Awan kelabu menggelayut remang remang di sudut penjaraku. Ia menatapku tanpa arti. Mungkin mempertanyakan apa gerangan yang kulakukan di dalam kurungan, mengapa tidak bersuka ria berpesta menikmati runtuhan air langit yang menyegarkan hati, menenangkan tiap insan yang dirundung derita.
Semakin lama semakin aku mengingat masa-masa itu. Masa di mana aku melihat gelayut mendung langit sore. Hujan rintik dan aroma tanah terurai hujan. Di sanalah aku menangis dan tersedu sedemikian rupa. Hujan kian deras di kala itu, menuntun pergolakan hatiku ke dalam liangnya yang paling dasar. Kukeluarkan seluruh tipu daya dunia yang dihujamkan kepadaku. Entah hujan mendengar atau tidak, entah langit melihat atu tidak, tapi, suasana seperti itu sungguh membuatku terenyuh.
Gelayut mendung itu kini semakin gelap. Ia mulai termakan senja sore yang berganti malam. Para bintang belumlah bermunculan memang, tetapi dari kejauhan kurasakan hingar bingar mereka berebutan menampakkan cahayanya. Dan aku masih di sini, di dalam penjaraku berbicara dengan jendela.
Penulis: Pelem kecut, pegawai serabutan yang belajar menjadi manusia.
Editor: Tata.
0 Comments