Membaca Makna Kerja Perempuan dalam Rumah Tangga pada Cengkeraman Kapitalisme

Pernahkan kita berpikir bahwa nilai kerja ibu rumah tangga sekaligus istri ditentukan oleh faktor ekonomi-politik kapitalisme? Atau pernahkah tebersit dalam pikiran kita bahwa posisi ibu rumah tangga juga memiliki peran penting dalam menopang sistem kapitalisme itu sendiri? Maka dari itu, mari kita menelusuri penjelasannya yang akan dijelaskan dalam tulisan ini.

Kerja produktif dan kerja reproduktif

Dalam bayang-bayang mode ekonomi kapitalisme modern, proses kerja diklasifikasikan menjadi dua macam; kerja produktif dan kerja reproduktif. Kerja produktif dimaknai sampai sejauh ia menghasilkan nilai tukar yang berguna bagi kepentingan pasar dan dapat dipertukarkan dengan uang. Sedangkan kerja reproduktif merupakan kerja yang dilihat sebagai penopang bagi kerja produktif, kerja yang dalam dimensi ini menghasilkan nilai guna. Kerja reproduktif bersifat privat, berada dalam skala individu atau rumah tangga dan tidak dapat dipertukarkan dengan uang.

Berdasarkan tradisi Marxis, kerja produktif memiliki subjek sendiri, yakni tenaga kerja upahan yang menjual daya kerjanya kepada pemilik modal. Pada abad 19 hingga 20-an, kerja produktif dimaknai sebagai kerja yang dijalankan oleh suami sebagai kepala keluarga. Sedangkan kerja reproduktif dimaknai sebagai kerja domestik rumah tangga yang dijalankan oleh istri selaku ibu rumah tangga. 

Keberlangsungan relasi kerja upahan berorientasi pada nilai tukar. Logika pemberian reward atau upah kerja hanya didasarkan pada kerja produktif yang memiliki dampak langsung bagi perkembangan usaha dan akumulasi kapital pemilik modal. Sebaliknya, kerja reproduktif kerap kali tersamarkan nilainya karena dianggap tidak menghasilkan nilai tukar dan hanya memiliki nilai guna dalam lingkup rumah tangga.

Padahal, pandangan tersebut sangat kontradiktif. Selain menyepelekan kerja domestik yang dilakukan oleh ibu rumah tangga, pandangan ini juga mengabaikan fakta material terkait pentingnya kerja domestik dalam menjaga keberlangsungan proses produksi dan reproduksi tenaga dan angkatan kerja yang menopang sistem kapitalisme itu sendiri. 

Kerja reproduktif ibu rumah tangga sebagai penopang kapitalisme modern

Tanpa peran ibu rumah tangga sebagai juru masak, maka angkatan kerja yang terdiri dari suami dan anak akan kelaparan dan kehilangan stamina untuk bekerja. Tanpa peran ibu rumah tangga sebagai pencuci baju, maka angkatan kerja dalam keluarga tersebut akan mengenakan pakaian kotor yang dapat menimbulkan keresahan dan masalah di tempat kerjanya. 

Beberapa perumpamaan di atas merupakan bukti pentingnya kerja reproduktif yang di dalamnya terdapat kerja domestik oleh seorang ibu rumah tangga. Kerja penghasil nilai guna yang sangat penting untuk memulihkan tenaga dan produktivitas angkatan kerja dalam suatu rumah. Tanpa itu semua, angkatan kerja akan kehilangan tenaga dan semangat kerjanya yang berdampak pada penurunan produktivitas. Dari sini, dapat dilihat bahwa peran domestik seorang ibu rumah tangga secara tidak langsung sangat krusial bagi para pelaku usaha dan pemilik modal.

