Lesbian Biseksual Trans: Sejarah Gerakan Politik di Indonesia: Gagasan Anti-mainstream Gender di Indonesia


"Sebaiknya kita berbisik-bisik." Kalimat ini diucapkan rekan perempuan Saskia ketika mereka berdua bertemu untuk berbicara di sebuah mal. Mereka takut ada yang menguping lalu melaporkan bahwa mereka lesbian dan akan ditangkap. 

Membicarakan perihal seksualitas, bahkan dalam konteks heteroseksual, masih menjadi tabu di Indonesia. Apalagi membicarakan homoseksualitas dan pluralitas gender. Kelompok konservatif akan kebakaran jenggot.

Saskia W. Wieringa merupakan penulis dan peneliti yang fokus pada topik Peristiwa 1965 dan gender. Sebagai seorang indonesianis ia dikenal melalui karya dan gerakannya. Ia ikut mendirikan IPT 65 (International People’s Tribunal 1965) dan menulis beberapa buku, antara lain Propaganda & Genosida di Indonesia: Sejarah Rekayasa Hantu 1965 (2020, bersama Nursyahbani Katjasungkana). 

Topik tentang gender digarap dalam bukunya yang lain seperti Penghancuran Gerakan Perempuan: Politik Seksual di Indonesia Pasca Kejatuhan PKI (2010) dan Subversi Simbolis: Hetronormativitas dan Estetika Gairah (2021, bersama Nursyahbani Katjasungkana dan Abha Baiya). 

Buku Lesbian Biseksual Trans: Sejarah Gerakan Politik di Indonesia merupakan versi bahasa Indonesia dari buku Saskia yang berjudul A Political Biography of the Indonesian Lesbian Bisexual and Trans Movement (2019). Ada dua klaim yang ditekankan Saskia dalam buku ini. 

Pertama, bahwa homoseksualitas, atau LGBT secara umum, bukan barang impor dari negara Barat. Dan kedua, homofobia lah yang justru merupakan impor dari Barat. Klaim ini didasarkan pada analisis historis yang dilakukan Saskia dengan melihat jejak-jejak budaya LGBT yang ada di Nusantara sejak era prakolonial. 

Namun, masuknya pengaruh barat yang homofobik dan Islam garis keras pada era kolonial dan kemerdekaan membuat homoseksualitas dianggap sebagai penyakit. Homofobia hari ini merupakan dampak dari apa yang disebut Saskia sebagai “amnesia pascakolonial”. 

Dalam buku ini Saskia menjelaskan amnesia pascakolonial sebagai konsep yang merujuk pada adanya kesinambungan yang kadang mencolok antara politik seksual rezim pascakolonial dan pendahulu kolonialnya (hlm. 14). 

Hal-hal yang menarik mengenai sejarah prakolonial misalnya diungkap dalam bagian Senjakala Para Dewata. Di dalamnya dijelaskan, misalnya tentang Ardhanarishvara yang merupakan Dewa Androgini dalam tradisi Hindu, dan para dukun transgender dari Toraja, Dayak, dan Bugis. 

Para peneliti kolonial menggambarkan para dukun ini sebagai orang-orang yang tidak bermoral. Dari keintiman selir-selir Pakubowono (hlm. 83) sampai relasi seksual Warok dan Jathil (hlm. 85), dari Lenong Betawi sampai Gandrung Bannyuwangi, juga bentuk-bentuk lain LGBT dari masa prakolonial dan kolonial lainnya di gambarkan dengan cukup jelas dalam bagian Ruang Ambang: Budaya Istana dan Pedesaan. 

Memasuki era kemerdekaan, Indonesia mengalami berbagai gejolak. Terkait seksualitas terjadi kepanikan moral seksual pertama yang terjadi pasca peristiwa 65, ketika muncul fitnah terhadap Gerwani sehingga mencoreng gerakan komunis. Kemudian berselang lama pasca reformasi 1998, terjadi kepanikan moral seksual kedua pada 2015. Ketika itu bermunculan aktivis homofobia yang mulai menyuarakan penolakan terhadap adanya gender minoritas. Para politisi menggandeng isu ini dan mulai menyerang orang LGBT agar mendapat suara pemilih konservatif. Ini menunjukkan demokrasi Indonesia yang semakin mundur, bahkan setelah terjadinya reformasi. 

Saskia bukan sekedar menyajikan analisis historis dengan tumpukan data dan berjibun catatan kaki. Tetapi juga cerita-cerita dari mereka yang mengalami langsung penindasan karena gender mereka. Pilu yang timbul karena terapi konversi, kekerasan oleh keluarga ketika mereka melela, atau pemutusan hubungan kerja yang tidak rasional dipaparkan Saskia dengan gamblang dari para narator yang di wawancarainya. 

Gambaran yang begitu jelas oleh Saskia tidak lepas dari penelitiannya yang dilakukan lebih dari 40 tahun sejak pertemuan pertamanya dengan organisasi lesbian pada 1982, ketika ia sebagai mahasiswa PhD sedang meneliti gerakan perempuan Indonesia. Saskia juga aktif dalam beberapa organisasi seperti Ardhanary Institut yang menaungi lesbian, biseksual, dan trans (LBT). 

Paduan antara analisis ilmiah dan pengalaman pribadi penulis membuat buku ini lebih lugas dan jujur dalam narasi-narasinya. Membawakan cerita-cerita yang tercecer di sudut-sudut negeri ini. cerita-cerita mereka yang takut menjadi dirinya sendiri. 


Judul buku: Lesbian Biseksual Trans: Sejarah Gerakan Politik di Indonesia 

Penulis: Saskia E. Wieringa

Penerbit: Komunitas Bambu, Depok

Cetakan: Cetakan Pertama, Desember 2025

Tebal: 456 Halaman


_____

Penulis: Bahrul Ulum, sedang menempuh studi Ilmu Sejarah di Universitas Jember. Menyukai filsafat, sejarah, dan sastra (cerpen kadang novel). Instagram: _manusiangkasa- kewajiban bagi orang yang batal puasa 

Editor: Hilmi Baskoro

Post a Comment

0 Comments