Aku Sebuah Toples

 
 

Sudah lewat pukul dua belas, tetapi denting sendok tiba-tiba mengaburkan senyap. Pandanganku agaknya terdistorsi karena tak kusangka masih ada yang terjaga pula larut malam begini. Bu Pon terlihat pelan-pelan berjongkok dengan susah payah. Jemarinya yang bergetar memungut dengan perlahan sendok yang tak sengaja ia senggol beberapa detik yang lalu. Dengan hati-hati, sendok ini ia angkat. Sedapat mungkin tak meninggalkan suara apapun. Ia barangkali lupa bahwa denting sendoknya yang jatuh bunyinya jauh lebih keras ketimbang suara ketika ia mengambil sendoknya dari lantai. Entah bagaimana jalan pikirannya.

Bu Pon berhasil meraih sendoknya. Ia lalu melihat sekeliling. Tak ada siapapun kecuali dirinya sendiri. Ia lalu berpegangan pada tangkai kursi di sebelahnya. Berusaha keras untuk berdiri, wanita renta ini sempoyongan menyeimbangkan posisi kedua kakinya.

Di sebelah meja dan deretan kursi, Bu Pon berhenti. Ia mengambil sebuah cangkir dari rak dekat wastafel. Ia juga meraih pintu laci atas dan berusaha mencari-cari sesuatu dengan setengah berjinjit dan susah payah. Tubuh buncitnya tak kuasa agak oleng ke belakang, tetapi untung tangannya masih sigap meraih pintu laci atas. Ia tak jadi terjungkal.

Dengan penuh semangat, Bu Pon menuju ke arahku. Aku sudah tinggi hati bahwa aku adalah hal pertama yang sesaat lagi ia tuju. Sayangnya, aku salah. Wanita ini meraih kotak teh di sebelahku. Ia memilih kantung yang menurutnya terbaik. Lama sekali. Entah atas dasar apa, akhirnya, setelah sekitar tujuh menit 30 detik, pilihannya jatuh pada kantung teh yang, kurasa, terlihat sama saja seperti yang lainnya. Ia lalu menuju ke arahku dengan senyum lebar yang agak aneh.

-N-

Di malam berikutnya, Bu Pon melancarkan aksi yang serupa dengan aksinya sebelumnya. Namun, kali ini ia lebih berhati-hati. Ia lebih tenang, jadi tidak ada sendok yang jatuh berdenting malam ini. Seperti sebelumnya, ia lekas-lekas mengambil cangkir dan sendok teh, lalu bergegas menuju ke arahku. Kali ini bukan kantung teh tujuan prioritasnya, melainkan aku! Duh, aku senang sekali. Nanti kalau manusia-manusia ini sudah tertidur, kutebak akan ada banyak sorai dan tepuk tangan untukku. Gula dipilih dulu! Ya, ampun! Tumben sekali! Beruntungnya  si Gula! Ya, kurasa kurang lebih begitulah bagaimana aku nanti akan dielu-elukan di seluruh penjuru dapur.

Bu Pon dengan seringainya yang khas sudah sampai di hadapanku. Ia meraihku dan bersiap membuka tutupku. Sayangnya, tiba-tiba terdengar suara langkah semakin mendekat.

“Lho, Bu? Sedang apa malam-malam begini di dapur? Ibu tidak bisa tidur?” tanya Eko, anak semata wayangnya. Matanya ia gosok-gosok. Masih tak percaya ibunya sedang di sana tengah malam begini.

“Eh? Anu, ini, hm ... ya, sebentar lagi tidur.” Bu Pon urung membuka penutupku. Dengan perlahan ia meletakkanku kembali ke tempatku berasal. “Ibu mau cuci cangkir ini sama sendok. Sepertinya ada yang lupa belum mencucinya.” Wanita berambut uban ini lekas-lekas mencuci cangkir dan sendok yang tidak kotor.

“Oh. Tadi aku yang pakai untuk membuat kopi, tapi sepertinya sudah kucuci.” Eko menjawab.

“Entahlah. Ini tadi Ibu menemukannya di sini.”

Lelaki paruh baya ini tampak curiga, tetapi kantuk terlalu menguasainya, “Baiklah. Eko ke kamar dulu, ya, Bu. Ibu lekaslah beristirahat,” pintanya sambil berlalu setelah meraih sebotol air dingin dari dalam kulkas.

