Tan Malaka, bernama asli Datuk Sutan Ibrahim Tan Malaka, adalah salah satu Bapak Pendiri Bangsa. Namun, namanya telah lama disisihkan, terutama pada masa rezim Orde Baru yang berkuasa selama 32 tahun. Naar De Republik Indonesia ditulis di Singapura sekitar paruh kedua tahun 1925, sebuah wilayah yang kini dikenal sebagai pusat industri dan pariwisata Asia Tenggara. Buku ini terbit tiga tahun sebelum peristiwa Sumpah Pemuda 1928, yang oleh sebagian pengamat ilmu negara dipahami sebagai kontrak sosial awal bangsa Indonesia.
Pamflet ini dibaca luas oleh aktivis pergerakan, termasuk Soekarno. Gagasannya beredar tanpa identitas penulis yang jelas di media dan percetakan pada masa itu. Hal ini tidak luput dari cap subversif yang dilekatkan pada Tan Malaka, sehingga ia harus terus berpindah tempat. Meski ringkas, pamflet ini menarik banyak tokoh pergerakan karena keberanian analisis dan kejelasan arah perjuangannya.
Sejak awal, Naar De Republik Indonesia memang dirancang sebagai pamflet. Isinya padat dan langsung pada pokok persoalan. Di masa kemudian, naskah ini dirapikan kembali, tetapi substansi pemikirannya tetap sama.
Lalu apa yang ditawarkan oleh Naar De Republik Indonesia dan apa hubungannya dengan cita-cita Indonesia emas 2045?
Dalam pamflet ini, penulis melihat adanya urgensi gagasan dan prinsip mengenai Indonesia ideal, sekaligus dorongan akan perlunya tindakan konkret yang relevan untuk menjawab tantangan globalisasi dan kapitalisasi pada era ini.
Tan membuka tulisannya dengan analisis kondisi global, khususnya kawasan Asia-Pasifik. Ia memprediksi pecahnya perang besar antara blok fasis dan blok Sekutu. Prediksi ini terbukti dengan meletusnya Perang Dunia II, yang membuka jalan bagi Jepang menguasai Asia Tenggara dan mengeksploitasi Hindia Belanda. Menurut Tan, situasi tersebut merupakan momen krusial dan potensial untuk merebut kemerdekaan melalui revolusi sosial dan politik.
Revolusi, bagi Tan, bukan ajang adu pengaruh tokoh. Revolusi adalah kehendak bersama dari lapisan masyarakat yang tertindas dan mengalami kekerasan kolonial. Ia menolak gerakan yang bersifat eksklusif dan menempatkan rakyat hanya sebagai objek. Revolusi lahir dari kesadaran, kemarahan, dan kegigihan rakyat sendiri, terutama petani dan buruh. Pandangan inilah yang melatarbelakangi keputusan Tan keluar dari PKI (Partai Komunis Indonesia), yang saat itu ia nilai semakin elitis dan menjauh dari rakyat.
Gagasan Tan tidak berhenti pada kritik. Ia juga menawarkan arah dan bentuk Indonesia ideal, serta strategi gerakan yang terkoordinasi.
Namun, sebelum membicarakan bentuk negara dan strategi, Tan menekankan satu hal mendasar, yakni pembentukan kesadaran kelas dan intelektual yang merakyat. “Tidak ada gerakan revolusioner tanpa pikiran yang revolusioner.” Kalimat ini ia tuliskan secara tegas dalam Naar De Republik Indonesia. Bagi Tan, membangun kesadaran jauh lebih penting daripada mengandalkan pemimpin populis yang pandai menggerakkan massa dan hanya sekadar menuntut kepatuhan buta.
Pembentukan kesadaran tidak cukup ditempuh melalui membaca dan mengamati. Ia menuntut praktik nyata, pendidikan yang baik, dan kehendak yang kuat. Tan mengkritik intelektual yang merasa lebih tinggi semata karena pendidikan formal. Mereka yang memiliki akses ilmu pengetahuan justru wajib membumi dan mawas diri. Sebab, mereka adalah bagian dari rakyat. Darma dan bakti setulus hati merupakan suatu kewajiban moral yang hakiki.
