Sudah setahun aku ditugaskan menjadi asisten residen di Sidoarjo. Aku sendiri sebelumnya bertugas di Sumatra sebagai seorang amteenar yang mengurusi bagian administrasi di kepemerintahan. Namun, karena seorang asisten residen di Sidoarjo meninggal dunia akibat terserang malaria dan Gubernur merasa aku orang yang pandai dalam segala pekerjaan, ia memintaku kemari untuk menggantikannya. Jawa sama saja dengan Sumatera, tanah berdebu di musim kemarau dan becek di musim hujan—udara panas yang membakar permukaan kulit juga dengan segala keterbelakangan yang merengkuh tempat ini begitu erat.
Ketika melihat mereka, orang-orang ini yang aku tak tahu siapa, aku merasa ada semacam kemiripan dengan kampung halamanku di Amsterdam. Di sini, pribumi miskin sama terlihat menyedihkannya dengan pribumi miskin di Amsterdam. Anak-anak kecil terlihat kurus dan tak terurus. Wajah mereka yang kotor dibiarkan begitu saja seolah-olah memang disengaja untuk merendahkan kehadiran mereka. Ketika aku melihat anak-anak itu berteriak dan saling mengejar menuju perkebunan yang akan mereka garap, suara mereka bagiku terdengar seperti lolongan menyedihkan yang lama tak pernah didengar. Terkadang aku merasa tempat ini seperti kabut yang membohongi matamu untuk terus percaya bahwa tak ada yang lebih indah selain kepatuhan dan kebodohan. Segala penderitaan bercampur baur dengan darah dan kematian. Kau bisa melihatnya di setiap sudut dan jengkal tanah ini.
Tokk tokk tokk seseorang mengetuk pintu.
“Siapa?”
“Sahaya tuan, Tjipto, pengantar pesan Bupati.”
“Masuk.” Jongos itu masuk dan aku melihat sebuah amplop kecil berwarna putih. Dia memberikan amplop itu padaku dengan adat kesopanan Jawa yang khas, lalu dengan bahasa Belandanya yang kaku dia berkata bahwa aku mendapat undangan khusus untuk hadir di pernikahan Bupati dengan istrinya yang ketiga. Aku tertawa sinis. Baru saja tahun lalu ia menikah dengan istri keduanya dan sekarang ia menikahi yang ketiga!
"Anak siapa?” tanyaku padanya.
Jongos itu tampaknya mengerti apa yang sedang aku bicarakan. “Anak seorang wedana, Tuan." Lagi-lagi aku menunjukkan air mukaku yang terlihat mencibir. “Baik lah, kau boleh pergi.”
Aku membuka amplop itu dan membaca tulisan yang ada di dalamnya. Seperti undangan pernikahan pada umumnya, terdapat nama pasangan kedua mempelai. Di situ tertulis nama bupati dan calon mempelai “Soeharyati”.
Soeharyati? Sepertinya aku pernah mendengar nama perempuan ini. Aku mencoba mengingat-ingat namanya yang tertulis di amplop. Kapan dan di mana namanya menjadi tak asing bagiku? Seoharyati, Haryati, Aryati! Nama itu aku yakin pernah mendengarnya di suatu tempat. Kemudian ingatanku melayang pada seorang anak wedana yang bersekolah di ELS. Ya, aku yakin dia Aryati yang itu! Perempuan pribumi yang menerjemahkan dan menyadur buku-buku Belanda di usianya yang masih muda. Tak seperti perempuan Jawa lain, ia adalah seorang perempuan yang melampaui zamannya.
Pertemuanku dengannya terjadi sekitar satu tahun lalu, ketika aku berkunjung ke rumah sahabatku Pieter, seorang misionaris yang juga menjadi pengasuh Aryati. Perlu diketahui, Pieter dan ayah Aryati adalah sahabat dekat. Ayah Aryati membantu Pieter dan istrinya membangun sebuah asrama putri di Purworejo yang juga menjadi tempat tinggal sementara Aryati selama belajar di ELS. Istri Pieter selalu membangga-banggakan perempuan itu sampai aku sendiri mewajarkan pujian-pujiannya ketika aku berbincang dengannya.
"Apa yang kau suka, Aryati?” aku bertanya kepadanya dalam Bahasa belanda.
“Membaca buku dan juga menulis, Tuan,” jawab Aryati. Istri Pieter tidak berlebihan ketika memuji perempuan ini. Dari gaya berbicara, ia terdengar seperti seorang yang lahir dan dibesarkan di Amsterdam.
“Buku apa yang kau suka akhir-akhir ini?”
“Sekeranjang Bunga karya Christoph Von Schmid, Tuan.” Ia terlihat berhati-hati dalam menjawab.
