Beranjak Sebentar dari Rengkuhan Kapitalisme



Kapitalisme, secara sederhana, adalah sistem ekonomi yang memuat instrumen produksi dan objek konsumsi sebagai kepemilikan dan kekuasaan pribadi (Piliang, Y. A., 2017, p. 10). Pemikiran kapitalisme yang mencapai titik nadir pada pemikiran Adam Smith setidaknya memiliki dua mantra utama, yaitu kepemilikan pribadi (individualisme) dan pasar bebas. Individu yang memiliki hak milik pribadi atas modal dan alat berusaha meraih kekayaan sebanyak mungkin dalam arena pasar bebas dengan melawan individu lain yang memiliki hak pribadi serupa atas modal dan alat. Inilah instrumen kapitalisme klasik dalam pengertian sederhananya. Model ini memberi kebebasan dan hak yang sama bagi setiap orang untuk berusaha, tetapi lupa bahwa meski setiap orang memiliki kebebasan dan hak yang sama, setiap orang memiliki kapasitas serta jumlah modal dan alat yang timpang jumlahnya. Hal inilah yang menyebabkan ketimpangan dan memeroleh kritik dari Karl Marx hingga melahirkan pemikiran yang mendunia. 

Pada abad ke-20, terutama di Eropa, berkembang sebuah gaya kapitalisme yang dikenal dengan sebutan kapitalisme monopolis. Mazhab Frankfurt mendefinisikan kapitalisme monopolis sebagai tahap ketika usaha-usaha atau perusahaan-perusahaan besar menguasai pasar, mengatur, menentukan harga, dan menyingkirkan usaha-usaha kecil (Sindhunata, 2021, p. 40). Kapitalisme monopolis cenderung menghapuskan pasar dan dinamika persaingan bebas. Pasar bebas dalam kapitalisme liberal telah dihapus oleh kontrol perusahaan-perusahaan besar. Pergeseran ini merupakan konsekuensi logis dari konsep kapitalisme, bahkan dari bentuknya yang paling awal. Perlahan, kapitalisme monopolis juga beralih menjadi kapitalisme negara. Para kapitalis memanfaatkan negara sebagai aparat yang efektif untuk mengatur gerak perusahaan dan modal mereka. Merekalah yang kini sering disebut oligarki atau “taipan-taipan”. 

Gelombang kapitalisme ini tidak dapat dibendung dan terbawa arus globalisasi di era digital. Bahkan, dapat disebut bahwa globalisasi merupakan efek ekspansif kapitalisme. Runtuhnya Uni Soviet sebagai ideologi tandingan kapitalisme semakin menambah kayu dalam tungku produksi kapitalis. Tiadanya alternatif narasi atau ideologi dewasa ini, memunculkan bentuk yang disebut Antonio Negri dan Michael Hardt sebagai The Empire. The Empire dirumuskan oleh dua orang, Antonio Negri dan Michael Hardt. Antonio Negri lahir di Padua, Italia pada 1 Agustus 1933. Negri mempelajari filsafat dan menjadi Profesor Filsafat Politik di Universitas Padua. Tulisan Negri didominasi oleh marxisme sebagai topik utamanya. Aktivitas Negri bukan hanya mengajar di kampus, tetapi juga aktivisme dan terjun ke lapangan bersama para buruh. Sementara rekan Negri, Michael Hardt, lahir pada 1960 di Maryland, Amerika. Hardt awalnya belajar teknik dan tertarik pada energi alternatif sebagai cara berpolitiknya. Pada 1983, Hardt mempelajari sastra perbandingan (comparative literature) di Universitas Washington dan mulai menerjemahkan buku yang ditulis oleh Negri tentang Baruch Spinoza. Hardt bertemu Negri di Paris pada 1986 untuk membahas penerjemahan. Antonio Negri bersama Michael Hardt kemudian merumuskan konsep tentang The Empire yang dimuat dalam buku berjudul Empire (2000), dilanjutkan dengan Multitude: War and Democracy in the Age of Empire (2004), dan diakhiri dengan Commonwealth (2009).

