Aku memanggil namamu di antara tasbih yang gemetar,
dan bayangmu yang terpaku di liang ingatanku paling dalam.
Mereka datang membawa bunga, air mata
dan doa-doa yang mekar dari bibir penuh belas kasih.
Katanya, kau sudah tenang, sudah lapang, sudah sampai.
Tapi aku? masih di sini,
di bumi yang kau tinggalkan begitu saja dengan dada terbelah
dan hati yang menggigil setiap kali kudengar
seseorang menyebut kata “ikhlas”.
Mereka berdoa agar lukaku sembuh,
aku juga berdoa,
tapi lebih sering kuteriakkan namamu,
di antara sajadah yang basah oleh darah dalam diriku sendiri.
Rasanya aku menguburmu ribuan kali
setiap kali aku bangun dan sadar
kau tak ada lagi di sampingku,
tak ada tanganmu yang menggenggam lelahku,
tak ada suaramu yang dulu jadi rumah di kepala yang selalu gaduh ini.
Tuhan, mereka bilang ini takdir
Tapi tidakkah kau dengar?
rinduku memekik, doaku patah-patah
dan cinta ini masih menggigil
dalam kafan yang bahkan belum sempat kucium.
Kau dibawa pergi dengan lautan doa,
tapi aku tetap karam dalam laut yang tak punya pantai.
yang tersisa hanya bau tanah, bekas peluk dan luka
yang terus tumbuh seperti jamur di dalam dada.
Jika nanti malam kau lewat dalam mimpi
jangan diam seperti kemarin-kemarin.
ucapkan sesuatu apa pun,
agar aku tahu,
meski seluruh dunia memintaku melepasmu
kau tahu,
aku tetap menunggu.
Oleh: Desy Rizki Amalia
