“Tanah milik Sonu Sobu Subang. Wiha Nasohoa.”
Salah seorang dari Suku Awyu terlihat memperlihatkan tulisan pada sebuah papan ke arah kamera. “Tanah ini diciptakan oleh Tuhan yang memberikan warisan kepada kami. Kami ini hanya hak jaga,” terangnya. Sedangkan “Wiha Nasohoa” dimaknai sebagai, “Ini tanah air kami.”
Hati ini mencelos. Rasanya tak ada kata yang secara akurat dapat mewakili kemarahan dan kesedihan ini ketika melihat segala perjuangan saudara-saudara kita di Papua untuk mempertahankan hutan dan tanah leluhur mereka di sana.
*
Malam itu, pada Sabtu, 16 Mei 2026, sekitar pukul 19.00 WIB, halaman belakang Balai RW Institute Jember telah dipadati para peserta. Acara dibuka dengan salam dan perkenalan singkat empat pemantik dalam acara Nonton Bareng dan Diskusi Reflektif Film Pesta Babi bersama Jember Book Party. Keempat pemantik itu adalah Dimas “Ibbas” Baskoro dari Indonesia Book Party, Gus Nov dari Balai RW Institute Jember, serta Ello dan Natalie dari Aliansi Mahasiswa Papua. Setelah dibuka oleh moderator dan Gus Nov, acara selanjutnya adalah menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Tanah Airku bersama-sama.
Sebelum pemutaran film Pesta Babi dimulai, moderator membacakan ucapan terima kasih kepada semua pihak terkait serta narasi singkat seputar film itu. Lalu dimulailah sesi nobar film yang berdurasi sekitar satu jam 35 menit tersebut.
Dilansir dari Ekspedisi Indonesia Baru, Pesta Babi adalah film dokumenter karya Cypri Paju Dale dan Dandhy Laksono yang membuka realita perjuangan masyarakat adat Papua dalam mempertahankan tanah leluhur dari proyek besar yang mengatasnamakan "ketahanan pangan" dan "transisi energi," di tengah bayang-bayang militerisasi dan sejarah panjang eksploitasi. Film ini merupakan kolaborasi lintas organisasi, yakni Watchdoc, Media Jubi, Greenpeace Indonesia, Pusaka Bentala Rakyat, dan Ekspedisi Indonesia Baru.
Pada sekitar pukul 20.45 WIB, sesi diskusi reflektif dimulai. Setelah membacakan catatan panduan diskusi untuk menjaga ketertiban dan kekhidmatan acara, moderator juga menyampaikan informasi terkait donasi yang nantinya akan disampaikan ke pihak terkait untuk saudara-saudara yang ada di Papua.
Refleksi tentang Tanah Air dan Papua
Sesi diskusi reflektif dimulai dari para pemantik yang menceritakan pandangannya tentang film ini secara bergiliran. “Apa yang kita lihat di film tersebut benar-benar terjadi di Papua,” tukas Ello ketika ditanya. Moderator lalu membandingkan dengan cuplikan dalam film tersebut terkait serangkaian peristiwa kepunahan peradaban, seperti kepunahan Neanderthal di Eropa, suku Aztec dan Inka di Amerika, serta suku Aborigin di Australia, dan ternyata ini sedang terjadi di bangsa kita sendiri di tanah Papua. Natalie mengangguk setuju bahwa ini sedang terjadi di tanah Papua.
Lalu, Gus Nov yang sudah lebih dari sekali menonton film ini mengaku merasa sedih dan marah setelah menonton film ini. Sementara, Ibbas bertanya peserta sudah makan apa di hari itu. “Ubi! Roti! Nasi!” Mereka sahut-menyahut mendengar pertanyaannya. Ibbas menceritakan bagaimana hutan menjadi “supermarket” bagi penduduk Papua. Sementara, kita di sini mendapatkan kebutuhan dari warung-warung dan toko-toko. “Kalau hutan mereka dihabisi, itu sama saja seperti warung-warung dan toko-toko di sini dihabisi,” terang Ibbas. Kemudian ia menggarisbawahi bahwa Indonesia sedang tak baik-baik saja. Selanjutnya, moderator memberikan kesempatan kepada para peserta untuk menyampaikan aspirasinya setelah menonton film ini.
