"Enggak ada buku yang mau dibawa?" tanya Ayah ketika aku hendak berangkat.
Mungkin ia heran melihat tasku kosong tanpa satu buku pun.
Sejak pulang ke rumah, aku memang berniat membawa beberapa buku kembali ke kos. Terutama kumpulan cerpen. Aku kangen pada buku-buku bagus yang pernah kubaca. Membaca ulang buku yang kusukai sudah jadi kebiasaan. Apalagi setelah Julio Cortázar, cerpenis brilian asal Argentina, menyebutnya sebagai hal yang wajar.
Aku meraih dua buku dari rak yang sesak itu. Pertama, kumpulan cerpen Cerita-cerita Bahagia, Hampir Seluruhnya karya Norman Erikson Pasaribu. Kedua, Galat di Ujung Galaksi karya Etgar Keret, penulis asal Israel.
Ayah menatapku dalam diam, lalu bertanya, "kok kamu baca penulis queer?" Nada suaranya seperti tak tahan menyimpan tanya.
"Bukan masalah queer-nya, Yah. Ceritanya emang bagus-bagus. Buku ini bahkan masuk nominasi penghargaan sastra di Inggris."
Ayah terdiam. Tahu apa dia soal penghargaan sastra di Inggris?
Lalu ia bertanya lagi, “kamu baca penulis zionis juga?"
Aku mendesah kesal. "Etgar Keret? Kok Ayah tahu dia penulis Israel?"
Ayah bukan pembaca fiksi. Rak bukunya penuh dengan buku nonfiksi. Terakhir kali ia minta kubelikan buku--sekarang memang akulah yang lebih sering membelikanya--dia meminta Menjerat Gus Dur karya Virdika Rizky Utama. Ayah sangat mengagumi Gus Dur. Koleksi biografinya tentang Gus Dur cukup banyak. Aku jadi teringat Gus Dur pernah bikin geger karena berkunjung ke Israel.
"Kemarin sempat ngecek rak bukumu sebentar," jawabnya ringan.
"Kalau emang bagus? Iya, kan? Dia juga sering protes hentikan perang, kok."
Ayah kembali diam. Aku tahu, ia tidak punya jawaban lagi.
"Ya sudah, hati-hati." Akhirnya obrolan itu selesai.
Sebenarnya aku ingin bilang: Emang bener Ayah lah yang ngenalin aku ke buku, tapi jangan ngatur-ngatur buku apa yang mesti kubaca.
Namun, kalimat itu kutelan. Aku hanya menjawab datar, "iya", lalu mencium tangannya dan berangkat.
Penulis: Hilmi Baskoro, pembaca cerita pendek dan novel.
Editor: Mei Nurwanda.
0 Comments