Dalam medio 2025-2026, Iran telah diserang sebanyak dua kali oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel. Serangan terbaru terjadi pada tanggal 28 Februari 2026. Hingga tulisan ini dibuat, serangan masih berlangsung. Berbeda dengan sasaran serangan AS, mayoritas serangan yang dilakukan oleh Israel menyasar figur atau tokoh politik dan militer dari Garda Revolusi Islam Iran. Serangan ini menunjukkan betapa berpengaruhnya Garda Revolusi Islam Iran di kancah perpolitikan domestik dan global Iran (Kurt, S. 2026; RNS. 2026).
Berawal dari Revolusi 1979
Pada tahun 1979 pemimpin oposisi Islamis Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini berhasil menggulingkan rezim monarki-absolut Muhammad Reza “Shah” Pahlevi, dalam sebuah revolusi yang dikenal sebagai revolusi Islam Iran. Khomeini berhasil melakukannya berkat bantuan kekuatan masa. Kekuatan massa tersebut terdiri dari kelompok berjenis Ormas dan Paramiliter yang dipimpin oleh tokoh-tokoh atau imam-imam Islam Syiah yang berbaiat kepada Khomeini. Setelah menjadi penguasa Khomeini memutuskan untuk meleburkan para ormas dan paramiliter tersebut ke dalam satu organisasi berjenis campuran antara militer dengan paramiliter yang bernama Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) (Nasr, V. 2025; Keshavarz, A. 2023).
Hierarki Organisasi dan Fungsi Masing-Masing Garda
Garda Revolusi Islam Iran memiliki 6 matra atau Angkatan. Masing-masing memiliki fungsi dan tugas yang berbeda-beda. Semua akan dijelaskan di bawah.
Sumber: Riset penulis berdasarkan artikel dan jurnal oleh Carl, N & Sayeh, J, 2025
Yang pertama Matra Darat atau yang bernama Garda Revolusi Islam Darat. Menurut situs Critical Threat, matra darat dipergunakan untuk perang gerilya dan taktik asimetris di darat. Wilayah yuridisnya adalah wilayah dalam negeri Iran. Bisa dibilang strategi dari matra ini mirip dengan Tentara Nasional Indonesia saat perang kemerdekaan karena sama-sama mendesentralisasi rantai komando dan membentuk wilayah-wilayah yang akan menjadi daerah operasi gerilya setiap satuan dalam Matra tersebut (Carl, N. 2025).
Yang kedua ada Garda Revolusi Islam Laut Iran, yang bertugas melaksanakan perang asimetris dan hibrida di lautan. Berbeda dengan AS yang menggunakan strategi blue-water navy, atau proyeksi ke lautan lepas, matra ini hanya bisa melakukan proyeksi di sekitar teluk Persia. Iran tidak memiliki kapal induk atau armada laut sebanyak dan sebesar AS sehingga tidak mampu meniru AS. Maka dari itu Iran memakai strategi asimetris bernama Anti-Access Area Denial. Strategi ini merupakan upaya Iran agar musuh-musuh mereka tidak mampu bergerak atau bermanuver dengan bebas, meskipun jauh lebih kuat dibandingkan Iran. Taktik ini biasanya menggunakan kapal-kapal yang lebih kecil atau kapal selam dan senjata lainnya yang mampu menjangkau seluruh area operasi. Menggunakan kedua jenis kapal tersebut, Iran menjalankannya dengan memenuhi sekitar Teluk Persia atau Selat Hormuz dengan ranjau laut yang dipasangi secara diam-diam sehingga membuat kapal-kapal musuh kesulitan untuk bergerak. Garda ini juga mengoperasikan misil anti-kapal dan pesawat tak berawak dalam jumlah yang banyak dan berkerumun agar setiap kapal musuh yang ada di Teluk Persia dan dekat Iran dapat ditenggelamkan dari jarak jauh. Bisa dibilang ini adalah strategi Asimetris tapi di lautan (Carl, N. 2025; Keshavarz, A. 2023).
Berikutnya ada Matra Basij. Basij bertugas menegakkan hukum dalam keadaan damai. Ibarat Brigade Mobil (Brimob) dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di Indonesia, Basij bertugas menangani demonstrasi dan merazia tempat-tempat yang dianggap melanggar hukum. Tetapi mereka juga dikenal suka menangkapi orang-orang yang dianggap musuh negara di dalam negeri. Jika dalam keadaan perang, tugasnya bisa dibilang mirip dengan Komando Cadangan Angkatan Darat TNI (Komcad TNI). Keduanya bertugas sebagai pasukan cadangan dalam keadaan perang (Carl, N. 2025).
