Hampir setengah anggaran Perpustakaan Nasional dipangkas – ‘Kami mati segan, hidup pun tak mau’
Headline berita pagi ini membuat banyak kepala menjadi pening. Demi bangunan koperasi dan makan gratis, mereka rela memotong anggaran yang seharusnya mampu membantu daerah terpencil untuk mendapatkan akses literasi yang memadai. Sudahlah pendidikan hanya menjadi prioritas pendukung, sekarang alokasi untuk membaca pun dipenggal.
—
Satria memijat pelipis dengan buku jarinya meski tak merasa pusing. Setelah membaca headline berita hari ini, rasanya ia ingin mengeluarkan segala kata-kata mutiara yang sudah lama ia tahan. Berita yang mengatakan bahwa anggaran Perpusnas dipangkas adalah hal yang bisa Satria prediksi dari rezim presiden periode ini, tetapi sebagai pekerja perpustakaan daerah, tetap saja ia merasa dongkol. Pria dengan rambut hitam yang tersisir rapi itu menghela napas, mengalihkan pandangan dari layar komputer di hadapannya untuk mengerjakan hal lain. Ia memilih membereskan buku-buku yang baru saja selesai dipinjam hari ini, lantas mengangkutnya dengan troli.
Perpustakaan daerah ini memang kecil jika dibandingkan dengan perpustakaan kota, tapi Satria yakin koleksi bukunya tidak kalah lengkap. Ia bisa membanggakan dirinya karena selalu rajin meng-update koleksi buku yang tengah digandrungi orang-orang, dan itu semua berkat bantuan dari Perpusnas yang secara teratur memasok buku ke tempatnya bekerja. Sekarang dengan berita yang tengah menjadi topik panas, Satria harus memutar otak bagaimana cara mendapatkan stok buku terbaru agar warga dapat mengaksesnya dengan mudah.
Ada sedikit cerita mengapa Satria amat getol untuk selalu menyediakan buku anyar. Sang senior bercerita tentang seorang remaja yang datang ke perpustakaan dengan menggebu-gebu, seperti tak ada remaja lain yang datang ke sini. Sebagai pegawai baru, Satria cukup penasaran dengan wajah si remaja yang menjadi topik hangat karena tak ada seorang pun yang tahu siapa namanya.
Di suatu pagi pada akhir bulan kedua, sang senior menyikut lengannya pelan. Menunjuk pada seorang pemuda dengan perawakan tinggi semampai, rambut cokelat terang, dan fitur wajah yang seperti seorang blasteran. Satria berdiri, entah kenapa ada dorongan pada dirinya untuk mendekati remaja tersebut. Langkahnya terhenti ketika jarak mereka cukup aman bagi Satria untuk memantau. Ia tertegun sejenak saat melihat pemuda itu mengambil buku pelajaran SMP kelas satu. Tak pernah—jarang sekali, mungkin satu atau dua kali—ia menemukan pelajar SMP yang masih mau mengunjungi perpustakaan daerah. Namun, yang membuatnya bertanya-tanya adalah apa yang dilakukan seorang remaja sepagi ini, di mana seharusnya pelajar seperti dia berada di sekolah.
Kemudian pada hari berikutnya, Satria yang tengah mengembalikan buku sesuai nomor serinya menemukan remaja tersebut sedang terdiam di depan rak dengan subjek buku pelajaran SMP. Wajahnya dari samping terlihat kebingungan, entah apa yang ada di pikirannya. Namun Satria enggan untuk mengganggu, dan lebih memilih untuk kembali menyusun buku-buku. Tidak lama setelah itu, sebuah suara menginterupsinya. “Permisi.”
Pria dengan tinggi 182 sentimeter tersebut menoleh untuk melihat siapa yang menegurnya. “Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya sedang mencari buku materi sejarah, tapi saya nggak bisa menemukannya. Tempatnya terpisah, ya?” tanya remaja itu dengan hati-hati.
