Algoritma Mengatur Kesadaran: Otonomi Manusia dalam Krisis Digital dan Arah Perubahan Global dengan Gen Z sebagai Ujung Tombak


Dalam dua dekade terakhir, algoritma tidak lagi sekadar perangkat teknis, melainkan aktor sosial yang ikut menentukan bagaimana manusia berpikir, berpersepsi, dan mengambil keputusan. Dunia digital yang seolah menawarkan kebebasan akses justru menciptakan struktur kontrol baru: struktur yang tidak terlihat, tidak berwujud, namun memiliki kuasa besar. Shoshana Zuboff menyebut fenomena ini sebagai surveillance capitalism, sebuah sistem yang tidak hanya mengumpulkan data, tetapi juga memprediksi dan memodifikasi perilaku manusia demi keuntungan ekonomi.

Algoritma bekerja dengan asumsi-asumsi tertentu: apa yang harus kita lihat, siapa yang perlu kita dengar, dan topik apa yang dianggap relevan. Ketika jutaan orang mengonsumsi konten yang sudah terlebih dahulu disusun oleh mekanisme ini, ruang kritis masyarakat perlahan menyempit. Seperti yang dijelaskan Foucault, kekuasaan paling efektif adalah kekuasaan yang tidak disadari keberadaannya dan algoritma memanfaatkan prinsip ini dengan sempurna.

Di sisi lain, Bernard Stiegler menekankan bahwa teknologi digital menciptakan proletarianisasi perhatian, ketika kemampuan manusia untuk fokus, mengingat, dan berpikir jangka panjang hilang karena semua proses kognitif di-outsourcing kepada mesin. Pergeseran ini tidak hanya mengubah cara manusia menggunakan waktu, tetapi juga cara manusia membentuk identitas. Kita menjadi apa yang kita lihat, tetapi apa yang kita lihat ditentukan oleh sistem yang memprioritaskan engagement, bukan kebenaran atau kedalaman.

Hal yang lebih meresahkan adalah bagaimana algoritma mengubah batas antara pilihan dan manipulasi. Ketika rekomendasi konten terasa personal, kita sering lupa bahwa ia adalah hasil kalkulasi komersial. Otonomi berubah menjadi simulasi kebebasan. Menurut teori technological mediation dari Don Ihde, teknologi tidak netral: ia membentuk dunia yang mungkin kita pahami dan dunia yang mungkin kita abaikan. Dengan kata lain, algoritma tidak hanya menyampaikan realitas, tetapi juga membentuknya.

Krisis otonomi manusia semakin jelas ketika ide dan opini publik bukan lagi hasil interaksi sosial organik, tetapi konsekuensi dari seleksi algoritmik. Ruang diskusi berubah menjadi ruang gema. Polarisasi meningkat bukan hanya karena perbedaan gagasan, tetapi karena sistem membuat kita hanya bertemu gagasan yang menegaskan posisi kita.

Namun, krisis ini tidak berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari struktur kapitalisme global yang lebih luas. Kapitalisme hari ini tidak lagi hanya menguasai pasar barang dan jasa, tetapi juga pasar perhatian, identitas, dan kesadaran. Data menjadi komoditas, emosi menjadi instrumen, dan opini publik menjadi ladang investasi. Dunia digital bukan sekadar ruang komunikasi, melainkan arena reproduksi kekuasaan.

Di tengah kondisi ini, generasi yang paling terdampak adalah Generasi Z. Mereka tumbuh dalam pusaran kapitalisme digital terhubung secara global, namun sekaligus terpapar tekanan sosial yang konstan. Standar hidup, citra diri, bahkan nilai moral sering dibentuk oleh algoritma yang tidak dapat mereka kendalikan. Tidak mengherankan jika berbagai survei menunjukkan tingginya tekanan mental di kalangan Gen Z. Mereka hidup dalam sistem yang menuntut produktivitas, visibilitas, dan validasi tanpa henti.

Namun paradoksnya, Gen Z juga menjadi generasi yang paling sadar terhadap ketidakadilan. Akses informasi yang luas membuat mereka cepat membaca kontradiksi: kesenjangan ekonomi yang melebar, korupsi politik, krisis lingkungan, serta dominasi oligarki global. Gelombang protes dan gerakan sosial di berbagai negara menunjukkan bahwa keresahan ini bersifat lintas batas. Masalah yang mereka hadapi bukan sekadar nasional, tetapi sistemik dan global.

Di sinilah titik pertemuan antara krisis digital dan krisis kapitalisme global. Algoritma bukan hanya alat teknologi, tetapi instrumen yang mempertahankan sistem. Ia mampu mengalihkan perhatian dari isu struktural, memecah fokus kolektif, bahkan menjinakkan potensi perlawanan dengan hiburan tanpa akhir. Aktivisme menjadi cepat, spontan, dan viral, namun acap kali justru kehilangan arah strategis.

Karena itu, pertanyaan mendasarnya bukan hanya bagaimana merebut kembali otonomi digital, tetapi ke mana arah perubahan harus dibawa. Sejarah menunjukkan bahwa setiap krisis sistemik selalu diikuti oleh pertarungan ideologi. Kapitalisme dengan wajah digitalnya berupaya beradaptasi dan mempertahankan dominasi. Sosialisme menawarkan kritik terhadap ketimpangan, namun sering terjebak pada problem struktural lain. Di sisi lain, Islam hadir sebagai ideologi yang tidak hanya mengatur moral individu, tetapi juga tata kelola sosial, ekonomi, dan politik secara menyeluruh.

Islam memandang kekuasaan bukan sebagai alat akumulasi modal, tetapi sebagai amanah. Sumber daya publik tidak boleh diprivatisasi untuk segelintir elite. Informasi dan teknologi tidak seharusnya menjadi instrumen manipulasi kesadaran, melainkan sarana kemaslahatan. Blueprint pergerakan Rasulullah SAW menunjukkan bahwa perubahan tidak dibangun di atas kemarahan spontan, tetapi melalui pembinaan pemikiran, interaksi ideologis di tengah masyarakat, dan transformasi sistem secara menyeluruh.

Dengan demikian, kebangkitan Gen Z tidak cukup jika hanya berupa ledakan emosi digital. Energi mereka membutuhkan arah ideologis yang jelas dan metodologi perubahan yang teruji. Tanpa itu, sistem akan terus beradaptasi dan menjadikan perlawanan sebagai bagian dari siklus konsumsi itu sendiri.

Krisis otonomi digital, krisis kapitalisme global, dan keresahan generasi muda bukanlah fenomena yang terpisah. Ia adalah simpul dari persoalan peradaban. Jika algoritma hari ini mampu mengatur kesadaran, maka perjuangan sejatinya adalah merebut kembali kesadaran itu bukan hanya dari teknologi, tetapi dari sistem yang mengendalikannya.
Di tengah pertarungan ideologi yang semakin nyata, pilihan generasi ini akan menentukan bukan hanya arah politik, tetapi arah peradaban itu sendiri.

 Oleh Nur Afifah  lulusan IT Politeknik Negeri Jember yang suka mengamati pola kehidupan selain coding dan desain. Boleh jika ingin diskusi lebih lanjut di akun Instagram @nraflfh dan intip akun menulis yang saya bangun perlahan di @seebooks.bynura 

Post a Comment

Previous Post Next Post