jika dipikirkan untuk apa kita saling menghubungi?

Waktu berjalan, hari berganti. Kini, aku mengaku jika aku jatuh. Jatuh ke dalam manik mata sedikit biru dan tak lupa dengan gaya foto yang selalu menampakkan gigi. Manis sekali. Aku sadar, aku menyukai lelaki itu. 

Senyuman terus terukir jika aku teringat namanya. Sekedar nama. Tapi mampu menciptakan kupu-kupu terus beterbangan. Aku tidak tahu bagaimana selanjutnya. Ini jatuh hati yang tidak diketahui oleh si pemilik hati. Jatuh hati yang hanya bisa memandangi foto di layar HP. Aku senang melihat beberapa postingan instagramnya bahkan akun tiktok kelasnya. Beginikah rasanya jatuh cinta? Di bulan Oktober, aku melihat postingan cerita di instagram temanku yang memberikan ucapan selamat ulang tahun untuknya. Oktober, bulan lahirnya. Laki laki dengan gaya foto yang selalu menampakkan gigi dan senyum manisnya itu lahir di bulan Oktober.

Jatuh hati membuat kita penasaran akan kehidupan orang yang selalu kita pikirkan. Labirin, kata Tulus. Menyiksa, namun candu. 


Kucari tahu tentangmu

Tanggal dan tahun lahirmu

Kupelajari rasi bintang menebak pribadimu

Tokoh kartun favoritmu

Dan warna kegemaranmu

Kutelusuri di titik mana kita kan bertemu (bius aku)

Bius aku dengan tatapanmu tatapanmu (mesterimu)

Menyiksaku tapi sungguh candu sungguh candu


Aku tak tahu bagaimana selanjutnya. Bagaimana dia disana. Dengan siapa dirinya selalu mencurahkan keluh kesah setiap harinya. Pada siapa dirinya menyatakan rasa kasih dan sayangnya. Aku tidak peduli. Karena itu bukan tanggung jawabku. Yang pasti dan jelas, aku jatuh hati pada dirinya. 

Aku berdoa, semoga setiap langkah yang dia pijak, selalu ada kebahagiaan yang mengiringi. Cita-cita indah yang diharapkan, terwujud dalam kehidupan. 

Meskipun, aku tidak bisa melihat bahkan memberikan dukungan. Tapi, aku yang akan bahagia jika dia berhasil. Teruslah melangkah, berkembang menjadi seseorang yang indah. Indah akhlaknya, indah parasnya, dan indah pengetahuannya.

Aku menulis karya ini dengan tangan yang belum pernah digenggam oleh nya. Aku rangkai kata-kata yang mungkin indah, dengan pikiran yang sama dengan pikiran yang aku gunakan untuk memikirkannya. Dan aku menciptakan karya ini menggunakan hati, hati yang sudah jatuh pada tempat yang begitu indah. Meski perasaan ini belum diketahui oleh dirinya, aku tetap jatuh hati padanya.

– R, di bulan kelahirannya, November 2025. 


PenulisSiti Khoiriyah

Post a Comment

Previous Post Next Post