Masalah lainnya, jalur Situbondo tersendat macet karena penumpukan kendaraan yang hendak menyeberang ke Bali. Akhirnya, BBM di Jember jadi langka dan harganya mendadak naik ugal-ugalan.
Kelangkaan bensin ini bukan konspirasi agar masyarakat Jember mulai jalan kaki, tetapi memang kurangnya antisipasi dari Pemkab Jember. Entah, apa yang dipikirin Pemkab Jember saat itu. Apa nggak dikaji dulu sebelum ditetapkannya penutupan Jalur Gumitir (?).
Namun, yang jelas, kelangkaan itu harusnya segera diatasi, bukan jadi tontonan semata. Sebab, banyak orang Jember yang membeli bensin di kabupaten tetangga, seperti ke Lumajang dan Probolinggo.
Antre Panjang dan Rebutan dengan Penjual Eceran
Tidak heran lagi, dari kelangkaan bensin itu, antrean di SPBU mengular panjang. Termasuk harus rebutan dengan penjual eceran untuk mendapat bensin.
Kejadian ini dialami oleh teman saya yang rela antre, mulai jam 02:54 hingga 04:39. Pada waktu itu, ia mengira pada dini hari tidak bakal ramai. Ternyata hampir seluruh SPBU di Jember mengalami nasib sama: kehabisan stok!
Membeli BBM jadi seperti membeli tiket konser. Harus war untuk merebut keberuntungan demi satu liter bensin. Sebab, tiada bensin seperti tiada kuota paket internet. Serasa hampa dan kembali ke zaman primitif.
Harga Bensin Naik Ugal-ugalan dan Praktik Teori Ekonomi
Fenomena itu merupakan praktik dari teori dasar ekonomi. Sisilia Venny dan Nuraini Asriati (2022) menulis di Jurnal Pendidikan Ekonomi tentang permintaan dan penawaran dalam ekonomi mikro; bahwa di saat permintaan barang meningkat, penawaran justru tetap. Akibatnya harga barang naik, karena lebih banyak pembeli daripada suplainya. Harga bensin yang semula normal, mendadak naik ugal-ugalan.
Kala itu masyarakat secara tidak langsung memiliki ketergantungan pada penjual bensin. Sehingga seketika jadi kesempatan bagi penjual eceran untuk menaikan harga. Akhirnya, masyarakat yang terlanjur sangat membutuhkannya, rela membayar berapa pun nominal harga bensin.
Harga bensin yang semula Rp12.000 per liter seketika berubah sesuai keinginan penjual. Ada yang memasang harga Rp15.000 hingga Rp25.000 per liter, bahkan lebih. Sementara bagi masyarakat yang semula tidak jualan bensin, mendadak jadi penjual momentuman. Layaknya pahlawan penyelamat kekeringan tangki kendaraan.
Cara kerja ini menunjukkan betapa berharganya bensin bagi masyarakat Jember. Bahan bakar kendaraan ternyata sudah setara dengan kebutuhan pokok keseharian. Sebab, keluhan kelangkaan ini, dirasakan semua lapisan masyarakat Jember. Mulai dari kalangan pekerja kantor hingga pelajar sekolah.
Harusnya Pemkab Enggak Nganggap Remeh
Kelangkaan bensin harusnya tidak dianggap remeh. Kelangkaan bensin ini jangan sampai dinormalisasi, bahkan sengaja dikendalikan. Jika terus menerus langka, maka potensi monopoli harga pun semakin mudah.
Nyatanya malah berbanding terbalik, pihak Pemkab Jember malah menganggapnya sebagai masalah remeh.
“Jadi kelangkaan BBM ini sebetulnya bukan masalah yang sangat fundamental, karena ini dampak penutupan jalan nasional antara Jember dan Banyuwangi, karena ada perbaikan,” kata Bupati Fawait, dikutip dari Beritajatim, 28/7/2025. Padahal, seharusnya antrean panjang dan kenaikan harga bensin tidak terjadi berhari-hari.
Itulah kenapa, teruntuk Pemkab Jember, jika ada kelangkaan bensin patut jadi bahan evaluasi. Bukan semata gembar-gembor jargon andalan: semua karena cinta. Tidak semua masalah harus diselesaikan dengan jargon, tapi bukti nyata kerja.
Belum lagi grand design bupati Jember sekarang: Jember Baru-Jember Maju, nyatanya antisipasi bensin masih luput. Meskipun hal itu hanya sebuah semboyan penyemangat kerja, tetapi akan percuma kalau masalah kelangkaan bensin saja tidak teratasi.
Penulis: M. Nur Fadli, lelaki bermata sipit yang sering mendapat wangsit di pelataran warung kopi. Bertugas jadi juru bicara Agitasi.id
Editor: Hilmi Baskoro
0 Comments