Seperti hari Sabtu biasa, rutinitas harianku adalah duduk di bangku pinggir jalanan tengah kota. Di bawah pepohonan perdu yang cabangnya menari di angkasa, kubiarkan seluruh bagianku hanyut dalam hiruk pikuk keramaian manusia. Bersama warna jingga pada cakrawala, kutuangkan beberapa kata yang sempat hinggap di kepala. Sampai-sampai pada waktu yang membuatku jemu, batang leherku enggan menopang kembali massa kepala.
Biarkan saja, wajahku menengadah pada angkasa. Lagi pula, cahaya kali ini tak begitu menyilaukan mata. Bukan tanpa suatu alasan, melainkan diri ini telah kelelahan akibat mencoba mencerna sebuah jawaban atas pertanyaan, apa yang membuat seseorang menjadi kuat? Dan bagaimana visualitas kuat pada diri seorang individu itu.
Berkenaan dengan kekuatan, aku jadi teringat akan satu hal. Ketika kecil, aku gemar sekali menonton film buatan Marvel di layar kaca bersama ayahku. Dari setiap adegan serialnya, yang epik, serta perjuangan dan pengorbanan, aku menemukan satu tokoh unik yang membuatku terkagum-kagum. Dia adalah Captain Marvel. Melalui segala aksi heroik yang menunjukkan kekuatannya, ia berhasil membiusku, hingga terbesit keinginan dalam diri. “Aku ingin menjadi manusia kuat layaknya Captain Marvel.” Akan tetapi, apakah kekuatan itu yang aku butuhkan?
Rupanya tidak. Dahulu, aku mengira bahwa kekuatan itu adalah kemampuan untuk menambah energi kosmik dari tangan. Namun, seiring waktu berjalan dan warna-warni kehidupan mulai menorehkan jejaknya, aku menyadari bahwa definisi itu amatlah dangkal. Kekuatan sejati bukanlah energi tak terbatas, melainkan kemampuan untuk mengakui dan mengelola energi yang terbatas itu.
Bahkan beberapa filsuf mengungkapkan, kekuatan lahir dari dalam diri. Ia boleh jadi lahir dan tercipta dalam bentuk penerimaan diri, sehingga masing-masing individu memiliki kekuatan yang beragam. Kita tidak bisa dan tidak bijak jika menyamakan satu pakaian dengan pakaian lainnya. Inilah resiliensi dan kejujuran pada diri sendiri yang jauh lebih heroik. Sayangnya, masih banyak manusia yang salah kaprah tentang memaknai kekuatan. Seperti aku misalnya, yang mencari-cari tokoh realita hidup yang tampak kuat secara fisik dan mencoba mencontohnya. Itulah alasannya, seringkali aku melakukan observasi di bangku kecil ini. Duduk sembari mengamati berbagai orang, manakah yang sekiranya memiliki kekuatan itu.
Hari demi hari aku lalui untuk pengamatan di kala sore. Namun, nahas, sudah satu bulan penuh, belum juga kutemukan sosok yang mampu menciptakan bayangan tokoh dengan kekuatan itu dari alam pikiranku. Nyaris seluruhnya menunjukkan kekuatan yang fana. Rata-rata mereka hanya lahir dari dominasi yang kuat, jabatan tinggi, hingga karir yang melejit. Bukan itu kekuatan yang aku cari sesungguhnya. Sebab, semua itu justru kekuatan yang semu dan barangkali bisa direnggut suatu waktu.
Ironisnya, saat aku mati-matian mencari penggambaran tentang kekuatan di wajah seseorang, justru aku menemukan pahlawan dengan kekuatan sejati. Rupanya, itu tersembunyi di dalam diriku. Ia telah lama berkawan dengan warna kegelapan yang sudah lama tertorehkan dalam jiwaku. Aku mengenalnya dengan kupu-kupu, sedangkan dunia medis mengabarkannya dengan lupus atau istilah kerennya Systemic Lupus Erythematosus (SLE).
Berbincang tentang lupus, aku masih ingat bagaimana rasa sesak di dada kala itu. Ketika diagnosa seorang dokter terbukti benar, melalui berbagai ragam lembaran hasil tes yang kugenggam, ada ledakan gemuruh kesedihan dalam diriku. Dua jenis SLE, yakni Systemic Autoimmune Rheumatic Diseases (SARD) dan Systemic Sclerosis (SSC) telah tertanam mengakar kuat, jauh di bawah lapisan jaringan tubuhku. Seketika itu, tawaku seolah direnggut secara paksa. Wajahku yang selalu ceria pun seketika sirna, tergantikan kesenduan nyata.
Tidak kubayangkan, kupu-kupu ini pun berhasil memukul mundur diriku dari realitas jenjang karir yang aku bangun secara perkasa. Bahkan, ia juga hebat telah sempurna menciptakan jarak pemisah antara aku dengan orang-orang yang aku cinta. Bagaimana bisa setelahnya, aku dapat kembali beraktifitas normal termasuk di bawah sinar matahari, jika cahaya itulah yang menjadi penghalangku untuk menggerakkan tangan dan kaki dalam melangkah, termasuk berkarya?
Jika aku bisa menemukan dan mengamati bahwa saat ini diriku sedang berada di bangku pinggir jalanan ini, itu artinya perjuanganku tidak sia-sia. Aku berhenti mencari pahlawan di wajah orang lain. Baru kali ini, aku memposisikan diri bukan sebagai pencari arti, melainkan penemu makna kekuatan sejati. Bagiku, kekuatan itu adalah proses untuk menerima segala keterbatasan, termasuk goresan kuas tergelap di kanvas jiwaku. Dan aku, dengan kupu-kupu yang bersarang ini, akhirnya menyadari bahwa aku adalah kepingan puzzle yang utuh, yang disempurnakan bukan oleh energi kosmik, melainkan oleh penerimaan atas mahakarya yang dibuat oleh Sang Pemilik Kehidupan.
Penulis: Yuslisa Mariani Amalia, S.Pd
Editor: Hilmi Baskoro
0 Comments