Idealisme CBEPT dan Kekurangsiapan Universitas

 

Bayangkan Anda menjadi seorang mahasiswa angkatan 2021 yang selesai sidang bulan Desember 2024, tapi hingga tulisan ini terbit Anda tidak kunjung wisuda akibat terkendala CBEPT. Setiap minggu Anda bolak-balik ke UPA Bahasa untuk memastikan jadwal dan ketersediaan kuota lantaran informasi yang minim atau simpang-siur. Anda mungkin belajar Bahasa Inggris dari nol, meskipun tiap ikut tes kurang beruntung. Akhirnya, Anda harus mengubur niat untuk lulus cepat karena adanya persyaratan ini. Terlalu banyak waktu terbuang yang mestinya dapat Anda gunakan untuk belajar menghasilkan uang.

CBEPT yang Mengadang Mahasiswa Akhir

Nasib kurang mujur mengadang mahasiswa UNEJ yang tidak ada latar belakang belajar Bahasa Inggris saat proses mendaftar wisudanya. Kelar dengan sengkarut skripsi tidak berarti hati lega sepenuhnya. Rintangan akhir yang perlu dilewati adalah CBEPT (Computer Based English Proficiency Test), ujian kemahiran berbahasa Inggris berbasis komputer yang lazim digunakan dalam konteks akademis. Tes tersebut merupakan kebijakan universitas sebagai syarat kelulusan atau mendaftar wisuda.

Sebagai informasi, tes ini diberlakukan sampai maksimal lima kali. Dua kali tes pertama dapat diikuti secara percuma, tiga kali sisanya dengan membayar tujuh puluh lima ribu per tes. Pada tes kelima akan otomatis dinyatakan lulus. Belakangan, kebijakan terbaru diumumkan, yaitu pelatihan persiapan CBEPT yang disetarakan dengan tiga kali tes dengan biaya empat ratus lima puluh ribu untuk dua puluh empat kali pertemuan dalam kurun sebulan.

Menurut Slamin, dilansir dari kanal Youtube UPA Bahasa, urgensi CBEPT diterapkan untuk kebutuhan internasionalisasi universitas. Diharapkan lulusan UNEJ tidak hanya mendapat bekal ilmu dari jurusannya, tetapi juga memiliki kemampuan berkomunikasi Bahasa Inggris, sebab tes kemampuan berbahasa Inggris sering menjadi penghambat dalam melamar kerja. Selain itu, CBEPT sejatinya merupakan kebijakan lama yang dulunya bernama EPT (tes Bahasa Inggris berbasis kertas), tetapi sempat ditiadakan saat epidemi Covid-19 melanda, kemudian dilaksanakan kembali pada 3 Februari 2025 kemarin dengan format lebih baru berdasar surat edaran 0927/UN25/TU.00.01/2024. Wakil rektor bidang akademik tersebut menepis anggapan bahwa tes ini bertujuan untuk menghambat mahasiswa wisuda.

Masalah Teknis dan Birokrasi 

Kenyataan di lapangan, benarkah tes ini tidak menghambat mahasiswa mendaftar wisuda? Sebuah berita yang diterbitkan pada 17 Februari 2025 oleh UKM Pers Binary Fakultas Ilmu Komputer mengungkapkan, terdapat upaya mahasiswa yang keberatan tentang kebijakan CBEPT dan menyuarakan keluhannya, meliputi standar minimum yang dianggap terlalu tinggi dibanding PTN lain di Jatim, sebagai perbandingan, tes Bahasa Inggris semacam ini di Universitas Malang nilai minimumnya 425. Kuota peserta per sesi yang sedikit dan tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa, serta interval antartes yang terlalu lama juga menjadi keluhan.

Untuk menjujung idealisme yang tinggi ini, setidaknya kampus perlu melakukan penyesuaian kebijakan, mulai dari perlunya memangkas interval antar tes, menyesuaikan nilai minimum seperti umumnya PTN di Jatim yang membedakan nilai minimum lebih tinggi untuk mahasiswa jurusan Bahasa/Sastra Inggris dan lebih rendah untuk jurusan selainnya, hingga menambah kapasitas lab komputer supaya kuota tiap minggu dapat bertambah.

Keluhan-keluhan di atas belum termasuk website yang sering galat saat jadwal pendaftaran tiap minggunya. Hal ini sering kali membuat interval antar tes tidak benar-benar 21 hari, melainkan paling lambat dapat melakukan tes kembali sebulan kemudian. Malanglah Anda sebagai mahasiswa akhir UNEJ yang tidak belajar Bahasa Inggris sejak dini. Jika Anda pemalas, Anda perlu tambahan waktu lima bulan untuk mendaftar wisuda seusai Anda menyelesaikan skripsi dengan payah dan terseok-seok itu. Namun, jika Anda stres lantaran orang rumah sudah kehabisan kesabaran dengan tak henti mewanti Anda supaya cepat wisuda, Anda dapat mempertimbangkan mengikuti pelatihan persiapan CBEPT untuk mempersingkat waktu, meski harus merogoh kocek dua kali lipat. Ngomong-ngomong soal merogoh kocek dua kali lipat, harusnya Anda sudah terbiasa dengan situasi sejenis ini. Banyak di beberapa tempat menerapkan birokrasi semacam ini, misalnya saat Anda ingin membuat surat lisensi berkendara yang memerlukan serangkaian ujian, Anda bisa menempuh jalan pintas dengan membayar sejumlah duit—meski agak mahal—supaya lisensi berkendara abrakadabra langsung jadi dengan sangat efisien.

Kurangnya Profesionalisme UPA Bahasa

Selain memakan waktu lama yang tidak efisien untuk lulus dari tes bahasa ini, tak sedikit mahasiswa yang mengeluh kurangnya profesionalisme lembaga UPA Bahasa sebagai lembaga yang ditunjuk universitas untuk menyelenggarakan tes ini. Hal tersebut karena minimnya akun media sosial ofisial yang dimiliki oleh UPA Bahasa yang membuat lembaga tersebut kurang informatif untuk mengabarkan perkembangan informasi resmi.

Adapun media yang digunakan UPA Bahasa untuk mengabarkan informasi hanya melalui status WhatsApp, Facebook, dan Youtube. Pertanyaannya, berapa orang mahasiswa yang disimpan nomornya untuk dapat melihat status WA UPA Bahasa? Atau, Gen Z mana yang sekarang masih main Facebook? Masa harus diberi saran bikin Channel WhatsApp, baru dibikin, sebuah inisiatif kecil yang harusnya tidak perlu menjadi bahan protes. Begitu pula untuk akun Instagram, pihak UPA Bahasa mengaku telah membuat akun Instagram tetapi tidak aktif karena keterbatasan sumber daya manusia. Sesusah apa main Instagram sehingga lebih memilih Facebook?

Pada akhirnya, idealisme yang tinggi seyogianya didukung dengan infrastruktur yang memadai-menjunjang dan sumber daya manusia yang profesional. Dengan begitu, tidak akan lagi ada keluhan kuota tes yang terbatas, website galat, milenial yang cuma bisa main Facebook, petugas yang memakai sandal dan mengenakan pakaian rumahan di kantor UPA Bahasa, serta klaim bahwa CBEPT ini tidak menghambat kelulusan dapat terdengar lebih masuk akal. Awas kena ultimate Gen Z yang mengutip Fahrudin Faiz, “Idealisme itu bagus, tapi harus diimbangi dengan kemampuan membaca kenyataan”. 

*Mahasiswa UNEJ, ofc.

Penulis: T. Nawi
Editor: Via Diah Ayu Putri  

Post a Comment

0 Comments