Iran juga terkenal karena selalu menggunakan misil jarak jauh yang menyasar musuh-musuhnya. Matra yang bertugas mengatur ini adalah Garda Revolusi Islam Iran Antariksa. Dikarenakan Iran tidak memiliki pesawat pengebom strategis seperti Amerika dengan B-52 nya, atau Rusia dengan Tupolev TU-95 “Bear”, maka Iran menggunakan misil darat-ke-darat. Masing-masing memiliki jarak dan jumlah hulu ledak yang berbeda. Mungkin akan dijelaskan di tulisan berikutnya (Carl, N. 2025).
Tidak lengkap rasanya jika tidak membahas Quds Force. Mantra ini merupakan salah satu penyebab kenapa kelompok-kelompok bersenjata di Timur Tengah seperti Hamas dan Hizbullah sangat diperhitungkan. Quds Force ini bertugas untuk menyulut perang atau konflik di negara-negara sasaran Iran. Caranya dengan menyuplai atau menciptakan kelompok yang akan menjadi proksi Iran. Proksi maksudnya adalah ketika suatu aktor di hubungan internasional bekerja untuk kepentingan aktor lain. Hamas dan Hizbullah adalah proksi-proksinya Iran karena dibantu dan disokong oleh Iran, tetapi Iran itu sendiri tidak menyerang bersama kedua kelompok. Quds Force di Amerika Serikat mirip dengan US Army Green Beret dan Special Activities Division (SAD)-nya CIA. Baik Quds Force maupun SAD dan Green Beret bertugas menyulut perang di negara lain dengan taktik yang sudah disebutkan. Ini merupakan bagian dari perang Hibrida dan Asimetris Iran karena perang proksi termasuk dalam kedua jenis kategori yang disebutkan (Carl, N. 2025; Keshavarz, A. 2023).
Sedangkan untuk Intelijen Garda Revolusi Islam Iran, tugasnya sama seperti badan intelijen pada umumnya. Memberi, melaporkan, dan menganalisis intelijen tentang potensi ancaman terhadap Iran, Tidak banyak yang diketahui soal badan ini akibat minimnya informasi yang bisa diberikan (Carl, N. 2025).
Mengendalikan Kebijakan Politik Luar dan Dalam Negeri Iran
Seorang pengamat politik Iran-AS Vali Reza Nasr menulis dalam bukunya yang berjudul Iran’s Grand Strategy: A Political History bahwa IRGC dibandingkan badan lainnya IRGC memang lebih berpengaruh. Ini dikarenakan mereka banyak diberikan konsesi ekonomi dan keistimewaan oleh sang Ayatullah. Ini tidak lepas dari kuatnya pengaruh konservatif di dalam pemerintahan Iran. Pihak konservatif merupakan pihak yang paling radikal dan militan dalam memperjuangkan negara Islam Iran. Dikarenakan ideologi kelompok ini adalah Islam fundamentalis yang memusuhi siapa pun yang tidak sepaham dengan mereka. Berbeda dengan kubu moderat yang meskipun masih mendukung berdirinya negara islam, kubu ini masih mau bersahabat dengan siapapun yang mau bersahabat dengan Iran. Kubu konservatif sangatlah kuat pengaruhnya karena didukung oleh The Supreme Leader itu sendiri (Nasr, V. 2025).
