Kemarin, aku menangis karena hujan. Loh, bukannya memang ketika hujan dan tidak ada matahari, kadar Hormon Bahagia otomatis menurun, ya? Bukan, bukan sedih yang itu. Eh, mungkin juga iya, tapi ada lagi perbedaannya.
Tahun lalu Ketika aku baru menginjakkan kaki di Jember saat musim hujan, aku mengetahui informasi tentang beberapa kawasan di Jember yang tergenang air ketika banjir, termasuk rumah Pak Walikota pada saat itu. Tapi tidak dengan akses menuju tempat kerjaku.
Nyatanya, kemarin aku harus menerjang banjir dari tempat kerja ke rumah. Mendorong sepeda motorku agar tidak mati di tengah banjir, serta terpisah dengan anak balitaku sepulangnya dari daycare karena dijemput ayahnya dan tidak bisa dihubungi. Yang bisa kulakukan hanyalah melajukan sepeda motorku sambil menangis.
Sepertinya tahun lalu tidak separah ini. Bayangkan, hanya dalam satu tahun area genangan semakin meluas, dan waktu untuk surut semakin lama. Apa yang terjadi dalam satu tahun belakangan?
Setidaknya, hanya berjarak beberapa meter dari rumahku, pepohonan yang rimbun mulai banyak berkurang dan diperuntukkan untuk membangun perumahan baru. Sayangnya, aku belum memiliki waktu lebih untuk menggali lebih dalam fakta yang dibuktikan dengan data tertulis.
Itu baru satu tahun. Bayangkan lima tahun, atau sepuluh tahun lagi!
Jujur aku tidak bisa membayangkan, dan rasanya miris mengetahui bahwa aktivitas di dekatku dapat memperparah keadaan bagi banyak orang.
Yang kuketahui baru satu, bagaimana jika masih banyak lagi orang membuka lahan untuk hal yang sama? Bagaimana jika pembukaan lahan yang lain berskala besar? Banjir Sumatera? Banjir tahunan di Jakarta? Bagaimana jika bencana ini semakin besar? Bagaimana Nasib anakku nanti?
Itulah kekhawatiranku yang membuatku sedih. Aku menyebutnya dengan istilah Climate Anxiety. Awalnya kukira itu istilah buatanku saja. Ternyata UNICEF sudah pernah menyebutkan istilah ini sebelumnya. Istilah lain adalah Eco-Anxiety. Prinsipnya sama, kekhawatiran terhadap kondisi iklim saat ini.
Anthropogenic
Dulu ketika aku masih duduk di sekolah dasar, buku pelajaranku menuliskan bahwa banjir merupakan bencana alam, atau bencana yang disebabkan oleh alam. Tidak salah juga, karena kerap kali banjir terjadi pasca hujan deras.
Tapi hujan hanya menjalankan pekerjaannya di dalam siklus air. Hujan sudah terjadi bahkan sejak kita semua lahir ke bumi. Sedangkan banjir baru terasa ketika ada manusia yang terdampak. Entah sawahnya terendam banjir, atau rumahnya, atau bahkan anggota keluarganya yang hanyut.
Berdasarkan itu, berarti sebenarnya banjir itu bukan bencana alam, kan? Banjir jelas bencana yang dibuat oleh manusia. Atau lebih tepatnya yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Seperti penebangan pohon, Pembangunan rumah di bantaran sungai, serta penghambatan jalur drainase.
Terkait alam dan pembangunan, aku teringat konsep Pembangunan Berkelanjutan, yang pada prinsipnya harus menyeimbangkan antara lingkungan, ekonomi, dan sosial. Namun aku juga ingat dosenku pernah menduga bahwa Pembangunan Berkelanjutan hanyalah buzzword yang mustahil untuk dilaksanakan.
Kabur Aja Dulu?
Apabila permasalahan lain di Indonesia dapat dihindari dengan “Kabur Aja Dulu” alias menjadi penduduk di negara yang dikelola lebih baik, kupikir tidak dengan climate anxiety ini. Pasalnya, perubahan iklim tidak hanya terjadi di Indonesia tapi seluruh dunia.
Tadi pagi aku melihat berita bahwa di pesisir barat Inggris terkena bencana Badai Chandra yang menyebabkan banjir di area sekitar. Atau kabar dari temanku di Jepang yang mengalami musim Dingin berkepanjangan.
Rasanya, tidak ada lagi tempat aman di dunia ini dari dampak buruk perubahan iklim.
Harus Apa?
Nggak tau. Sejauh ini aku hanya bisa menggaungkan isu perubahan iklim di setiap diskusi yang aku punya. Entah dalam tulisan, atau dalam dialog baik formal atau informal. Sisanya? Berharap saja semoga pemerintah, tidak hanya di Indonesia, tapi seluruh negara, mulai membuat program untuk meredakan dampak buruk dari iklim yang berubah ini.
Penulis: Inas Yaumi Aisharya, ibu-ibu yang pernah belajar sustainability.
Editor: Hilmi Baskoro