Nasi Pecel Pincuk Wonk Jenewa, Kuliner Jember yang Menu Makanannya Konsisten


Saat merasakan enaknya cita rasa sebuah kuliner, dari menu makanan dan minuman yang ditawarkan kepada pembeli, pasti ada ciri khas tersendiri. Begitu pun dengan kuliner nasi pecel yang ada di Jember. Salah satunya Nasi Pecel Pincuk Wonk Jenewa di Kecamatan Jenggawah.

Padahal kalau dilihat dari tingkat popularitasnya, ada banyak nasi pecel di Jember. Termasuk yang sering kali jadi andalan masyarakat, yaitu Nasi Pecel Garahan. Meskipun begitu, menurut saya, Nasi Pecel Pincuk Wonk Jenewa lebih menggugah selera dan menjadi hal wajib untuk dicicipi.  

Setiap saya melakukan perjalanan pulang ke rumah, ada satu hal yang tidak boleh saya tinggalkan ketika melewati Kecamatan Jenggawah, yaitu mampir di Nasi Pecel Pincuk Wonk Jenewa. Memang banyak nasi pecel yang bertengger di sepanjang jalan. Tetapi nasi pecel yang satu ini, memiliki ciri khas menu makanan dan minuman yang hingga kini tetap konsisten.

Ada dua Nasi Pecel Pincuk Wonk Jenewa yang terletak di Kecamatan Jenggawah, yaitu milik Bu Saikhatul Mukarromah dan Bu Neni. Sekalipun letaknya berbeda, tapi cita rasanya tetap sama. Tidak terlalu begitu pedas. Gurih dan pasti bikin perut kenyang. Harganya pun lumayan murah, mulai dari Rp 13.000 hingga Rp 15.000. 

Nasi pecel pincuk yang sering saya beli yaitu milik Bu Saikhatul Mukarromah. Pada mulanya warung ini bertempat agak berdekatan dengan toko elektronik. Tapi, sekarang sudah pindah di sebelah utara lapangan Kecamatan Jenggawah.

Sematan ‘Jenewa’ pada nama nasi pecel merupakan julukan dari penduduk di wilayah Kecamatan Jenggawah. Nasi Pecel Pincuk Wonk Jenewa sudah berdiri sekitar hampir 20 tahunan. Tentu ukuran waktu cukup lama untuk sebuah kedai kuliner yang tetap bertahan berdagang.

Nasi Pecel yang Diwadahi Daun Pisang Berbentuk Pincuk 

Pada umumnya, sudah hal biasa kalau nasi pecel diwadahi piring seng dan kertas minyak di atas piring menjalin. Tapi berbeda dengan Nasi Pecel Pincuk Wonk Jenewa. 

Wadah yang digunakan untuk menghidangkan justru adalah daun pisang yang dibentuk kerucut. Bentuk kerucut ini kalau dalam budaya Jawa dinamakan pincuk. Saat saya mampir ke warung, pasti sudah banyak tumpukan daun pisang tertata rapi di samping tempat nasi.

Rupanya Nasi Pecel Pincuk Wonk Jenewa mempunyai pembeli yang cukup keren. Di dinding warung telah terpampang foto Bupati Jember, Hendy Siswanto dan Gus Fawait saat membeli nasi pecel tersebut. Saya sempet heran, ternyata seorang bupati juga mau makan nasi pecel.

Menu Makanan dan Minuman yang Konsisten 

Selain dari wadahnya yang unik dan pembelinya keren, ada satu hal yang selalu saya amati setiap kali mampir ke nasi pecel ini, yaitu dari menu makanan dan minuman yang tidak ganti-ganti. Saya pikir mungkin ini sudah paket komplit dari Nasi Pecel Pincuk Wonk Jenewa. 

Setiap nasi pecel pasti ada varian menu yang dihidangkan pada pembelinya. Namun, Nasi Pecel Pincuk Wonk Jenewa selalu konsisten dengan varian menu sayur tumis labu siam. Selain itu juga ada telur ceplok, tempe, kerupuk mawar, dan remahan rempeyek sebagai sajian pelengkapnya.

Makanan pelengkap itu, menjadikan Nasi Pecel Pincuk Wonk Jenewa semakin membuktikan konsistensi ciri khasnya. Sebab, tidak semua warung nasi pecel mengupayakan agar menu makanannya tidak berubah. Kalaupun ada nasi pecel yang sama persis memegang prinsip menu seperti nasi pecel pincuk, mungkin bisa dihitung jari di Kecamatan Jenggawah.

Tidak hanya soal menu makanan saja yang konsisten, tetapi juga dari minumannya. Keserasian paket makan dan minum pada Nasi Pecel Pincuk Wonk Jenewa, seperti ucapan pepatah, 'Ibarat Sepasang Sepatu', tidak akan tertukar.

Minuman yang disediakan selalu konsisten hanya ada teh hangat, es teh, jeruk hangat dan es jeruk. Keempat minuman itu tidak pernah ganti. Paling selain itu ya air putih. Wajar, soalnya warung nasi masa enggak ada air putih.

Menu makanan dan minuman yang konsisten dari nasi pecel ini menjadikan pilihan tempat kuliner bagi pembelinya. Sebab mempertahankan cita rasa tidaklah mudah, apalagi kalau sudah jadi langganan pembeli.


Penulis: M. Nur Fadli 

Editor: Hilmi Baskoro

Post a Comment

0 Comments