Trauma

 


Hari ini jadwalku masuk sore. Aku datang ke minimarket sekitar jam 3 sore. Sudah bertahun-tahun aku bekerja di sini, tanpa harapan bisa bekerja di tempat lain—hanya lulusan SMP, tidak ada tempat untuk orang bodoh sepertiku, kecuali minimarket ini.

Sore ini minimarket lumayan sepi. Setelah sekitar satu jam akhirnya datang pelanggan pertama, seorang polisi. Sejak peristiwa dua tahun yang lalu, aku selalu ketakutan setiap kali bertemu dengan polisi. Polisi itu hanya membeli satu kaleng minuman bersoda. Aku melayaninya dengan usaha keras untuk tidak menatapnya. Tubuhku selalu gemetar ketakutan setiap kali berdekatan dengan polisi. Beruntung aku, polisi itu tidak berlama-lama.

Setelah polisi itu pergi, aku hanya melayani pelanggan-pelanggan biasa, walau lebih banyak bengong karena hari ini benar-benar sepi. 

Michael datang sekitar pukul 5 sore, dia mengajak semua karyawan untuk makan babi panggang dan pesta alkohol. “Hari ini aku ulang tahun! Everything on me, makan sepuas yang kalian mau! Jam 9 ya, jangan telat!” ucap manager minimarket yang baru bekerja 2 bulan itu.

Tentu saja, aku akan datang. Gajiku kecil, aku tidak akan mampu membeli daging panggang dan alkohol. Hanya di kesempatan seperti ini aku bisa melupakan traumaku dengan memabukkan diri. Biasanya aku hanya bisa beli satu atau dua botol saja, dan itu jauh dari kata cukup.

Aku tiba di tempat makan babi panggang lebih cepat dari yang lain. Baru Michael saja yang duduk di bangku panjang itu. Aku menghampirinya, “Hey, Michael!” ucapku kepada Michael yang sedang asyik membaca koran.

“Rafa! Akhirnya ada juga yang datang, teman-temanmu lama sekali! Ayo duduk, pesan saja sebanyak yang kamu mau, ya.” Sambut hangat dari Michael sembari menuangkan soju ke dalam dua gelas kecil. “Aku dengar kamu paling suka minum dibanding yang lain, ambil ini Rafa.” Michael memberikan satu gelas kepada Rafa.

“Cheers!” ucap Rafa dan Michael bersamaan. Aku memesan satu porsi daging babi panggang dan satu botol beer. Sambil menunggu makanan kami datang, seperti biasa kami mengobrolkan hal yang sebenarnya membuatku agak sedikit bosan. Di tengah obrolan, sesekali Michael menuangkan soju ke gelas dan mengajak bersulang.

Setelah beberapa gelas, akhirnya teman-teman yang lain datang juga. Joan dan Michelle duduk di kursi depanku, sedangkan George duduk di sebelahku. 

Mereka agak terlambat, makananku sudah habis duluan. Aku hanya menyibukkan diri dengan meminum soju dan beer sembari menunggu mereka selesai makan. Obrolan kami awalnya membosankan, hanya seputar sepak bola. Aku tidak suka bermain sepak bola. Dan aku tidak mengerti tentang sepak bola.

Michelle yang melihatku tidak berbicara, mulai menanyai ku tentang hal lain. “Rafa, aku lihat kamu suka sekali menonton film di jam istirahat, apa yang biasanya kamu tonton?”

Jawabanku agak ngalor ngidul, aku sudah mulai mabuk. “Ya! Aku suka nonton itu!! Bagus, kamu bagus sekali!” mendengar jawabanku yang aneh itu, mereka hanya menertawakanku. Tapi mereka tidak berhenti, mereka terus menanyaiku. Aku yang mabuk ini menjadi hiburan untuk mereka, karena apapun pertanyaannya, jawabku pasti aneh dan konyol.

Kesadaranku mulai menipis, dengan pandangan kabur aku melihat jam menunjukkan pukul dua belas malam. Teman-teman yang lain tidak minum sebanyak aku. Mereka masih lumayan sadar—mereka masih terus menanyakan hal-hal aneh. 

Joan berdiri. Dengan botol beer di tangannya, Joan menatapku sambil nyengir. “Sebelum kita pulang, aku punya satu pertanyaan terakhir untukmu! Kali ini jawabannya pasti akan sangat lucu dan bodoh!” ucap Joan dengan lantang, lalu ia mulai melemparkan pertanyaannya, “Apa hal paling memalukan yang pernah kamu lakukan? Suatu hal yang selalu kamu sembunyikan dari orang lain!”.

Aku menjawab pertanyaan Joan dengan badanku yang dipegangi oleh Michael karena sudah sangat sempoyongan. “Aku... yang selalu aku sembunyikan...” Rafa menatap Joan, lalu melanjutkan, “Anak kecil itu... aku berhasil. Polisi-polisi itu bodoh, aku berhasil!!!” ucapku sambil memukul meja.

Joan terlihat kaget mendengarnya. Senyum di wajahnya hilang. Tawa yang biasa menyertai Joan mendadak pergi begitu saja. Joan hanya duduk lalu diam.

Suasana menjadi sunyi. Semuanya bingung sekaligus takut. Michael mengajak untuk pulang, sudah terlalu larut katanya. Semuanya pulang ke rumah masing-masing. Hanya menyisakan aku dan Michael. Dia memesankan taksi untukku pulang. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Michael. Dia hanya diam dan cemas, berharap taksi cepat datang dan membawaku pergi dari penglihatannya.

Keesokannya, aku terbangun di kamarku. Sudah siang, kepalaku masih sedikit pusing karena mabuk tadi malam. Aku tidak ingat apa yang terjadi semalam. Ada suara ketukan di depan pintu rumah. Sepertinya aku terbangun karena itu. 

Aku berjalan dengan sedikit pusing menuju pintu, lalu membukanya hanya untuk melihat belasan polisi sudah berkumpul dan siap untuk menangkapku. Terlihat dari kejauhan, Joan dan Michael sedang berbicara dengan salah satu polisi.

Aku ketahuan.


Penulis :Hans


Post a Comment

Previous Post Next Post