Book Camping with Jember Book Party: Berkomunitas Di Bawah Langit Malam



“The world is not in your books and maps. It’s out there.” 

Saya terkenang-kenang ucapan Gandalf the Grey dari film adaptasi The Hobbit ketika memandang Laut Selatan dari Tanjung Papuma. Waktu itu Ahad (12/04/2026) dan saya tengah mengikuti acara kemah yang diadakan JBP (Jember Book Party). 

Saya menghayati ucapan Gandalf sepanjang dompet saya mampu membawa saya pada luasnya ‘dunia’ yang ia maksud. Sisanya, saya hanya mengandalkan tumpukan buku yang mampu memindahkan saya dari satu tempat ke tempat lain tanpa harus merogoh kocek yang dalam. Atau kalau boleh curang, menonton dokumenter kadang lebih ampuh dalam memberikan ilusi penjelajahan kepada saya. 

Kalau Gandalf adalah orang sungguhan yang bisa dijapri, saya ingin mendebat bahwa memanglah dunia secara harfiah tidak ada dalam (in) buku dan peta-peta, tapi dunia hadir melaluinya (through). Dan ini tidak kalah penting. Misalnya, melalui bukulah orang-orang berjejaring untuk menyebar-awetkan pengalaman hidup yang beragam. 

Bukankah pada akhirnya itu salah satu dari tujuan kita hidup? 

***

Pada Sabtu (11/04/2026), kami berangkat dengan rombongan pesepeda dari titik kumpul Masjid Al-Hikmah Unej. Perjalanan lumayan jauh dan panas membuat tenggorokan seperti adonan roti yang terlalu lama dipanggang. Namun di boncengan, saya dan Kak Ibbas–salah satu inisiator JBP yang saya kenal via grup koordinasi, banyak membahas tentang kegiatan berkomunitas dan tentu saja beberapa daftar baca masing-masing. 

Saya ingat saat Kak Ibbas membahas buku favoritnya, trilogi sejarah Susan W. Beaur yang cukup tebal untuk mendamprat dan mengembalikan kewarasan rezim, saya berkomentar bahwa versi bahasa Indonesia-nya banyak sekali ditemui salah ketik, pemilihan bahasa tidak baku, dan pemotongan kata yang tidak sesuai kaidah. Mungkin proofreader-nya lelah dan kewalahan dengan tebalnya. Saya maklum meski Kak Ibbas terus merespon, “Masa sih?” 

Sebagai pendatang baru yang tidak mengenal siapa-siapa di JBP, sebenarnya saya tidak terlalu khawatir akan kesusahan berbaur. Suatu komunitas yang disatukan oleh hobi, tidak akan membawa di dalamnya sebuah hambatan untuk membangun bonding. Susah berbaur dan masalah-masalah lainnya tidak relate dengan bentuk perkumpulan semacam ini. Kami bisa langsung ‘klik’ hanya dengan pertanyaan pengantar seperti, “Currently read(s)mu apa?”

Setibanya di Papuma kami langsung beres-beres. Itu kali pertama saya mengulir-ulir rangka tenda. Ini menyenangkan, pikir saya. Walau saya tak betul-betul tahu tugas saya apa kecuali mengurus rangka dan memegangi flysheet supaya tidak fly sungguhan terkena angin saat yang lain memasang pasak tenda. 

Selanjutnya kami dipecah ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk silent reading  selama 30 menit. Dua orang dari kelompok saya membawa bacaan memoar untuk event di sore itu. Ada Salsa dengan Secrets of Divine Love - A. Helwa, Mas Haris membaca I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki - Baek Sehee, adapun saya memilih lit-fic berjudul Seascrapper - Benjamin Wood. Diskusi berjalan lancar dan seru. 

Angin pembawa selesma berangsur-angsur reda menyisakan suhu hangat yang merayap di udara. Hal itu menandakan berakhirnya diskusi selama satu jam dan sesuai susunan acara, kami bersiap untuk ishoma. Kami bergantian shalat maghrib di masjid yang jaraknya lumayan jauh dari tempat tenda didirikan.

Malamnya, ketika yang lain shalat isya’ bergantian, sebagian dari kami melihat penampakan di atas kepala. Fenomena yang baru besoknya kami ketahui bernama space jellyfish, sempat membuat geger. Dari penjelasan media massa lokal, space jellyfish merupakan gas buangan dari roket atau sampah antariksa yang kebetulan lewat di sekitar langit khatulistiwa. 

Kami makan di depan api unggun sambil tak habis-habisnya membahas fenomena tersebut, sampai kami lupa kalau ada satu lagi agenda yang dipersiapkan panitia sebelum kami menutup malam dengan beristirahat.

Kami kembali dipecah jadi kelompok kecil yang berbeda dari silent reading tadi. Kali ini ada Kak Ibbas, Mas Nuril, Ira, dan saya. Masing-masing kelompok diminta menampilkan sesuatu dan diberi 30 menit untuk brainstorming. Saya tak punya ingatan bagus tentang kelompok saya kecuali kami mengisi lebih dari separuh waktu yang diberikan untuk tertawa sampai hampir masuk angin. Lalu dengan keyakinan yang diyakinkan-yakin, yang semula kami ingin menampilkan beatbox atau membaca puisi mbeling milik Remy Sylado, akhirnya kami memutuskan tampil dengan puisi dadakan gubahan kami sendiri. Tentang senter kekasih yang hilang dan petualang-petualangan yang menyertainya. 

Kami mengakhiri malam itu dengan bersenda gurau, makan pop mie, dan rebahan memandang langit bersih sambil mencari-cari rasi bintang yang mudah dikenali. Esoknya kami menyisir daerah di sekitar pantai untuk berswafoto dan jalan-jalan pagi. Kami mengakhiri hari kedua berkemah dengan hati penuh. Membongkar tenda, berfoto bersama, dan pulang ke kediaman masing-masing dengan selamat. 

***

Gandalf barangkali akan setuju dengan argumen saya menyoal dunia hadir melalui buku-buku. Kita bertemu dengan orang-orang baru, membuat kenangan dan kemenangan bersama mereka karena dikumpulkan oleh tujuan yang sama yakni, menjadikan hidup berwarna dan penuh petualangan seperti dalam buku-buku yang kita baca. 


Bio: Raina Jamila lahir dan bermukim di Bondowoso. Memiliki ketertarikan berlebih pada Clarice Lispector dan menggemari diskursus seputar seni kontemporer di waktu senggang. Dapat disapa melalui tulisan-tulisannya yang lain lewat akun Medium @rainaj

Oleh: Raina Jamila

Post a Comment

Previous Post Next Post