Membuat Semesta Cemburu


Aku ingin membuat semesta cemburu dengan terus-terusan mencintaimu!

Kuselipkan secarik kertas pada salah satu halaman buku yang tergeletak di atas mejamu, sembari berdoa agar kertas itu tak hanya membusuk di dalam sana. Saat aku mendengar suara langkah kaki di lorong perlahan mendekat, segera saja aku berlari keluar dari kelasmu. Awan-awan kelabu mulai berdatangan, apakah semesta mulai menampakkan kecemburuan?

Kelak di masa depan, kamu bertanya padaku tentang isi kertas itu. Saat itu, kita sedang duduk di atas rerumputan di samping danau ditemani buku-buku dan makanan ringan. Angin bertiup sedikit kencang, membuat helai-helai daun jatuh meranggas seakan ingin lepas dari naungan pohon tua yang mungkin sudah hidup seribu tahun lamanya. Kamu pasti tidak pernah membayangkan bahwa kita akan benar-benar bersama di masa depan.

“Kamu nggak percaya ya kalau aku punya kekuatan super, Rimba?” celetukku.

Tentu kamu tak percaya, sebab mana mungkin orang seperti itu betul-betul ada. Asal kamu tahu, Rimba, senyummu itu masih sama seperti sepuluh tahun lalu.

“Jadi, sudah kamu buat cemburu semesta itu?” tanyamu. Aku mengangguk kencang.

“Kamu nggak lihat? Setiap kita pergi, ada aja hal-hal lucu yang kadang nggak masuk akal. Contohnya kemarin, tiba-tiba aja kamu digigit kucing! Terus kemarinnya lagi, panasnya terik banget!” ceritaku menggebu-gebu. Bisa kulihat dari sudut mataku, kamu sedang menahan tawa.

“Coba lihat hari ini, Rimba! Anginnya kenceng banget. Mereka cemburu lihat kita!”

Aku bertutur dengan tawa. Kamu menggenggam tanganku, menatapku dengan sungguh seakan mengikat pandangan kita berdua.

“Ranum, bagaimana kalau semesta terlalu cemburu?” Aku terdiam, menunggu apa yang hendak kamu sampaikan selanjutnya.

“Bagaimana kalau gigitan itu lambat laun menjelma luka, matahari yang terik membuat pingsan seisi dunia dan angin menjelma menjadi topan?” Tak pernah kupikirkan semua kemungkinan itu, sungguh. Dan untuk kali ini, tak ada satu pun kata yang bisa keluar dari mulutku. Kamu tersenyum, sama seperti sepuluh tahun yang lalu saat kamu tahu aku yang memberimu kertas itu.

Tak henti kupandangi wajahmu yang mulai berubah sendu.

Ada apa, Rimba?

Mengapa romanmu begitu?

“Rimb–”

“Ranum. Kalau semua itu terjadi, aku akan mati. Kita akan mati.”

Apa maksud kamu, Rimba? Aku nggak ngerti.

“Ranum. Aku belum mau mati.”

Angin bertiup kencang sore itu. Helai-helai daun jatuh meranggas, melepaskan diri dari naungan pohon tua yang sudah hidup seribu tahun lamanya. Aku tidak pernah membayangkan bahwa kita akan berpisah sekarang.

Semesta terlalu cemburu, maka kamu memintaku berhenti mencintaimu.


Penulis: Dinda Aisyah

Editor: Hilmi Baskoro

Post a Comment

0 Comments