Salah satu peserta, Vian, berbagi pandangannya tentang konglomerasi dalam film tersebut yang tak hanya terjadi di Papua, melainkan terjadi pula di Kalimantan yang mendominasi bidang ekonomi ekstraktif. Ia menambahkan bahwa orang Papua bukan tidak bisa bertani. Mereka bisa bertani, tapi bertani ubi, sagu dan yang lainnya. Bukan padi. Ia percaya bahwa sebuah negara harus menjamin hak warganya dan mestinya tata kelola kebutuhan wilayah diserahkan kepada masing-masing wilayah saja. Vian juga membandingkan dengan bencana ekologi yang terjadi di Sumatera karena hutannya dijadikan lahan sawit. Ia khawatir apa yang akan terjadi pada tanah Papua bila hutannya terus dihabisi.
Sementara itu, Brian menceritakan pengalamannya ketika magang di suatu perusahaan sawit dan mengaku pekerjaan di sana teramat berat. Ia berujar bahwa ia tak menolak adanya sawit, tapi ia menolak adanya pembukaan lahan sawit secara besar-besaran. Ini karena hidup telah terlanjur terikat dengan produk turunan sawit, seperti minyak goreng hingga kosmetik. Brian juga menceritakan pentingnya lahan gambut bagi lingkungan, “Apabila lahan gambut rusak, tanahnya akan kehilangan air, dan apabila lahan gambut diganti menjadi sawit, sedangkan sawit itu menyerap banyak sekali air, lahannya akan mudah kering dan terbakar.”
Kemudian, Okta menyampaikan apa yang ia rasakan setelah menonton film tersebut, “Yang terjadi dalam film itu, itu benar terjadi.” Warga Papua mencintai negara, tapi ia merasa bahwa pemerintah sebaliknya. Ia menyampaikan aspirasinya untuk meminta hak dalam menentukan nasib sendiri di tanah mereka sendiri dan menggarisbawahi pasal terkait dalam UUD 1945.
Sebelum menonton film tersebut, Ryan di lain sisi sempat berekspektasi bahwa ceritanya akan mirip seperti kisah babi-babi dalam Animal Farm garapan George Orwell. Namun, setelah menonton, ternyata film ini benar-benar tentang pesta babi, sebuah tradisi adat di tanah Papua. Ia setuju bahwa kita harus menjaga tanah yang diwariskan kepada kita dan merespon terkait konglomerasi yang banyak terjadi di berbagai wilayah. Ryan juga berharap bahwa kita tak menjadi generasi yang FOMO (Fear of Missing Out) yang sekadar ikut-ikutan saja, tetapi kita harus lebih kritis terhadap isu yang terjadi di sekitar kita.
Salah seorang peserta, Zera, dari Kota Batu sepakat bahwa alih fungsi lahan juga terjadi di wilayah lain walau terbilang minor dalam skala kecil. “Di sini, lahannya dulu merupakan lahan pertanian, tapi sekarang banyak dijadikan perumahan,” terangnya. Ia lalu menyampaikan aspirasinya terkait demokrasi dan bertanya-tanya mengapa beberapa peristiwa pembubaran diskusi film dan buku masih terjadi. Ia menganggap bahwa demokrasi di negeri ini tak mendukung meritokrasi. Dulu, Socrates pernah menyebutkan bahwa demokrasi mendukung orang-orang populer, yang mampu berbicara, yang cantik dan tampan. Zaman telah berganti, tetapi di negeri ini juga rupanya demokrasi masih mendukung orang kaya dan populer. Ia merasa ada yang salah dengan demokrasi di negeri ini.
Sementara itu, Ainul Yaqin setuju dengan Zera dan beberapa lainnya bahwa alih fungsi lahan tak hanya terjadi di Papua. “Di sini (Jember) juga banyak sawah yang dibeli untuk dijadikan jalan, perumahan dan supermarket,” kata Ainul. Terkait konglomerasi, ia juga merespon bahwa dulu di zaman Sayyidina Umar, kekayaan pemimpin dibatasi supaya mereka bisa lebih fokus untuk rakyat. Sedangkan di negara ini tak sedikit pemimpin yang malah memperkaya diri. Ia berharap bahwa sebuah negara mestinya mampu menjamin hak-hak warganya, termasuk hak-hak orang adat. Ainul juga berkisah tentang keunikan dunia pekerjaan yang mana ketika ada lowongan pekerjaan, manajernya sudah ada bahkan sebelum bangunannya ada.
