Hidupmu masih jauh lebih beruntung, No!
Bila kau menginginkan kekayaan, menyinggung kemelaratanmu, aku lebih iri dengan kasih sayang yang begitu banyak tercurah untukmu. Aku menginginkannya. Aku bersedia mengemis hanya untuk cinta yang kau dapat. Kau punya ibu yang penuh cinta dan kasih, yang bersedia menjadi sandaranmu di saat kau menangis dari pahitnya kehidupan. Kau masih punya ayah yang keras, yang memperhatikanmu dengan cara yang lain, yang menyanyangimu dengan cara yang lain. Dan kau juga memiliki banyak perempuan yang mengasihimu dalam kesendirian yang menyiksa. Kau juga memiliki orang-orang hebat di sampingmu yang siap menerjang badai hanya untuk tegak perkasanya seorang Karno. Dan kau punya seluruh Bangsa Indonesia bersamamu.
Kelahiranku pada tahun 1995, nyaris 100 tahun setelah kelahiranmu. Bila kau hidup di zaman ini, aku yakin begitu banyak hal yang dapat membuatmu menangis. Negara yang kau perjuangkan itu, sedang berada pada nadi tergelapnya. Keropos dan siap untuk merapuh. Dari yang kutahu, selang dua tahun kelahiranku, negaramu ini mengalami krisis moneter yang begitu dalam. Hal-hal yang terlihat membahagiakan di awal kepemimpinan orang yang menjatuhkanmu itu Karno, berubah menjadi nestapa yang mencekam penuh darah.
Kerusuhan terjadi di mana-mana. Banyak saudara kita kehilangan nyawanya demi memperjuangkan kebebasannya. Melawan tirani yang dulu kau biarkan melenggang dengan mudah. Menjatuhkan manusia semacam Harto itu memang perlu kekuatan besar, dan semua itu baru sempurna setelah tahun 1998, di mana golongan muda mulai bersatu. Mahasiswa menjadi lokomotif pergerakan. Bersama massa rakyat yang berjumlah jutaan itu, gedung-gedung pemerintahan dikepung, toko-toko dijarah, kerusuhan sudah tidak dapat dibendung lagi. Negerimu sedang mengalami chaos Karno, chaos yang kau takuti dulu, di zamanku justru menjadi besar dan liar.
Harto pun mundur, setelah 32 tahun berkuasa. Meninggalkan hutang beserta segala macam permasalahan yang ia jatuhkan bagai palu kepada pakunya. Bertubi-tubi hingga tenggelam ke dasar kayu. Belum selesai urusan Harto, di tahun ke empat, 1999 Timor-Timur lepas dari pangkuan ibu pertiwi. Mempersatukan bangsa ini adalah cita citamu bukan, dan kau takut bila kita terbelah, dan hal itu sudah terjadi.
Milenium berikutnya, pergantian abad ke 21, negeri kita menyambut kedatangan reformasi. Pemimpin-pemimpinnya adalah para bedebah Karno. Tidak ada lagi kepemimpinan yang tegas dan jujur. Rakyatmu itu, yang baru saja selesai dari krisis, harus sekali lagi dihadapkan pada permasalahan yang sama peliknya. Integritas seakan dihapus dari ingatan semua orang. Seakan lenyap tanpa bekas, sehingga hanya menyisakan orang-orang tolol untuk memimpin. Politik menjadi busuk Karno, demokrasimu jadi sarang para penyamun. Zaman ini adalah zaman yang telah kau ramalkan, zaman di mana anak bangsa melawan bangsanya sendiri.
Segala macam undang-undang sudah dirombak untuk memuluskan jalan bagi kapital asing masuk. Hanya Pancasila saja peninggalanmu yang masih tidak diobok-obok. Sayangnya, simbol negara kita itu hanya tinggal omon-omon belaka. Banyak orang munafik.
Mungkin di tahun depan negara ini bukan milik kita lagi, No. Hasil bumi kita hampir seluruhnya dikuasai asing, menyisakan ladang-ladang kecil buat BUMN kita. Bahkan, No, kalau kau mau tahu, air minum pun sekarang kita harus membayar, dan seluruh keuntungannya kembali kepada pemilik kapital asing di seberang lautan. Kita diperas, No, kita diperas habis-habisan. Dan ini direstui oleh negara kita. Bayangkan, No! direstui dan didukung oleh bangsamu sendiri. Mereka adalah lawanku, dan aku sedang mencari bala bantuan terkuat.
Kehidupan memang tidak jauh lebih baik dari zamanmu. Mungkin kami tidak mendengar dentuman peluru dan meriam lagi. Tetapi sebagai gantinya, bertebaran berita-berita ganjil. Anak membunuh ayahnya, ayah memperkosa anaknya, ibu membunuh anaknya, orang tua menjual anaknya, anak menelantarkan orang tuanya, hal-hal semacam itu sudah menjadi berita umum di negeri kita. Belum lah aku bercerita tentang kasus mutilasi, atau pembunuhan berantai, atau penganiayaan, perampokan, hipnotis, pemberontakan bersenjata, LGBTQ, dan lain-lain. Ini adalah zamanku dan aku menjadi bagian darinya. Namun kita memiliki ikatan emosional yang sama, No. Sepertimu, aku akan menyelesaikan bagianku.
Kepada negeri yang sama-sama kita cintai, mari kita bersumpah, bekerja keras dengan seluruh kekuatan yang kita miliki, untuk membangun masa depan Indonesia bersama-sama.
Penulis: Dimas Baskoro
Editor: Hilmi Baskoro
0 Comments