Pertempuran Stalingrad: Salah Satu Perang Kota dengan Strategi dan Taktik yang Brilian



Stalingrad 1942, seorang prajurit Wehrmacht atau Angkatan Bersenjata Jerman yang bernama Helmut Walz sedang ditugaskan bersama timnya untuk menyerang sebuah rumah kecil. Tiba-tiba, entah dari mana, anggota Tentara Merah Uni Soviet menyergap dan mencoba membunuhnya dengan ujung sekop. Beruntung, ada temannya yang langsung menembak tentara merah itu. Namun, Helmut sadar bahwa di belakang temannya, terdapat satu lagi tentara merah. Helmut yang terlambat memberitahukan hal itu kepada temannya hanya bisa meratapi temannya yang ditembak tepat di kepala dan langsung gugur. Itu hanya secuil kejadian dari jalannya pertempuran di kota Stalingrad semasa Perang Dunia II. Pembaca mungkin familiar dengan perang kota yang dilakukan oleh kelompok bersenjata Hamas di Gaza, yang menggabungkan perang gerilya dan perang terbuka dengan latar sebuah perkotaan yang banyak terdapat gedung-gedung.  Hal ini memudahkan pasukan untuk bersembunyi atau menyergap musuh. Bisa dibilang, pertempuran di Stalingrad mirip seperti itu (Davis, D. L. 2022).

Operasi Biru: Upaya Jerman Menguras Sumber Daya Minyak Uni Soviet

Pada tanggal 22 Juni 1941, Jerman melancarkan Operasi Barbarossa, yaitu sebuah invasi terhadap Uni Soviet. Sesuai dengan mimpi Hitler yang ia tulis dalam manifesto politiknya yang berjudul Mein Kampf, tujuannya menyerang Uni Soviet adalah bagian dari proyek tempat tinggal atau Lebensraum bagi orang Jerman asli. Ia secara spesifik menyebut Uni Soviet sebagai tempat yang cocok untuk proyek tersebut karena banyaknya sumber daya yang melimpah dan dikuasai oleh musuh ideologisnya, yaitu komunisme. Maka dari itu, Jerman menyerbu Uni Soviet (Dimbleby, J, 2021; Hitler, A, 1943). 

Operasi Barbarossa direncanakan hanya menyerang hingga tiga kota, yaitu Leningrad, Moskow, dan Kiev. Namun, berkat iklim dan ketangguhan Soviet, rencana tersebut berantakan. Jerman hanya berhasil mengepung Leningrad, sedangkan Moskow hanya berhasil dicapai hingga gerbang kotanya saja. Hanya Kiev yang berhasil dikuasai oleh Jerman dalam operasi ini. Maka dari itu, Jerman memutar rencana. Hitler melihat bahwa Uni Soviet sangat bergantung pada sumber daya di bagian selatan negaranya, seperti Ukraina dan kawasan Kaukasus. Maka dari itu, Hitler merencanakan untuk memfokuskan serangan ke daerah selatan tersebut. Oleh karena itu, dibuatlah sebuah operasi bernama Operasi Biru atau Operation Blau, yang dirancang atas perintah Hitler oleh Kolonel-Jenderal Franz Halder. Operasi ini dimulai pada 28 Juni 1942. Namun, operasi ini tidak berjalan lancar karena tujuan awalnya yang menargetkan agar beberapa kantong-kantong perlawan Soviet dikalahkan satu per satu tidak berhasil. Hitler melihat bahwa kantong-kantong tersebut berasal dan didukung oleh posisi Soviet di kota Stalingrad. Maka dari itu, Hitler memerintahkan agar pergerakan pasukan diarahkan ke Stalingrad terlebih dahulu (Dimbleby, J, 2021; Glantz, D. M., & House, J, M, 1995).

Keblunderan Anton Lopatin 

Stalingrad merupakan wilayah yang dikendalikan oleh Divisi tentara ke-62 Uni Soviet. Divisi ini dipimpin oleh Mayor-Jenderal Anton Lopatin. Divisi ini didominasi oleh pasukan infanteri. Saat Jerman menyerbu kota, pasukan ini terbukti tidak dipimpin dengan baik. Pasukan ini memiliki banyak masalah kedisiplinan. Banyak yang melakukan desersi. Meskipun Stalin pada tanggal 28 Juli 1942 sudah mengeluarkan Perintah Nomor 227 yang terkenal, yang mewajibkan agar para desertir ditembak, hal itu tetap tidak efektif dalam memberikan disiplin di kalangan pasukan. Anton sendiri melakukan sebuah kesalahan berupa memerintahkan sebagian pasukan untuk mundur keluar kota, menyeberangi Sungai Volga. Akibatnya, Komisar-Politik Nikita Sergeyevich Khrushchev mengganti pucuk pimpinan pada tanggal 12 September 1942 dengan Letnan-Jenderal Vasily Chuikov ( Overy, R., 1997).

Vasily Chuikov dan Pelukan Beruang yang Efektif

Chuikov pada awalnya merupakan pemimpin yang mengepalai tentara ke-64, yang bertugas di sekitar Rostov. Wilayah tersebut merupakan pintu gerbang menuju Stalingrad karena terletak di sebelah barat kota tersebut. Meskipun Jerman berhasil menguasai Rostov dan memasuki Stalingrad, Khrushchev yang putus asa mengangkatnya menjadi pimpinan tentara ke-62. Keputusasaan itu berbuah manis. Chuikov ternyata mampu menyusun strategi yang bahkan Nasution, dalam bukunya Pokok-Pokok Gerilya, menganggapnya sebagai strategi perang terbaik (Beevor, A, 1998; Overy, R, 1997; Nasution, 1953).

