Di Pidato Nobel Sastra-nya, Bob Dylan Bingung Kenapa Lagu-lagunya Dianggap Sastra


Satu hari di bulan Juni 2017 setelah menerima hadiah Nobel Sastra, Bob Dylan berpidato seperti menyanyikan balada¹. Tak tergesa, seperti gumam pengelana yang baru saja tiba dari waktu yang jauh. Ia bukan penyair akademik, dan ia tahu itu. Maka ia bertanya pada dirinya sendiri—dan pada kita—dengan nada seperti dari awal zaman folk:

Bagaimana lagu-laguku bisa dianggap sastra?

Ia membuka pidato menyebut kata “sastra” tak seperti seorang dosen di kelas mata kuliah pengantar ilmu sastra yang membosankan, tetapi dengan kenangan: pada Buddy Holly² , seorang rocker yang mati terlalu cepat. Dari sana, ia berjalan ke mana-mana—seperti Odysseus yang ditendang dari satu pulau ke pulau lain oleh dewa angin.

Dylan tak ingin menjelaskan musiknya. Ia hanya ingin tahu: apa hubungan lagu-lagunya dengan sastra? Sebuah pertanyaan yang pelan-pelan dibawanya mengalir ke sungai-sungai kisah: Moby Dick, All Quiet on the Western Front, The Odyssey.

Tiga buku yang menegaskan bahwa bahasa bukan hanya milik buku, tetapi juga milik jiwa penyair yang tak tenang. Dylan mengingat, bahwa dari bangku sekolah dasar, ia sudah diberi buku-buku itu—dan bahwa dari situlah, “tema-tema besar” menyusup ke lagunya.

Saya membayangkan Dylan muda membaca Moby Dick. Tentang Ahab yang obsesinya begitu keras sampai ia ingin menghantam matahari jika sang matahari menghina. Saya juga membayangkan Dylan menggumamkan isi All Quiet on the Western Front—tentang anak muda yang kehilangan haknya untuk menjadi manusia karena perang.

Dan akhirnya ia menyebut The Odyssey, dongeng purba tentang perjalanan pulang yang selalu tertunda karena dunia terlalu penuh bahaya, siasat, dan angin tak tentu.

Tiga kisah ini, kata Dylan, hidup di dalam lagunya. Buku-buku bacaan yang telah ia baca sejak sekolah dasar memberinya cara melihat kehidupan, pemahaman tentang sifat manusia, dan standar untuk mengukur sesuatu.

The themes from those books worked their way into many of my songs, either knowingly or unintentionally. I wanted to write songs unlike anything anybody ever heard, and these themes were fundamental”, katanya.

-N-

Yang saya suka dari pidato itu adalah Dylan mengakui bahwa tak semua karya-karya yang dibacanya itu ia paham. Tapi justru dari situ ia mulai merumuskan satu posisi yang langka dalam dunia sastra dan musik hari ini: bahwa makna tidak selalu harus dikuasai.

Ia tidak bicara sebagai seorang teoritikus sastra yang menyusun tafsir dan metode. Ia tidak menjelaskan bagaimana struktur alegori atau metafora bekerja. Ia hanya bilang: “I don’t have to know what a song means.” Dan ia menegaskan, “If a song moves you, that’s all that’s important.

Dan di titik itulah, pidatonya menjadi semacam manuver elegan—dan radikal—untuk meruntuhkan taktik pembacaan yang kaku. Lagu-lagu, seperti puisi, mungkin tidak selalu untuk dipahami secara logis, melainkan untuk dirasakan, bahkan dihirup seperti bau musim di pagi hari.

Dylan memberi contoh Melville yang memasukkan segala sesuatu ke dalam Moby Dick—Perjanjian Lama, teori ilmiah, doktrin Protestan, pengetahuan kelautan, mitologi pagan—dan dengan santai ia berkata: “I don’t think he would have worried about it either – what it all means.

Kita lalu dibawa ke satu baris puitis dari John Donne³:

The Sestos and Abydos of her breasts. Not of two lovers, but two loves, the nests.”

Dylan mengaku tak tahu maknanya. Tapi ia tahu satu hal: kalimat itu indah. Dan bagi seorang penulis lagu, keindahan bunyi adalah napas pertama yang memberi hidup pada lirik.

Dalam kalimat itu, ritme dan resonansi lebih penting daripada arti literal. Dan inilah yang sering dilupakan oleh para pembaca yang mencari pesan: bahwa puisi—dan lagu—sering kali lahir dari getaran, bukan kesimpulan.

Dengan kata lain, Dylan mengajukan semacam etika artistik yang lembut—sebuah pengakuan bahwa karya seni tidak selalu tunduk pada penjelasan. Dan justru dalam ketidaktundukan itu, lagu-lagu bisa menjadi liar, bebas, dan menyentuh hal-hal yang tak bisa dijangkau logika.

Seperti Odysseus yang tersesat berkali-kali di laut, Dylan juga membiarkan lirik-liriknya tersesat: masuk ke dalam tema perang, cinta yang dingin, revolusi, agama, pengkhianatan.

Tapi tak satu pun dari itu ia ikat dengan penjelasan final. Ia hanya menulis. Ia hanya mendengar. Lalu ia serahkan kepada kita—pendengar yang juga pengembara dalam pencarian kita sendiri.

Dan karena itu, kita bisa berkata bahwa pidato Nobel Dylan, sebagaimana lagu-lagunya dan sebagaimana film A Complete Unknown, bukan soal “pengetahuan” dalam arti modern. Tapi lebih mirip dengan tradisi lisan: semacam pengetahuan yang hidup dalam bunyi, bukan dalam teori. Sebuah nyanyian yang tak selesai ditulis, karena yang terpenting bukanlah akhir kisah, tapi bagaimana ia terus berpindah dari mulut ke mulut, dari ruang konser ke kepala orang yang tak bisa tidur.

Kalau Homer berkata, “Sing in me, O Muse,” maka Dylan menambahkan satu hal: “...dan jangan tanya kenapa.
-N-

 
Encyclopaedia Britannica mencatat Buddy Holly sebagai salah satu pelopor musik rock and roll yang berpengaruh, dikenal karena menggabungkan unsur country, rockabilly, dan rhythm & blues dalam karyanya, serta perannya dalam membentuk format band modern yang kemudian diadopsi oleh The Beatles dan Bob Dylan.


John Donne (1572–1631) adalah seorang penyair dan imam Gereja Anglikan, dikenal sebagai poet-priest dalam sejarah sastra Inggris. Ia hidup sezaman dengan William Shakespeare (1564–1616), dan karyanya merefleksikan peralihan dari gaya puisi Renaissance ke bentuk spiritual yang kompleks dan meditatif. Selain menulis puisi metafisik yang mendalam, ia juga menjabat sebagai Dekan St. Paul’s Cathedral di London.


Penulis: Pejalan Larut, pembaca sastra.
Editor: Via Diah Ayu Putri 


Post a Comment

0 Comments