Nico dan Putri sepakat bahwa kondisi lingkungan yang semakin panas salah satunya terjadi karena banyak pohon yang ditebang. “Surabaya bercuaca panas. Semakin banyak gedung yang dibangun dan semakin banyak pohon yang ditebang,” kata Nico. Sementara Putri, setelah menggarisbawahi tentang ketahanan pangan bahwa, “Di desa, kehidupan tanpa uang masih bisa dilakukan,” juga membandingkan bahwa banyak pohon tua dan besar di Universitas Jember membuat suasananya lebih sejuk dan ini baik untuk mendukung pelestarian alam.
Setelah itu, moderator mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada para peserta yang telah mengemukakan aspirasinya. Ia lalu meringkas poin-poin yang mereka sampaikan. Sesi kemudian dikembalikan kepada para pemantik. Gus Nov sepakat bahwa penduduk Papua punya hak untuk menentukan nasibnya sendiri.
Ello kemudian merespon pertanyaan moderator terkait kepunahan peradaban. “Papua tidak baik-baik saja,” kata Ello. Ia sepakat bahwa kepunahan tersebut benar-benar terjadi di Papua, tepatnya di Papua Selatan. Yang terjadi pada film tersebut juga terjadi di sana, “Masyarakat makan dan hidup dari alam. Masyarakat menjaga alam.” Ia menambahkan bahwa ia juga setuju bahwa penduduk Papua ingin hak untuk menentukan nasib sendiri di tanah sendiri. Yang terjadi di sana sebenarnya lebih dari itu. Minimnya demokrasi, akses yang terbatas dan media yang ditekan. Ia yakin bahwa yang hadir pada acara tersebut peduli pada kemanusiaan dan menambahkan bahwa negara memang sudah mencanangkan Otsus. “Tapi Papua harus benar-benar diizinkan mengelola wilayahnya sendiri,” tambahnya.
Sementara Ibbas beranggapan bahwa nasionalisme di negeri ini belum bersatu. Telah banyak aktivis yang dipersekusi. Ia berpendapat bahwa tak hanya Papua yang tak baik-baik saja, “Negara kita yang tak baik-baik saja.” Ia ingin saudara-saudara dari Papua tak merasa sendiri. Indonesia Book Party telah menaungi banyak komunitas dengan gerakan literasi untuk membawa kita pada bangsa yang lebih baik. “Saya cinta Papua dan saya cinta bangsa Indonesia!” pekiknya.
Setelah sesi diskusi diakhiri, moderator mengapresiasi dan menyampaikan terima kasih kepada semua pemantik dan mengundang panitia untuk memulai perhitungan donasi. Shofi, PIC Jember Book Party, juga diundang ke depan untuk menyampaikan informasi terkait komunitas tersebut dan pembukaan rekrutmen kru yang masih berlangsung. Selanjutnya moderator meminta semuanya untuk berdiri. Mereka lalu menyanyikan lagu Tanah Airku untuk kali ke dua dan berfoto bersama. Acara ditutup oleh moderator dengan khidmat dan semangat persaudaraan.
Wiha Nasohoa
Waktu telah nyaris menyentuh pukul 11 malam dan para peserta mulai saling berpamitan. Halaman belakang Balai RW Institute menjadi saksi perbincangan-perbincangan dalam diskusi dan refleksi malam itu. Film ini memang telah dapat diakses di kanal resmi Ekspedisi Indonesia Baru ketika liputan ini ditulis, tetapi diskusi merupakan satu elemen yang tak kalah penting. Papua bukan tanah kosong. Wiha Nasohoa. Ini tanah air kami. Melalui diskusi, akan semakin banyak orang yang cerdas, berpikir kritis, membicarakan dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di tanah air kita. Tak hanya itu, diskusi juga menumbuhkan semangat untuk bersama-sama menjadi pribadi yang penuh kasih, baik terhadap budaya dan lingkungan, tetapi juga terhadap kemanusiaan.
