Di Kotamu, Tuan
Aku kembali ke kotamu, Tuan
Rintik hujan yang berjatuhan,
pada lampu-lampu kota malam
Kuning jingga emas
Menyatu bak senja pantai selatan
Kita, menerjang hujan kala sore itu
Aroma jalan aspal saat hujan
Aroma tubuhmu dari belakang
Dua hal teramat kusuka
Jaketmu yang membalut tubuhku
Dan memelukmu dari belakang
Dua hal yang membekas pilu
Tatapanmu padaku melalui kaca spion
Tatapanku padamu membalasnya
Dua hal yang terkenang di jalanan itu
Aku kembali ke kotamu, Tuan
Para pedagang kaki lima,
yang saling melontarkan semangat
Suara wajan, panci, konser pun
dimulai dengan api membakar
Andai kata, kala itu, Tuan mengajak diri ini
Bersimbah duduk manis,
menikmati sajian angkringan nasi pinggir jalan
Mungkin saja, aku tidak akan bertahan pada memori kala itu
Bersama Tuan, dada ini masih sesak tak karuan
Debar jantung yang tak lagi seirama, tangan mengepal kuat
Berusaha tuk sekali lagi
Melewati memori rintik-rintik hujan
Yang tak lagi menenangkan
Hanya sakit, begitu perih
Aku kembali ke kotamu, Tuan
tapi bukan lagi jiwa ini kembali
Hanya raga kosong, tatapan
yang jenuh untuk rasa bersalah
Kehangatan punggungmu
Hanya membakar dada ini
Tuan, aku tak lagi bersamamu
Andai kata, kala itu, Tuan menarikku
kembali pada memori bersama
Aku tak lagi sanggup tuk membersamaimu
Biar aku kembali ke kotamu sekarang
Izinkan kutinggalkan sesak ini
Di kotamu, Tuan
Aku tak lagi membawanya
Cukup, cukup di kota ini, Tuan
Biar kota ini menjadi pemakaman
Bagi memori kita, kala itu
Penulis: Naura Syifa Salsabila, wanita berkacamata pink dan pecinta minuman kafein yang terkadang gabut menulis unek-unek di notes handphone.
Editor: Via Diah Ayu Putri.
0 Comments