 Kota Stalingrad selama berminggu-minggu telah dibombardir habis-habisan oleh Jerman. Kota menjadi reruntuhan dan berpuing. Hal ini menyebabkan medan tempur sulit dikenali secara akurat, terutama dalam menentukan siapa yang menguasai wilayah tertentu. Jerman terkadang kebingungan karena tidak dapat membedakan mana blok bangunan yang mereka kuasai dan mana yang masih dikuasai pihak Soviet. Oleh karena itu, Chuikov memanfaatkan momentum tersebut untuk membentuk strategi yang terbilang cukup efektif. Melansir buku karya Anthony Beevor, yang berjudul Stalingrad: The fateful siege, 1942–1943 strategi itu disebut sebagai pelukan beruang. 

Pelukan beruang pada dasarnya merupakan strategi untuk menyusahkan pergerakan Jerman. Hal ini dilakukan dengan cara menyusup ke blok-blok bangunan yang dikuasai Jerman dan melakukan aksi seperti pembunuhan, penyergapan, peledakan, penyabotan, serta tindakan lain yang dapat menghancurkan moral, strategi, dan taktik Jerman. Ibarat pelukan seekor beruang yang membuat mangsanya tidak dapat bergerak, Jerman kesulitan untuk bermanuver atau memberi bantuan tembakan mortar, artileri, atau serangan udara karena takut mengenai pasukannya sendiri. Hal ini terjadi karena pasukan Soviet menyusup ke blok bangunan yang dikuasai Jerman dan berposisi di tempat yang sama, sehingga membuat kebingungan di kalangan pasukan Jerman  (Beevor, A, 1998; Davis, D. L, 2022).

Salah satu momen yang paling terkenal dari perang tikus atau strategi pelukan beruang ini adalah kehadiran para penembak runduk atau sniper  Tentara Merah. Pembaca mungkin familiar dengan film berjudul Enemy At the Gates. Film yang dibintangi oleh Jude Law, yang berperan sebagai seorang penembak runduk bernama Vasily Zaitsev ini membuat publik familiar dengan para penembak runduk di pertempuran tersebut. Meskipun banyak hal yang menurut penulis tidak akurat dengan kejadian aslinya, terutama adegan percintaannya, setidaknya penggambaran kehidupan penembak runduk Soviet di film itu cukup tepat. 

Para penembak runduk ini banyak membunuh pasukan Jerman. Menurut pengakuan Helmut Walz, prajurit Jerman yang menghadapi seramnya taktik Soviet tersebut, strategi ini memberikan pukulan psikologis bagi pasukan Jerman. Banyak prajurit Jerman yang bunuh diri akibat tidak tahan akan siksaan moral yang disebabkan oleh serangan yang sering datang tiba-tiba dan berkala. Beevor juga menyebut bahwa pasukan Soviet sering muncul dari selokan atau tempat-tempat yang hanya bisa dilakukan oleh tikus untuk menyergap atau membunuh musuh-musuhnya. Hal ini membuat Jerman menyebut pertempuran ini sebagai rattenkrieg atau perang tikus (Beevor, A, 1998; Davis, D. L, 2022).

Uranus Memberikan Pukulan Terakhir

Meskipun strategi pelukan beruang efektif dalam memberikan pukulan psikologis bagi Jerman, hal ini tidak cukup untuk mengeluarkan mereka dari dalam kota. Maka dari itu, pihak Markas Besar Tentara Merah, Stavka, menyusun rencana yang disebut sebagai Operasi Uranus. Operasi ini bertujuan untuk menyerang dari sisi belakang pasukan Rumania dan Italia yang bertugas menjaga front belakang saat seluruh pasukan Jerman berada di dalam kota Stalingrad. Operasi ini dipimpin oleh Jenderal Georgy Zhukov dan dijalankan pada tanggal 19 November 1942.

           Strategi ini terbukti berhasil karena pasukan Rumania dan Italia merupakan pasukan yang lemah secara logistik dan strategis, sehingga relatif mudah dikalahkan oleh Tentara Merah. Hal ini membuat pasukan Jerman yang berada di dalam kota menjadi terkepung. Setelah mencoba bertahan selama beberapa minggu, pimpinan tentara Jerman di dalam kota, Marsekal Friedrich Paulus menyerah pada tanggal 3 Februari 1943, yang mengakhiri pertempuran. Itulah pertempuran Stalingrad, sebuah pertempuran kota dengan strategi dan taktik pertahanan yang brilian(Erickson, J, 1975).



Referensi

Beevor, A. (1998). Stalingrad: The fateful siege, 1942–1943. Penguin Books.

        Davis, D. L. (2022, January 14). The battle of Stalingrad is a miserable story of history. The National Interest. https://nationalinterest.org/blog/reboot/battle-stalingrad-miserable-story-history-199437

Dimbleby, J. (2021). Barbarossa: How Hitler lost the war. Penguin Books / Viking.

Erickson, J. (1975). The road to Stalingrad: Stalin’s war with Germany (Vol. 1). Yale University Press.

Glantz, D. M., & House, J. M. (1995). When Titans Clashed: How the Red Army stopped Hitler. University Press of Kansas.

Hitler, A. (1943). Mein Kampf (R. Manheim, Trans.). Houghton Mifflin.

Nasution, A. H. (1953). Pokok-pokok gerilya dan pertahanan Republik Indonesia di masa yang lalu dan yang akan datang. PT Pembimbing Masa.

Overy, R. (1997). Russia’s war: A history of the Soviet effort, 1941–1945. Penguin Books.


Oleh: Dimas Rasyid Aliansyah

Post a Comment

Previous Post Next Post