Pada tanggal 15 Januari 1991, tenggat waktu yang diberikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kepada Irak untuk mundur dari Kuwait berakhir. Hasilnya, Irak tetap bersikukuh untuk menguasai Kuwait. Sebagai respons, Presiden Amerika Serikat (AS) memerintahkan koalisi negara-negara yang ingin memukul mundur Irak dari Kuwait untuk melaksanakan Operasi Badai Gurun (Operation Desert Storm).
Operasi ini merupakan langkah pertama dari rencana AS dan koalisi untuk melepaskan Kuwait dari cengkeraman Irak. Hal tersebut dilakukan melalui serangan udara besar-besaran terhadap Kuwait dan Irak, yang menyasar fasilitas strategis milik pemerintah maupun militer Irak (Hiro, D., 1992).
Dua hari kemudian, Irak melancarkan serangan rudal jenis Scud terhadap Israel sebagai respons atas serangan AS dan koalisinya. Tujuannya agar memancing Israel untuk bergabung dengan koalisi AS. Langkah ini bertujuan untuk memecah belah koalisi, yang didominasi oleh negara-negara penentang Israel. Negara-negara tersebut bergabung dengan koalisi AS dengan jaminan bahwa Israel tidak akan turut serta dalam koalisi.
Bagi mereka, Israel bukanlah negara yang sah dan dipandang sebagai penjajah tanah Palestina sehingga mereka akan merasa tidak rela untuk bertempur dengan negara yang tidak mereka akui, dan akan mundur dari koalisi. Situasi ini akan merepotkan AS dalam menggempur Irak, terlebih AS masih dibayangi sindrom Vietnam, yang membuatnya enggan berperang sendirian (Ryan, C, 2019; Atkinson, R., 1993).
Oleh karena itu, komandan tertinggi koalisi AS, Jenderal Norman Schawrzkopf, memerintahkan penghancuran rudal-rudal Scud melalui serangan udara. Namun, Irak terbukti lihai dalam menyembunyikan posisi rudal-rudal tersebut. Ditambah dengan kondisi udara dan topografi kawasan Irak dan Kuwait sangatlah tidak bersahabat bagi pasukan koalisi AS.
Situasi ini mendorong perencanaan pengiriman pasukan khusus untuk melacak posisi Scud. Diputuskan bahwa pasukan khusus Inggris dan AS, yakni Special Air Service (SAS) dan Delta Force lah yang akan dikirim untuk melakukan misi tersebut (Atkinson, R, 1993).
SAS dan Delta Force bisa dibilang adalah saudara kandung. SAS didirikan oleh Letnan Kolonel David Stirling semasa kampanye Afrika Utara saat Perang Dunia II. Pasukan ini adalah pasukan khusus Angkatan Darat Inggris. Jika pembaca bertanya mengapa terdapat kata air atau udara, jawabannya terletak pada sejarah pembentukannya, yaitu sebagai strategi untuk mengecoh Jerman agar mengira serangan akan dilakukan lewat udara. Padahal, mereka menyerang melalui jalur darat, baik menggunakan mobil maupun dengan berjalan kaki. Nama tersebut terus digunakan hingga perang berakhir.
Setelah itu, SAS kerap mengadakan latihan bersama dengan Tentara Amerika Serikat. Pada dekade 1960-an, datang seorang prajurit AS yang bernama Kolonel Charles Alvin Beckwitz, yang berlatih dengan pasukan khusus Inggris tersebut. Beckwitz terkesan dengan SAS dan berencana untuk membentuk satuan khusus serupa di Angkatan Darat AS.
Maka, lahirlah pasukan khusus Delta Force di tahun 1970-an. Kedua pasukan khusus ini juga bisa dibilang memiliki tugas yang mirip. Mulai dari kontra-terorisme, sabotase, infiltrasi, subversi, pengintaian hingga pembebasan sandera atau tawanan perang. Atas dasar kesamaan dan asal-usul itulah penulis menganggap kedua pasukan khusus ini sebagai saudara kandung (Macintyre, B., 2016; Eastwood, B. M., 2024).
Pasukan SAS bisa dibilang menjadi satuan pertama yang diterjunkan dalam perburuan Scud. Beberapa bulan sebelumnya, tepatnya pada November tahun 1990, saat proses negosiasi antara PBB dan Irak berlangsung, SAS telah ditempatkan di Arab Saudi sebagai langkah antisipasi jika perang dengan Irak pecah. Oleh karena itu, ketika konflik dimulai, SAS langsung menjalankan misi perburuan Scud. Delta Force menyusul sekitar tanggal 20 Januari 1991, setelah mendapat izin dari Kepala Staf Gabungan AS, Colin Powell, untuk terlibat langsung dalam perang (Atkinson, R, 1993).
Kedua pasukan khusus tersebut dibagi ke dalam wilayah operasi yang berbeda. SAS dikirim untuk menyusup ke wilayah bagian utara dan tengah Irak, sementara Delta Force dikirim untuk menyusup ke wilayah bagian selatan Irak. Kedua pasukan ini ditugaskan untuk melacak posisi Scud dan menandainya agar pesawat koalisi dapat menghancurkannya.
Operasi terbukti berhasil. Intensitas serangan Scud Irak ke Israel menurun hingga akhir perang. Israel pun tidak terpancing untuk berperang melawan Irak bersama AS. Hal ini memberikan AS dan koalisinya kesempatan untuk memukul mundur Irak dari Kuwait (Ryan, C., 2019; Atkinson, R., 1993).
Cerita dari pasukan khusus AS dan Inggris dalam perang ini bisa terbilang agak terlupakan. Menurut salah satu anggota SAS dalam perburuan tersebut, yang bernama Chris Ryan, dikarenakan yang banyak terlibat dalam perang adalah kekuatan udaranya. Seperti pesawat tempur, pembom dan rudal darat ke darat.
Padahal, Jenderal Schawrzkopf sendiri mengatakan bahwa tanpa jasa dari kedua pasukan khusus tersebut, perang berpotensi berlangsung lebih lama dan menelan kerugian material yang jauh lebih besar. Sama seperti Perang Vietnam, yang pada akhirnya AS harus mundur dan membiarkan Vietnam Utara dan Viet Kong mengalahkan Vietnam Selatan, dan bersatu menjadi Vietnam yang kita kenal sekarang (Ryan, C, 2019).
Referensi
Atkinson, R. (1993). Crusade: The untold story of the Persian Gulf War. Houghton Mifflin.
Hiro, D. (1992). Desert Shield to Desert Storm: The Second Gulf War. Routledge.
Eastwood, B. M. (2024, October 27). Unstoppable Delta Force: The very best special forces unit on planet Earth. The National Interest. https://nationalinterest.org/blog/buzz/unstoppable-delta-force-very-best-special-forces-unit-planet-earth-207520
Ryan, C. (2019). The history of the SAS: As told by the men on the ground. Hodder & Stoughton.
Macintyre, B. (2016). Rogue heroes: The history of the SAS, Britain’s secret special forces unit that sabotaged the Nazis and changed the nature of war. Crown.
Penulis: Dimas Rasyid Aliansyah
Editor: Ahmad Galang
0 Comments