Satria mengangguk, membenarkan bahwa tempatnya memang terpisah. “Mari saya antar,” katanya sembari berjalan menuju rak tempat buku tersebut tersimpan, dengan diikuti oleh si remaja. Kesempatan untuk berkenalan itu tidak dilewatkan oleh Satria. Ia pun bertanya, “Siapa namamu?”
“Kamil.”
“Kenapa jam segini sudah ke perpustakaan? Nggak sekolah?” Suasana terasa berat ketika tidak ada jawaban dari si remaja. Satria menoleh dan mendapati Kamil menunjukkan wajah sendu. Ia gelagapan, mulutnya terbuka lalu tertutup lagi, mencoba mencari kalimat yang tepat untuk menyelamatkan situasi. Belum sempat Satria menemukan suaranya, Kamil lebih dulu berbicara, “Saya putus sekolah karena harus membantu ibu.”
Satria tak pernah merasakan gejolak amarah di hatinya sebesar saat ini. Rezim kali ini yang mengelompokkan pendidikan ke prioritas pendukung tidak hanya memengaruhi guru dan sekolah, tetapi murid yang tak mempunyai biaya pun harus memupus mimpinya karena ekonomi. Dan rintangan bagi masyarakat kurang mampu tidak berhenti sampai di sana.
“Kenapa kamu nggak mengajukan bantuan? Bukannya pasti dapat?” Satria akhirnya mendapatkan kembali suaranya, wajahnya terlihat bersimpati.
“Sudah. Tapi kata ibu, kuota untuk bantuan orang miskin sudah penuh.”
Tidak mungkin, Satria menjawab dalam hati. Pasti ada oknum nakal yang mengakali agar kolega terdekat bisa mendapatkan bantuan tersebut meski sebenarnya mereka tidak berhak. Praktik korupsi tidak hanya terjadi di kalangan pejabat negara. Satria amat paham akan hal itu. Lantas apa yang harus ia lakukan untuk membantu remaja yang kehilangan akses belajarnya ini?
“Buku yang kamu cari ada di sini.” Satria berhenti di rak yang berisi jajaran buku sejarah.
“Terima kasih, Pak, eh, Mas.”
Satria tersenyum gemas, tangannya terulur untuk mengusap pelan rambut Kamil. “Cari aku kalau kamu butuh bantuan lagi.”
Meski merasa getir karena remaja yang masih berumur sekitar 15 tahun ini harus merasakan ketidakadilan, Satria harus bersikap profesional. Dia akan memikirkan bagaimana cara membantu Kamil ke depannya. Seharusnya ini peran pemerintah, bukan peran Satria yang hanya seorang pegawai, untuk memberikan akses pendidikan yang mudah agar masa depan anak-anak tidak terputus di tengah jalan.
“Sebenarnya…” Kamil kembali membuka mulut, tetapi tidak segera melanjutkan ucapannya. Hanya gerakan ragu-ragu yang Satria tangkap. “Saya minta untuk dibantu belajar. Kalau Mas nggak keberatan.”
“Aku nggak keberatan sama sekali buat membantumu belajar.” Satria akhirnya memutuskan bahwa inilah bantuan pertama yang bisa ia berikan untuk Kamil. Satria bisa merasakan bahwa Kamil adalah remaja pintar yang sayangnya harus memupus mimpinya. Namun apa daya, pemerintah lebih memilih melanjutkan makan gratis dan bangunan koperasi yang entah apa gunanya dibandingkan memprioritaskan pendidikan.
“Terima kasih, er—”
“Satria. Panggil Mas atau Bapak juga nggak masalah.”
“Terima kasih, Mas Satria!”
“Jadi, kamu mau belajar apa dulu?” tanya Satria sembari merangkul Kamil. Ini langkah kecilnya untuk berperang melawan ketidakadilan kebijakan pemerintah atas masyarakat kurang mampu dan dirinya sendiri. Walau dia tak yakin akan masa depannya, setidaknya sebongkah berlian ini harus memiliki masa depan yang cerah. Secerah sinar matahari yang menghangatkan dua insan di perpustakaan kecil ini.
Penulis : Frida Nur Wiranti
Kurator : Afiyah Nur Kamilah
Editor : Anis Nurhidayah

luv ittt
ReplyDelete