“Ya, ya.” Bu Pon masih sibuk mencuci cangkir dan sendoknya lagi dan lagi. Sejurus kemudian, ia berhenti. Ia terlihat menyimak sepi di sana-sini. Berusaha memastikan apakah anaknya kembali untuk memergokinya atau tidak.

Eko takkan kembali.

Cepat-cepat Bu Pon meraihku dan membuka penutupku. Tak repot-repot mencari cangkir lain yang masih kering, ia mengambil tiga atau empat sendok teh gula dari dalamku dan menuangkannya ke cangkirnya yang masih basah. Dengan sembarangan ia mengambil satu kantung teh dan menuangkan air panas dari teko yang telah disiapkannya tadi. Ia lalu menuangkan air dingin untuk membuatnya lebih enak diminum dalam waktu dekat. Tanpa ambil pusing, dengan perlahan tapi pasti, Bu Pon mengaduk cangkirnya dan meminum teh manisnya dalam empat kali teguk. Ia lalu letakkan cangkir dan sendoknya di bak cuci piring. Beberapa detik kemudian, ia sudah menghilang. Kejadian malam itu rasanya cepat sekali.

-N-

Tak ada Bu Pon di beberapa malam berikutnya. Di siang hari pun, wanita sepuh ini nyaris tak terlihat. Sesekali ada Eko dan kucingnya yang kadang terlihat melintas di area dapur. Eko lebih terburu-buru dibanding hari-hari biasanya. Ia nyaris tak pernah menghabiskan waktu di dapur sama sekali. Kucingnya saja bingung dan lemas karena sudah berhari-hari tidak mendapatkan jatah makan yang layak. Hewan ini sesekali menunggu kemunculan tikus dari balik laci bawah, tetapi karena kemampuan berburu yang tak cukup baik, ia agaknya lebih banyak gagal ketimbang berhasil. Hanya kecoak-kecoak barangkali yang menjadi makanan ringan yang ia harapkan dapat mengganjal perut kecilnya. Selain itu, tak tampak suatu kehidupan di sana selama beberapa pekan berikutnya.

-N-

Sekitar tujuh pekan sejak terakhir kali Bu Pon ke dapur, akhirnya Eko datang. Ia bergegas ke dapur dengan panik dan wajah muram, lalu pergi lagi. Sesaat kemudian, datanglah segerombolan manusia lain yang kurang kukenal. Mereka memeriksa persediaan bahan makanan yang ada, gas, kompor, hal-hal di dalam kulkas, dan sebagainya. Pokoknya mereka sibuk sekali. Sebagian besar ada raut serupa yang tampak dari mereka: terlihat bersedih.

Sesekali Eko datang sambil beriras agak bingung dan tergesa-gesa, lalu menghilang lagi. Terus terjadi seperti itu hingga beberapa hari setelahnya. Kemudian ada jeda beberapa hari yang lain di mana Eko sama sekali tak tampak batang hidungnya. Warga dapur bahkan menyangsikan apakah Eko masih di sana atau tidak. Lalu, Bu Pon bagaimana? Bu Pon sebenarnya di mana, ya?

-N-

Sekitar 13 hari setelah keramaian orang-orang yang berlalu lalang, Eko akhirnya menampakkan batang hidungnya. Tak seperti sebelumnya dengan muka muram dan penuh ketergesaan, Eko terlihat lebih aneh: pandangannya kosong.

Dengan lunglai, ia menuju ke rak dan mengambil cangkir serta sendok teh yang biasa ibunya gunakan. Ia lalu melakukan hal yang sama: mencuci cangkir dan sendok yang masih bersih.

Eko mencucinya sekali. Dua kali. Tiga kali. Lalu, terhenti.

Kakinya lemas. Ia jatuh perlahan di lantai. “Ibu ....Lelaki ini merangkul cangkir dan sendoknya yang masih basah sambil meringkuk di lantai dapur yang dingin. 

“Eko rindu, Bu.”

Di tengah lampu temaram yang suram, air matanya lamat-lamat menganak sungai. 
 
PenulisHidayaty El Dina. Di malam-malam senyap, sesekali (@eldinaeld_) membenamkan diri dalam kisah-kisah janggal di kepalanya. Sesekali ia membaginya juga di penandpiano.wordpress.com.

Editor: Via Diah Ayu Putri .

Post a Comment

0 Comments