Dalam urusan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat, Tan menawarkan gagasan konkret, di antaranya efisiensi jam kerja, upah minimum, pemerataan pendidikan, serta penempatan buruh dan petani sebagai aktor utama pembangunan ekonomi. Dalam bidang pendidikan, sekolah tidak boleh menjadi tempat hafalan semata. Sekolah harus menjadi basis perjuangan yang menumbuhkan tunas-tunas bangsa, ruang pembentukan kesadaran kritis, dan etos kerja yang mumpuni.
Dalam strategi gerakan massa, Tan mendorong mogok dan boikot terhadap industri serta kekuasaan kapitalis-imperialis. Secara logis, langkah ini melemahkan modal asing dan membuka ruang bagi kemandirian ekonomi rakyat. Dari sinilah gagasan koperasi memperoleh dasar ideologis, kemandirian ekonomi oleh rakyat, dari rakyat, dan untuk rakyat.
Jika menengok Republik hari ini, jarak antara realitas dan gagasan Tan masih terasa. Penyesuaian zaman memang perlu, tetapi kompromi berlebihan dengan modal asing tidak dapat dijadikan sebagai sebuah solusi. Ekonomi seharusnya dibangun dari keringat rakyat dan hasilnya kembali kepada rakyat. Negara perlu hadir sebagai regulator yang adil dan kompeten, bukan tunduk pada kepentingan oligarki. Di sisi lain, banyak intelektual masa kini justru terjebak pada sikap pragmatis dan individualistis.
Kekuasaan Modal Asing
Eksploitasi terhadap rakyat dan alam masih terus berlangsung. Tanah serta sumber daya alam dikeruk dengan sokongan modal, peralatan, dan tenaga kerja asing. Kondisi ini terjadi karena regulator yang semestinya melindungi kepentingan publik justru turut melapangkan jalan bagi praktik tersebut. Akibatnya, masyarakat di sekitar wilayah pertambangan menanggung konsekuensi paling fatal: kualitas air menurun, ekosistem rusak, dan sumber penghidupan perlahan hilang.
Dalam gagasan Tan Malaka, pemanfaatan sumber daya alam harus kembali dan dirasakan manfaatnya oleh rakyat. Aktivitas ekonomi tidak semestinya dikunci dalam kepentingan segelintir elite yang dekat dengan birokrasi, melainkan diarahkan bagi kemaslahatan bersama.
Kaum Muda Terpelajar yang Menjauh dari Desa
Pendidikan membentuk gambaran sempit tentang kesuksesan. Menjadi pekerja kantoran, birokrat, dan hidup nyaman. Pekerjaan seperti bertani atau menjadi buruh dianggap rendah. Pandangan ini menjauhkan kaum muda terpelajar dari realitas masyarakat.
Tan menolak sikap tersebut. Kaum terpelajar harus menjadi motor perubahan, bukan bersembunyi dalam kenyamanan. Pengabdian masyarakat bukan formalitas, melainkan tanggung jawab moral. Konon, Tan Malaka pernah berkata, “Bila kaum muda terpelajar yang telah bersekolah menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dalam masyarakat yang hanya bekerja dengan cangkul serta memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak usah diberikan sama sekali.”
Inilah alasan mengapa gagasan Tan Malaka masih relevan bagi generasi muda hari ini. Pemikirannya dapat menjadi kompas perjuangan jika dibaca secara kritis dan diletakkan dalam konteks Indonesia kontemporer. Bukan untuk diambil mentah-mentah, melainkan disintesis melalui pembacaan kritis atas realitas yang dihadapi hari ini.
Perjuangan tidak pernah berhenti. Ia hanya berganti bentuk dan cara, sementara substansinya tetap sama, memperjuangkan keadilan politik, ekonomi, dan budaya. Karena itu, Naar De Republik Indonesia akan terus relevan hingga hari ini. Sebagaimana tercermin dalam sebuah ungkapan, “Tubuh dan badan akan dibunuh oleh artileri dan senapan api, tetapi gagasan dan pikiran tidak akan lekang meski raga telah mati.”
Penulis: Maulana Rafi
Editor: Ahmad Galang
0 Comments