Sistem kapitalisme yang kita kenal sekarang dapat terus melakukan reproduksi ulang mekanisme kerja upahan yang bergantung pada tersedianya tenaga kerja. Meskipun saat ini sudah banyak teknologi berupa mesin-mesin canggih maupun kecerdasan buatan (AI), teknologi tersebut tak lebih dari sekumpulan data dan seonggok mesin apabila tidak dikondisikan oleh tenaga kerja seperti teknisi dan pemrogram. Kembali lagi, hal ini menunjukkan bahwa ibu rumah tangga sebagai pekerja domestik dan angkatan kerja merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dan menjadi penopang utama kapitalisme.

Emansipasi perempuan secara sosial sebagai keharusan

Kapitalisme modern telah mereduksi kerja reproduktif perempuan sebatas kerja rumah tangga yang bersifat personal. Hal ini memisahkannya dari realitas bahwa kerja tersebut sebenarnya menopang keberlangsungan sistem kapitalisme itu sendiri. Di saat yang sama, kapitalisme menyempitkan kebebasan perempuan sebatas pemberian hak pilih dalam pemilu serta kebebasan berekspresi dan bersuara. 

Penekanan yang sebatas pada kebebasan politik individu inilah yang terus diproduksi oleh narasi kapitalisme modern guna menyamarkan eksploitasi sosial dan beban berat kerja reproduktif yang ditanggung oleh perempuan atau ibu rumah tangga. Dalam konsepsi Marx, perempuan di dalam sistem kapitalisme mengalami alienasi ganda; ia terasing dari hakikat diri dan kebebasannya sebagai manusia, sekaligus terasing dari penghargaan utuh atas jasa tenaga kerja rumah tangga yang telah ia lakukan.

Oleh sebab itu, pembebasan sosial harus berangkat dari tesis utama; rumusan masyarakat baru yang berusaha merobohkan tatanan kapitalisme dan mewujudkan sosialisme wajib menitikberatkan perubahan nasib perempuan sebagai indikator keberhasilannya. Hal ini selaras dengan pandangan Lenin dalam Negara dan Revolusi, bahwa perubahan sosial bagi kelas pekerja dan kaum tertindas tidak akan pernah berhasil selama kehidupan sosial perempuan di dalamnya tidak berubah.

Penutup

Mendalami kenyataan atas makna kerja reproduktif yang dijalankan oleh perempuan tidak cukup dengan melihatnya sebagai urusan individu dan privat semata. Lebih dari itu, hal ini perlu dilihat sebagai sesuatu yang telah dikondisikan oleh sistem kapitalisme modern. Cara pandang ini mencoba untuk membawa penalaran kita ke dalam konfigurasi ekonomi politik yang lebih luas, alih-alih menganggap problem yang dialami ibu rumah tangga sebagai persoalan rumah tangga semata. Dengan begitu, kita dapat memetakan secara lebih terstruktur bagaimana eksploitasi sosial atas perempuan terus berlangsung, sekalipun di masa kini perempuan telah memiliki kebebasan politik. Hal ini sangat penting sebagai landasan untuk merumuskan suatu strategi yang komprehensif terkait visi dan misi emansipasi sosial bagi kelas pekerja, kaum tertindas, dan perempuan itu sendiri.

Melampaui dan menumbangkan kapitalisme tidak cukup dengan melakukan kritik berupa argumen moral seperti menegaskan bahwa kapitalisme buruk dan sosialisme lebih baik. Diperlukan analisis kelas yang tajam secara akademis dan kuat secara teoritis sebagai pijakan, serta solidaritas massa dalam organisasi revolusioner yang menjadi motor perubahan sosial.

Daftar Bacaan:

https://revolusioner.org/kritik-marxis-terhadap-silvia-federici-apakah-kerja-rumah-tangga-merupakan-kerja-tidak-dibayar/

https://indoprogress.com/2026/04/prekarianisme-senjata-neoliberal-melawan-pekerja-perempuan-dan-bumi-bagian-kedua-habis/

Pribadi, A., & Gerung, R. 2026. Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z. Jakarta: Penerbit GDN. 


Penulis: Maulana Rafi Anwar
Kurator: Lian
Editor: Rugayyah


Post a Comment

Previous Post Next Post