Peringatan Hari Guru: Berhenti Romantisasi Belaka!


Hai kawan-kawanku yang budiman, berhentilah meromantisasi Hari Guru. Kesejahteraan guru hari ini tak boleh hanya terletak pada titel Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Boleh saja kita merayakan apa yang sepatutnya menjadi bentuk apresiasi bagi kerja-kerja guru—tak ada yang salah dengan itu. Namun pergerakan kita tak bisa berhenti pada peringatan satu hari saja; harus dibarengi dengan gerakan perlahan tetapi pasti, serta konsisten melawan sistem yang bobrok terhadap kesejahteraan tenaga pendidik di negeri ini. 

Kita masih sering mendengar dan melihat realita pendapatan guru yang nahas nan mengerikan, sarana prasarana sekolah yang tidak merata, serta persebaran sekolah dan jumlah murid yang kerap timpang meski berada dalam satu daerah yang sama. Belum lagi stereotip dan stigma lain tentang dunia pendidikan di Indonesia yang sampai hari ini masih mengakar, membusuk, dan perlahan menggerogoti jiwa pendidikan bangsa.

Baru-baru ini kita juga mendapati berbagai opini terkait apakah menjamurnya bimbingan belajar di luar jam sekolah formal merupakan bentuk kegagalan negara dan sistem dalam menyediakan pendidikan yang bermutu.
Banyak pula permasalahan lain terkait sistem pendidikan hari ini yang semakin kompleks dan bercampur dengan berbagai kepentingan—salah satunya adalah komersialisasi pendidikan. Berbagai gerakan mandiri untuk memenuhi pendidikan anak-anak bangsa di masyarakat kini bukan lagi semata perpanjangan tangan pemangku kebijakan, melainkan cermin “masih gagalnya negara dalam mewujudkan” pendidikan yang sungguh inklusif dalam segala aspek. Maka ini adalah sebuah agitasi, yang sejatinya telah diprediksi sejak zaman-zaman usang—terkubur dan melapuk, namun tak pernah benar-benar hilang.

John Dewey, dalam bukunya School and Society, menekankan bahwa pendidikan harus bersifat demokratis dan berakar kuat dalam kehidupan masyarakat serta partisipasi aktif warga negara. Jika negara gagal menyediakan pendidikan yang layak, maka masyarakat terpaksa mengambil peran secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan pendidikan—sebuah kondisi yang sejatinya bertentangan dengan esensi pendidikan sebagai tanggung jawab bersama dalam demokrasi yang ideal menurut Dewey. Baginya, sekolah bukan institusi yang terpisah, melainkan bagian integral dari masyarakat yang mendukung perkembangan sosial dan demokrasi. Ketika negara gagal menjalankan fungsi ini, muncullah kesenjangan sosial dan pendidikan yang mendorong inisiatif mandiri masyarakat sebagai respons praktis. Ini menunjukkan kegagalan sistem pendidikan publik dalam mengakomodasi peran sosialnya untuk membangun kapasitas demokratis tiap individu. Kerja mandiri masyarakat bisa dilihat sebagai bentuk eksperimen sosial aktif, tetapi akan tetap terasa tak ideal jika menjadi satu-satunya solusi tanpa dukungan negara.

Jadi, apa yang akan Anda semua lakukan setelah romantisasi peringatan Hari Guru berlalu? Apakah mawar yang Anda berikan atau terima pada momentum kali ini akan kemudian layu dan mengering bersama cita-cita pendidikan—baik yang telah berlalu maupun yang kita impikan di masa mendatang?

Panjang umur, pejuang pendidikan.
Berbenah! Bergerak!


Penulis: Fadhilah Ayu, pembelajar sepanjang hayat. Sangat terbuka dengan berbagai isu seputar pergerakan literasi, pendidikan, dan lingkungan. Temui saya di Instagram: fa_dhilaahyu
Editor: Ahmad Galang 

Post a Comment

0 Comments