Negri dan Hardt menyebut The Empire sebagai implementasi kekuasaan yang menguasai, mengendalikan, dan mengatur kehidupan secara penuh melalui komunitas (negara) dan individu (pribadi). Konsep itu kemudian disebut biopower (Djunatan, S., 2013, p. 150). Kenyataan kapitalisme monopolis dan kapitalisme negara, baik pada tingkat lokal maupun global, menunjukkan bahwa tidak ada lagi komunitas atau pribadi yang beraktivitas di luar tatanan politik dan ekonomi pada saat ini. Akibat dari semua itu adalah orientasi hidup manusia yang dipusatkan hanya pada uang untuk akumulasi yang tiada akhir. Kekuasaan yang mencengkeram ini membuat manusia tidak bisa lagi berpikir dan bertindak di luar tatanan yang ada, bahkan mereka tidak tahu bahwa sebenarnya ada tatanan yang lain. Biopower—bagi Negri dan Hardt—mengikuti Michel Foucault, berakar dari peralihan masyarakat disiplin ke masyarakat kontrol (Djunatan, S., 2013, p. 149). Dalam model masyarakat disiplin, institusi dan aparat berperan untuk mengendalikan, mengatur, dan menata kehidupan masyarakat sehari-hari. Sementara dalam masyarakat kontrol, mekanisme pengendalian berasal dari diri masing-masing orang dan kelompok yang membadan (interiorized) dalam kesadaran. Kesadaran yang bersumber dari kapitalisme dan menghasilkan The Empire ini merupakan bentuk dari biopower. Lebih lanjut, biopower telah menjadi ontologi sosial saat ini. 

Sistem kapitalisme yang demikian mencengkeram memunculkan antitesisnya sendiri dengan berusaha keluar dari sistem tersebut dan menciptakan tatanan baru. Melalui kreativitas, muncul Immaterial Labor yang ditandai dengan pekerjaan yang menyentuh aspek afektif manusia. Manusia dalam sisi afektifnya, tidak menjadi mesin penggerak dari The Empire, tetapi mendobrak dominasi tersebut. Immaterial Labor mendobrak tatanan sistem kerja yang kaku, dan menciptakan jejaring sosial, sikap kooperasi, serta kolaborasi. Negri menyebut jalinan interaksi ini sebagai The Multitude atau ‘yang banyak’ (Djunatan, S., 2013, p. 153–154). Beberapa di antara mereka yang berada dalam ranah pekerjaan imaterial, bekerja dalam pelayanan di bidang pengetahuan. Mereka yang bekerja dalam ranah ini membangun jejaring sosial dan bermain dalam arena permainan penguasa dengan menggunakan strategi biopolitik. Jejaring yang memiliki banyak sisi afektif dan kreativitas inilah yang mampu “menggonjang-ganjingkan” tatanan yang merusak pendidikan dan keilmuan di tengah cengkeraman kapitalisme saat ini. 

Secara nyata, Immaterial Labor sebagai individu yang sadar mengikuti permainan The Empire, mulai berjejaring, berkomunikasi, dan bertukar afeksi di antara sesamanya dalam komunitas literasi serta seni lokal di sudut-sudut kota. Relasi sosial baru ini memang mengatasi sekat kelas-kelas sosial yang diciptakan oleh kekuasaan The Empire sekaligus mengeluarkan dari cengkeramannya. Namun, apakah sekelumit gerak ini benar mampu “menggonjang-ganjingkan” tatanan itu? Menurut Slavoj Zizek, “Lebih mudah membayangkan musnahnya seluruh kehidupan di muka bumi ini ketimbang sebuah perubahan radikal sekelumit saja atas kapitalisme.” Jawaban singkat yang bisa diberikan adalah tidak, tetapi patut dicoba. Meski The Empire sedemikian merengkuh kehidupan, setidaknya kita masih menjalin afeksi di antara sesama. 


Referensi:

Djunatan, S. (2013). Antonio Negri: Revitalisasi “kultur silih berbagi”. MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR), 29(2).         https://doi.org/10.26593/mel.v29i2.893.144-162  

Piliang, Y. A. (2017). Dunia yang Berlari. Cantrik Pustaka. 

Sindhunata. (2021). Dilema usaha manusia rasional, teori kritis sekolah Frankfurt Max Horkheimer & Theodor W. Adorno. Gramedia Pustaka Utama.



Penulis: Bahrul Ulum
Kurator: Oca
Editor: Zanneta Rahma Mulia  

Post a Comment

Previous Post Next Post