Kubu Konservatif banyak dibantu oleh IRGC. Ini dikarenakan IRGC dibentuk dengan tujuan menjaga semangat perjuangan Revolusi Islam, yang merupakan tujuan kelompok konservatif. Meskipun begitu IRGC tetap bisa mandiri dan tanpa diatur oleh Presiden atau parlemen Iran. Bahkan IRGC dianggap juga mampu menjadi kingmaker di pemerintahan Iran. Saat Hassan Rouhani yang moderat menjadi presiden misalnya, IRGC banyak bertindak tanpa koordinasi dengan Rouhani. Seperti mengeratkan hubungan dengan milisi-milisi pro-Iran di Irak dan gerakan perlawan Palestina yang bertentangan dengan kebijakan Hassan Rouhani yang ingin mengurangi sanksi AS terhadap Iran. Pemimpin Quds Force Qassem Solemani sendiri berkata pada Duta Besar AS untuk Swiss di tahun 2003 bahwa dia yang mengatur kebijakan luar negeri Iran. Padahal pemimpin saat itu adalah Khatami yang moderat. Soleimani menggunakan Quds Force dan IRGC untuk mengatur proksi-proksi Iran di Irak untuk melawan AS. Ini bertentangan dengan Khatami yang ingin lebih terbuka dengan AS. Tetapi baik Khatami atau Rouhani tidak mampu berbuat apa-apa. Alma Keshavarz dalam The Iranian Revolutionary Guard Corps: Defining Iran’s military doctrine dan Vali Nasr dalam buku yang sama, mengatakan bahwa IRGC membantu presiden dari kalangan Konservatif Mahmoud Ahmadinejad naik ke kursi kepresidenan dua kali. Ini sangat janggal karena mayoritas suara pada kedua pemilihan menguntungkan Mir Mousavi yang moderat. Salah satu perwira IRGC sendiri yang mengakui kepada Vali bahwa IRGC dikerahkan untuk memenangkan Ahmadinejad (Nasr, V. 2025; Keshavarz, A. 2023 ).
Merupakan Kingmaker di Iran
Saat tulisan ini dibuat Ayatollah Khamenei meninggal akibat serangan udara Israel. Iran International, media berita berbahasa Inggris asal Iran melaporkan bahwa Mojtaba Khamenei naik menjadi penggantinya. Mojtaba merupakan anak Ali Khamenei yang dekat dengan Garda tersebut. Bahkan saat perang Irak-Iran tahun 1980 hingga 1988, Mojtaba bertugas di Garda itu. Meskipun Iran tidak mengakui kalau Mojtaba naik akibat intervensi dari Garda Revolusi Islam, berdasarkan bukti-bukti yang sudah dipaparkan di paragraf sebelumnya dan naiknya seorang supreme leader yang memiliki relasi dengan Garda Revolusi Islam Iran, menunjukkan betapa kuatnya pengaruh Garda Revolusi Islam di negara itu (Iran International, 2026; Razoux, P. 2015).
Referensi
Carl, N. (2025, June 17). Explainer: The Iranian Armed Forces. Critical Threats Project. https://www.criticalthreats.org/analysis/explainer-the-iranian-armed-forces
Huntington, S. P. (1957). The soldier and the state: The theory and politics of civil-military relations. Harvard University Press.
Iran International. (2026, March 3). Ali Khamenei's son Mojtaba named Iran's new Supreme Leader. Iran International. https://www.iranintl.com/en/202603030390
Keshavarz, A. (2023). The Iranian Revolutionary Guard Corps: Defining Iran’s military doctrine (Studies in Contemporary Warfare). Bloomsbury Academic.
Kurt, S. (2026, March 2). Over 2,000 sites targeted in Iran in joint Israel-US operation: Report. Anadolu Agency. https://www.aa.com.tr/en/middle-east/over-2-000-sites-targeted-in-iran-in-joint-israel-us-operation-report/3846261
Sayeh, J. (2025, February 6). Analysis: Unpacking Iran’s counterintelligence apparatus. FDD’s Long War Journal. https://www.longwarjournal.org/archives/2025/02/analysis-unpacking-irans-counterintelligence-apparatus.php
Nasr, V. (2025). Iran’s Grand Strategy: A Political History. Princeton University Press.
Razoux, P. (2015). The Iran-Iraq War (N. Elliott, Trans.). The Belknap Press of Harvard University Press.
RNS. (2026, March 3). Analisis Sharky: Day 3 Perang AS-Israel vs Iran. Airspace Review. https://www.airspace-review.com/2026/03/03/analisis-sharky-day-3-perang-as-israel-vs-iran/
Shapira, B. (2024, March 11). Report – IRGC (Islamic Revolutionary Guard Corps) aka Sepah or Pasdaran (Report). Alma Research and Education Center. https://israel-alma.org/wp-content/uploads/2024/03/Report-%E2%80%93-IRGC-Islamic-Revolutionary-Guard-Corps-aka-Sepah-or-Pasdaran-1.pd
Oleh Dimas Rasyid Aliansyah