“Apa yang kau sukai dari buku itu?” Kemudian ia menjelaskan padaku betapa ia amat menyukai Mary, tokoh utama dalam buku itu. Ia mengatakan padaku bahwa Mary adalah perempuan yang jujur, bersemangat, dan tabah meskipun ia sendiri akan menghadapi hukuman mati atas perbuatan yang tak ia lakukan. Ia ingin belajar menerima keikhlasan seperti Mary. Ia ingin menyatakan kejujuran sama beraninya seperti Mary. Lalu aku bertanya padanya.
“Kejujuran seperti apa yang ingin kau sampaikan dari dalam dirimu, Aryati?”
“Kejujuran mengenai perasaan dan cita-cita saya, Tuan. Bahwa saya sama berharga dan pandai seperti para priyayi laki-laki itu. Bahwa selain menikah saya juga ingin menulis banyak buku dan mendirikan sekolah untuk kaum perempuan, tak terkecuali bagi yang miskin, Tuan.” Ia memberikan jeda pada kata-katanya. “Akan tetapi, jikalau dengan kejujuran dan keberanian saya ini hanya dihargai sampai batas takdir keperempuanan saya yang patuh dan tidak berdaya, saya tidak bisa membatalkan pandangan itu.”
“Mengapa begitu?” tanyaku padanya.
“Sulit untuk melawan kehendak orang tua yang saya cintai, Tuan. Rupanya cita-cita saya selain terbentur adat masyarakat juga ikut terbentur rasa cinta saya terhadap orang tua. Saya akan menikah tahun depan, itu sudah direncanakan dan pasti akan dilaksanakan. Akan tetapi sebelum menikah saya ingin menyusun buku yang bisa dipelajari oleh kaum saya sendiri."
Kata-kata itu melekat di dalam kepalaku. Aku masih mengingat tatapan Aryati ketika ia sendiri tak mampu melawan apa yang dinamakan kehendak atau aku sendiri menyebutnya perintah. Aryati. Perempuan itu seperti sedang berjuang untuk dunianya yang sepi.
***
Hari pernikahan tiba. Aku melihat iring-iringan Bupati menaiki kereta kuda bersama istri pertamanya. Aryati tampak cantik seperti saat terakhir aku melihatnya. Dari sisi utara pendopo, aku melihat istri kedua Bupati datang terlebih dahulu sedang duduk membelakangi para jongosnya. Seperti biasa Bupati dan Aryati harus melalui tradisi perkawinan Jawa yang sama membosankannya dengan tradisi pernikahan Eropa.
Sementara itu, pesta pernikahan diadakan selama dua hari dan aku melihat Aryati dengan kebaya berwarna merah yang cocok dengan lekuk tubuhnya. Ia tampak mencolok namun tidak berlebihan. Alunan musik tayub mulai terdengar dan penari ronggeng menyatu dalam gerak dan ritme yang penuh semangat. Aku melihat Aryati duduk di samping suaminya dengan aura ketegasan yang janggal. Aku melihat matanya yang cemerlang dan terkesan menipu. Ia tersenyum ketika melihatku namun aku tahu bahwa senyum itu bukanlah manifestasi dari rasa suka cita melainkan hanya diada-adakan saja supaya keperempuanan Aryati tetap terlihat sebagaimana perempuan pada umumnya.
Di tengah riuhnya pesta, seorang penari ronggeng mengajakku bergabung ke tengah lapangan. Aku menolak. Pandangan mataku masih tertuju pada Aryati, perempuan pribumi yang mengagumi tokoh bernama Mary dalam karya Christoph Von Schmid, yang mempunyai mimpi mendirikan sekolah dan juga menyusun buku untuk dibaca kaumnya. Entah kenapa aku merasa pesta ini tak cocok untuknya. Di saat yang sama dari depan pendopo, kembang api dinyalakan di tengah alunan musik tayub yang bertambah riang, aku menatap mata Aryati. Pantulan cahaya kembang api mengurai matanya yang cemerlang. Mata itu tak merefleksikan perayaan kebebasan sebagaimana kembang api itu meluncur bebas di atas langit akan tetapi matanya seperti telah terkurung bersama tubuh dan impiannya.
Aryati bungkam dan hanya mengamati semua orang di pestanya yang terlihat bergembira. Bukankah kau setuju denganku bahwa pesta ini memang tak cocok untuknya? Semua orang tenggelam dalam perayaan kebahagiaan dan bertambah semangat ketika kembang api kedua dinyalakan, aku masih melihat mata Aryati, kali ini ia tersenyum pada suaminya. Aku tau di balik senyumnya, ada kutukan-kutukan mantra yang tak terucap. Mata Aryati masih melihat kembang api itu meluncur bagaikan membelah langit dan menghilang seperti ditelan bayangan malam. Dari arah yang sama, suara riuh rendah disertai tepuk tangan terdengar ketika kembang api terakhir dinyalakan, aku masih saja menatap mata Aryati yang berbinar melihat letupan kembang api di atas langit dan meski ia ikut bertepuk tangan bersama suami serta para tamu undangannya, aku semakin yakin bahwa pesta ini tak cocok untuknya.
Penulis: Dedasy Daning
Editor: Hilmi Baskoro
0 Comments