Sore itu hujan tak kunjung reda. Wifi di rumah tiba-tiba mati tanpa sebab yang jelas. Mungkin PLN sedang bermain lompat tali dengan kabel komplek rumahku. Aku harus segera mencari ruang kerja baru. Pekerjaan ini harus selesai hari ini juga!
Aku teringat sebuah kafe di samping jembatan. Tempat itu lumayan sepi. Aku memang belum sempat memetakan area sekitar komplek, tapi kupikir akan lebih baik mencari lokasi yang jauh dari hiruk pikuk orang-orang. Jangan sampai penyamaranku terbongkar!
Seperti kafe pada umumnya, aroma kopi langsung menyeruak begitu aku masuk. Ada jejak tipis vanila bercampur tepung, menempel hingga ke dinding. Dari balik bar, asap tipis mengepul, disedot ke cerobong hitam yang kusam. Pandanganku menyapu kursi-kursi besi yang tertata rapi, hingga akhirnya jatuh pada barista yang sejak aku datang menatapku tajam, seolah menuntut segera memesan.
"Kopi hitam, satu. Tanpa gula."
"Toraja, Ijen, atau Gayo?" tanyanya dingin, datar, tanpa intonasi ramah mirip denganku.
"Toraja."
"Siap, Komandan. Silakan masuk lewat pintu merah di bawah tangga. Pesanan Anda akan kami antar."
Sekejap, raut wajah barista itu melunak, sedikit lebih ramah. Aku menurut saja meski bingung, kenapa diarahkan ke pintu merah? Mungkin ruang khusus perokok? Tapi, apakah tampangku seperti perokok? Rasanya tidak.
Pintu itu terletak tepat di bawah tangga. Tingginya lebih rendah dari pintu biasa, mudah terlewatkan karena warnanya menyatu dengan dinding merah.
"Yank, kapan balik ke Blitar?" Suara seorang pria tua terdengar berisik, menelpon dengan mode pengeras suara. Satu ruangan dipaksa mendengar obrolannya.
Aku melangkah masuk. Ruangannya berbeda: dinding dilapisi peredam, lampu temaram, dan cat dibiarkan polos. Alih-alih sepi, suasana di sini lebih ramai mirip bar besar yang jadi tempat nongkrong orang-orang kaya.
"Belum tahu, Sayank. Masih ngawasin anak-anak demo. Tunggu uang dari bos cair, biar demonya cepat reda. Sabar ya," sahut si Pria Tua itu, tetap saja ribut.
Aku berputar, penasaran ingin melihat wajah tololnya.
"ITU TARNO! SI ANJING!" teriakku dalam hati, panik, buru-buru menjauh.
Sutarno van Bleachi, alias Tarno. Targetku berikutnya. Intel yang sudah 15 tahun bersarang di kepolisian. Pemain licik, punya bisnis togel, dan karaoke tenar di Pacitan, kota kelahirannya. Ia juga penadah motor curian sekaligus mafia tanah di wilayah Tapal Kuda. Dikenal kebal hukum. Dengan jaringan seluas itu, tabiat bejatnya selalu aman.
"Btw Mas, gimana istrimu? Kapan kamu cerai, Mas? Setahun lo aku nunggu. Kamu serius enggak, sih, sama aku?" Suara perempuan dari seberang telepon terdengar manja.
"Iya serius, Sayank. Ya ampun, kalau kangen pasti bahas itu-itu lagi. Sabar yaa ...."
"Hmm, iya deh. Jangan lupa hapus riwayat telfonnya biar nggak ketahuan istri. Love you, Tarno sayank."
"Love you too, Idah sayank."
Aku muak. Si Tarno lalu bergumam sendiri setelah menutup telepon. "Ah, aku kangen Idah, tapi rumah warisan istriku belum juga laku. Sekarang aku harus buka blokiran LC si Susi, siapa tahu bisa menemaniku malam ini."
Sialan! Urat malu orang ini sudah benar-benar putus. Biadab. Aku harus segera menyusun rencana untuk membunuhnya.
Tak lama, kopi pesananku datang. Tapi tiba-tiba, sekujur tubuhku terasa dingin ....
Penulis: Dimas Baskoro, pekerja serabutan profesional yang sedang menunggu waktu untuk tidur.
Editor: Mei Nurwanda.
0 Comments